Surat Kasih Untuk Saudara NU-ku


Nahdhatul 'Ulama, entah kenapa aku begitu cinta dengannya. Padahal tidak seperti halnya warga nahdliyin lainnya, yang mayoritas berawal dengan kalimat " Kami Dibesarkan Ditengah-tengah masyarakat NU " atau " Semua keluargaku NU, dari mulai buyutku, kakekku, dan orangtuaku ".

Hhmmm,
Aku ya aku yang hanya di besarkan dari lingkungan yang tak begitu peduli apa etimologi dari NU itu sendiri, bahkan tidak sedikit dari keluargaku yang memilih bertaqlid dengan " Firqoh Salafi ".
Tapi aku bersyukur karena dapat diberi kesempatan oleh tuhan untuk menimba ilmu dari kyai-kyai NU, tapi kendati kyai-kyaiku adalah nahdliyin, toh tidak pernah sekalipun beliau mendoktrin imajinasiku tentang NU.

Entah doktrin siapa yang telah memicu kecintaanku terhadapnya. NU bagiku bukan hanya sebuah nama, NU bagai langit yang memayungi setiap personal yang ada di bawahnya. Dialogku tentang NU tak cukup kalau harus ku tulis di sini, tapi NU tetaplah NU, seperti rumah tangga yang kadang kalanya terjadi masalah.

Keprihatinanku lah yang memaksa untuk jari ini menari di atas teks ini. Saat ini tidak bisa di pungkiri bahwa NU bak seorang idola yang muncul dari balik panggung yang gelap dan lalu berpuluh-puluh lighting menyorotinya. Ada berbagai faktor-faktor kenapa saat ini NU tengah di soroti, salah satunya karena statment-statment sang masinis, Kang Said yang oleh sebagian pihak merupakan statment yang tak patut untuk di lontarkan. Aku cukup memperhatikan masalah ini sejak lama, dan ternyata tidak hanya sang masinis yang selalu mendapat penolakan, asisten dan tekhnisinya pun kadang turut di tolak oleh sebagian pihak. Aku sama sekali tidak prihatin akan hal itu, karena ku tahu NU bukan sebuah anak kemarin sore. Di bawah naungan NU ada personal demi personal yang memiliki kemumpunian ilmu yang sangat luar biasa, jadi kata "wajar" masih relevan untuk di sematkan dalam masalah perbedaan tersebut.

Tapi,
Ada sebuah faktor yang saat ini membuat keprihatinanku menggejolak. Berawal dari mauidzoh Abah Habib Luthfi yang mengatakan : " Jika anda tidak cocok dengan salah satu pengurus atau tokoh NU, jangan anda rusak, jangan anda hancurkan bangunannya. Tapi perkokoh NU-nya, jangan melihat individu-individunya ". Seketika aku berfikir keras tentang kata-kata beliau tersebut.
Dan pada akhirnya aku berfikir bahwa NU seperti sebuah sekolah, rumahtangga, madrasah, lembaga, atau sejenisnya.

Iya,
Sekolah mana, rumahtangga mana, madrasah mana, atau lembaga mana ? yang ketika terjadi sebuah masalah di dalamnya, ingin seluruh orang tahu bahwa di dalam sekolah, rumahtangga, madrasah, atau lembaga itu sedang terjadi masalah ? Aku rasa tidak ada, karena apa ? 

Karena pihak dari element-element di atas ingin melindungi elementnya dari pandangan orang-orang, ingat !!! ELEMENTNYA BUKAN MELINDUNGI MASALAHNYA.

Psikologi orang itu berbeda-beda, lalu bagaimana dampaknya ketika, katakanlah ada sebuah sekolah yang di dalamnya terjadi masalah dan orang-orang tahu akan hal itu. Aku yakin pasti timbul berbagai asumsi yang mau tidak mau memiliki prioritas terhadap pencitraan SEKOLAH tersebut. 

"Sekolah bagus kaya gitu kok bisa-bisanya ada masalah besar seperti itu yah ?""Gak nyangka deh padahal orang-orang di sekolah itu kelihatannya baik, tapi kok bisa ada masalah gitu ?"
"Ah aku jadi ragu memasukkan anakku kesekolah itu ?"
Mungkin itu beberapa kemungkinan asumsi yang akan terjadi di fikiran orang luar.
Lalu bagaimana NU sekarang ini ?
Kurasa tak beda jauh dengan sekolah di atas, dimulai dari cacian dan hujatan di lemparkan kepada sang masinis, asisten, maupun tekhnisinya oleh orang-orang yang anehnya mengaku nahdliyin, hanya karena berbeda pendapat. Aku mengerti bahwa perbedaan itu sebuah rahmat, tapi bukan itu yang saat ini mengganjal benakku. Melainkan prosedur menyampaikan perbedaan itu lah yang dalam pribadiku cukup memprihatinkan. Lalu dampaknya kepada masyarakat yang tidak sedikit menimbulkan asumsi bahwa, "kok bisa-bisanya ulama' sepuh NU memilihnya sebagai ketua ?", "NU yang sekarang kok jadi gini yah ?", dll.

Entahlah.
Aku ingat dawuh Almaghfurlah Mbah Wahab Hasbullah bahwa " Bersepakat untuk tidak sepakat, Berbeda tapi tetap besaudara "

Ya allah,
Sebegitu toleransinya beliau dalam menggenggam tali persaudaraan. Kenapa sulit menjalani pesan beliau di saat ini ?

Aku yakin dengan kemumpunian ilmu kalian semua, kalian memiliki kesabaran dan bisa menyelesaikan setiap permasalahan dengan duduk santai bersama sambil menikmati hangatnya kopi DENGAN tanpa harus mencaci dan menghujat di ruang publik. Kalian harus yakin bahwa saudara itu bukan mencaci, tapi menasihati.

Akhirul kalam,
Aku yang diriku sendiri sebut sebagai nahdliyin walaupun masih jauh dari nahdlyinnya Hadratusyeikh ini memohon untuk kalian hentikan perseteruan ini, kalian memang mencintai NU melebihi cintaku padanya. Tapi masih ada tugas yang lebih penting daripada saling mencaci, 
APALAGI SESAMA NAHDLIYIN.

Kediri, 2 Mei 2016
(Rois Faisal Ridho)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Surat Kasih Untuk Saudara NU-ku"

Post a Comment