SERPIHAN JEJAK SURGA

Serpihan Jejak Surga

Santrionline.net Hari itu aku telah membulatkan tekatku untuk melanjutkan pendidikanku disalah satu SMP ternama dikampungku, niatku ini juga telah didukung oleh abang serta kakakku.
Setelah selesai bersiap-siap aku mengajak kakakku untuk menemaniku mendaftar ke SMP yang juga menjadi incaran bagi teman-teman di kampungku. Namun ketika aku meminta uang kepada ayah untuk pendaftaran ke SMP itu, ayah menolak permintaanku dan mengambil semua berkas yang aku butuhkan untuk pendaftaran dari genggamanku.

Akupun menangis, melihat sikap ayah ini kakak berusaha menenangkanku. Sesat setelah itu ibu datang dan menjelaskan kepadaku bahwa ayah akan memasukan aku ke pesanteren yang ada dikampung sebelah.
Ayah marah karena aku tidak memberitahu mereka terlebih dahulu atas niatku yang ingin mendaftar di SMP itu, aku memang sengaja tidak mendiskusikan hal tersebut pada kedua orang tuaku bagiku kedua orang tuaku tidakkan mengerti soal pendidikan karena mereka hanya seseorang tamatan SD.

Aku menolak untuk masuk ke pondok pesentran tersebut, karena mengingat perekonomian keluargaku yang sederhana belum lagi ayah baru keluar banyak uang karena abangku yang kuliah dikota walaupun ia mendapatkan beasiswa tapi tetap saja uang itu tidak cukup untuk kebutuhanya sehari-hari disana.
Alasan itu yang ku jadikan untuk pertimbangan ayah agar aku tidak jadi disekolahkan di pesantren tersebut.
Ayah tetap bersikeras agar aku mondok di pesantren tersebut, katanya beliau telah menyiapakan uang untuk biayaku selama dipesantren. Padahal aku tau betul biaya pendidikan dipesantren akan lebih mahal dari pada sekolah negeri, karena apa-apa harus bayar mulai uang makan sampai uang asrama, aku juga tidak ingin menambah beban orang tuaku.

Ternyata ayah telah menjual sawah yang selama ini menghidupi keluarga untuk biayaku, aku kaget mendenggar hal itu, berawal  karena iba pada ayah, akupun mengikuti kemauannya.
Ayah mengantarkanku kepondok ketika jalan ke pondok aku merasa sangat takut dan gugup. Sesekali aku mengentikan langkah ayah, namun ayah hanya mengelus kepalaku dan tersenyum. Setelah selesai registrasi pembayaran ayah pergi meninggalkanku bersama seorang ustazah, kerut diwajah ayah tampak jelas dimataku aku tau ayah sanagat menyayangiku, aku melambaikan tangan dan tersenyum pada ayah guna menghilangkan rasa cemas dihati ayah.

Hari demi hari kujalani seperti apa yang telah tertera dalam roster pondok, sekitar jam tiga pagi kami harus bagun bersiap-siap sholat tahajud, sambil menunggu shubuh dilanjutkan dengan sholat fajar dan setelah itu barulah kami sholat shubuh berjama'ah dimesjid depan asrama.
Usai melaksanakan sholat shubuh kamipun melanjutkan hafalan Al-Qur’an, aku sangat lemah dalam hal menghafal oleh sebab itu aku harus lebih extra dari santriwati yang lain. Ketika semua santriwati telah tertidur aku biasa melanjutkan hafalan agar besoknya aku tidak dihukum dan selain itu aku ingin menjadi hafiz terbaik agar aku mendapatkan beasiswa pasentren sehingga orang tuaku tidak perlu lagi membayar uang bulananku selama disini.

Ketika pengumuman hafiz terbaik ternyata temanku Khasannah yang menjadi santriwati terpilih itu, aku cemburu padanya sehingga hal itu aku katakan pada ustazah namun ustazah hanya memintaku untuk meluruskan niat. awalnya aku tidak mengerti sehingga aku langsung bertanya pada Khasanah.
Ternyata ia menghafal Al-Qur’an bukan semata-mata karena beasiswa itu, namun ia menghafal karena Allah SWT. Ya niat dia itu yang mepermudah hafalannya setelah kejadian itu aku juga berusaha menghafal lebih giat lagi.
Dan alhamdulillah aku dapat beasiswa dari pemerintah kota sebagai salah satu hafiz terbaik.

Aku bersyukur atas apa yangku dapatkan, banyak sekali perubahan yang ku rasakaan. Dan bagiku pondok pesantren adalah serpihan jejak surga.
Allah membawaku kesini agar aku bisa mengikuti jejak surga yang ada didunia agar suwatu saat nanti aku bisa membawa kluargaku untuk bertemu denganNya.

Oleh: Suci Kurnia
Red : Isa Anshori

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SERPIHAN JEJAK SURGA"

Post a Comment