Pondok Pesantren Abah Kemalingan

tgh-copy1
Cerita ini terjadi di Ponpes Darul Muhajirin, Praya, Lombok Tengah, yang menimpa TGH. M. Nadjmuddin Makmun (Allah Yarham), begini kisahnya:
Waktu itu pesantren begitu sunyi, para santri beristirahat dengan tenang, para pengasuh ada yang masih berjaga, mengisi talang air, ataupun mempersiapkan segala kebutuhan tatkala waktu tahajjud, benar, aktivitas di ponpes ini di mulai setibanya waktu tahajjud, dan abah (TGH. Nadjamuddin Makmun) berada di kholwatnya, mungkin berdzikir, entahlah kami tidak boleh memasuki kholwat abah, kholwatnya dijaga khusus oleh seorang penjaga. 
Namun, malam itu menjadi begitu berbeda, kesunyian pondok tiba-tiba saja pecah, para pengasuh berkerumunan dan membunyikan berbagai benda yang bisa menghasilkan bunyi nyaring entah itu tiang listrik, kul-kul pos ronda, nampan besi, dll. Begitu gaduh suasana pesantren saat itu, beberapa santri terbangun seketika, bingung sekaligus diliputi rasa penasaran, "ada apa ini...?". Sementara itu, salah seorang pengasuh mencoba menuju kholwat Abah guna memberitahukan kejadian yang tengah terjadi.
Ternyata malam itu, pesantren kemalingan, sebuah televisi berhasil digondol oleh seseorang, itulah yang menjadi pemicu kegaduhan tersebut. 
Sesampainya di depan kholwat Abah, pengasuh tersebut meminta izin pada penjaga kholwat untuk menemui Abah "Pesantren kita kemalingan", ujar pengasuh tersebut pada penjaga kholwat. Mendengar hal tersebut kemudian sang penjaga berniat masuk ke dalam Kholwat guna memberi tahu Abah. Namun, belum sempat membuka pintu, Abah terlebih dahulu membuka pintu dari dalam.
"Sudah, sudah, tidak usah ribut, nanti para santri pada bangun, biarkan mereka istirahat, nanti bangunkan mereka untuk sholat tahajjud dan ngaji subuh" Ujar Abah memberikan arahan pada sang pengasuh.
"Kasihan, biarkan saja, mungkin orang tersebut kepingin menonton Televisi, dia mungkin belum memiliki uang untuk membeli televisi, sudah biarkan saja. Tidak perlu heboh gara-gara sebuah benda yang bersifat keduniaan" Lanjut Abah memberikan penjelasan. Kemudian Abah kembali memasuki kholwatnya.
Mendengar hal tersebut, sang pengasuh kembali dan menjalankan arahan Abah, meminta para santri untuk tidur dan meminta para pengasuh untuk kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
Singkat cerita, beberapa waktu berlalu, seorang pria yang senantiasa hadir duduk ngaji di pengajian Abah, meminta untuk belajar islam pada Abah, dan orang itulah yang dulunya meminjam televisi dari ponpes tersebut.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pondok Pesantren Abah Kemalingan"

Post a Comment