Pengalaman Rihlah ke Ponpes Lirboyo

Oleh: Fadh Ahmad Arifan (Alumni Pascasarjana UIN Maliki Malang)
Libur hari Paskah pada bulan Maret 2016, saya manfaatkan untuk rihlah ke kota Kediri. Menanti 8 tahun lamanya, akhirnya atas izin Allah swt, saya yang tak pernah nyantri ini dapat menjelajahi Pesantren salaf terbesar di Jawa timur. Tak seperti Ponpes Tebu ireng, Ponpes Darunnajah, Ponpes as-Salaam dan Ponpes Gontor yang bercorak modern, Ponpes Hidayatul Mubtadiien Lirboyo sama dengan Ponpes Sidogiri Pasuruan dan Ponpes al-Falah Ploso yang bercorak Salaf. Walaupun Salaf, Santri di Lirboyo punya keunggulan dalam ilmu tata bahasa Arab dan Hafalan kitab alfiyahnya. 
Dr. Isyroqunnajah dosenku yang mengajar mata kuliah Qawaid fiqhiyyah, hafal isi kitab Alfiyah. Kini beliau sudah berkeluarga, istrinya penghafal Quran dan diamanahi menjadi ketua PCNU kota Malang.
Ponpes Lirboyo sama dengan Ponpes Gontor, Ponpes Tebu ireng, Ponpes Sidogiri dan Pesantren Ngalah, punya penerbitan buku dan majalah. Santri tingkat aliyah didorong menulis esai maupun buku-buku fiqh, Tasawuf dan buku bantahan terhadap pihak-pihak yang mengusik tradisi warga Nahdliyin. Biasanya buku karangan mereka diberi kata pengantar oleh kyai ternama seperti KH Maemoen Zubair (Ketua dewan syuro PPP).
Ponpes Lirboyo amat luas. Saya, M. Yusuf dan Sofyan Afandi M.HI (Guru SMP islam Sabilillah kota malang) diajak masuk area pesantren melalui gerbang belakang. Melewati pesantren putri dan area parkir mobil untuk pengunjung. Sebelum adzan sholat ashar, saya lihat santri-santri tingkat Tsanawiyah dan Aliyah sedang lomba debat. Topik yang dibahas diantaranya, LGBT, Wahabi, JIL dan Gender. Menariknya, lomba debat disana diwarnai gojlokan atau bully para suporter kepada tim yang jadi musuhnya. Suporter dikerahkan sepenuhnya. Satu angkatan bisa 200 santri lebih.
Meski dilarang keras ke warnet, santri Lirboyo update info melalui koran Jawapos yang tiap hari dipajang di mading pesantren. Kadang kadang santri senior yg carikan bahan referensi buat bacaan sehari hari dan mereka print sendiri. Isu LGBT bukanlah hal yang baru bagi dunia pesantren, karena ada istilah "Mairil". Bila ingin tahu apa itu Mairil, bacalah buku "Mairil: Sepenggal Kisah Biru di Pesantren" yang ditulis oleh Syarifuddin. Ada kesaksian alumni yang dilontarkan kepada saya, "2 tahun menetap disini, sampean bisa bedakan mana cowok biasa dan mana cowok berparas cantik." Mau bagaimana lagi, sehari yang dilihat santri cowok, kalau syhawat atau pikiran dibiarkan liar, maka bisa berubah orientasi kepada sesama jenis. "Pernah saya merasa deg-degan kalau ketemu santri yang putih dan tampan, astaghfirullah ada apa dengan diriku" kata seorang alumni.
Saya diajak menuju ke asrama santri Malang. Asrama yang saya tuju termasuk asrama bagi santri-santri yang berdomisili Malang utara. Malang selatan punya asrama sendiri, namun saya tidak bisa melihat seperti apa bangunan asrama untuk santri asal Malang Selatan. Selain itu, saya belum bisa melihat dari dekat aula Muktamar milik Lirboyo yang dibangun oleh Pabrik rokok Gudang garam.
Terkait penentuan apakah santri itu masuk asrama yang mana, bukan berdasar tempat lahir santri. Tetapi berdasar domisili orangtuanya yang sekarang. Malang utara meliputi Singosari, lawang, Batu, Pujon, Ngantang dll, sementara Malang selatan meliputi Sawojajar, Sukun, kepanjen, Sumberpucung dan Sumbermanjing. Santri luar area Malang diharamkan tidur di asrama santri asal Malang, begitu pula santri asal Malang diharamkan tidur di sembarang asrama yang bukan daerah asalnya. Jadi tidak sebebas ma’had di UIN Maliki Malang.
Asrama yang saya kunjungi dibangun akhir tahun 1990-an, tergolong bangunan baru. Kyai memberi tanah dan alumni didorong bangun asrama sendiri. Asrama baru seperti milik Santri Malang satu kamar berisi 4-10 santri. Kamarnya cukup luas, bisa menyimpan rak kitab, pakaian dan kasur lipat. Asrama baru ini dilengkapi aula di lantai atas dan tempat menjemur pakaian.
Di depan asrama santri Lirboyo asal Malang, berdiri asrama untuk santri-santri asal Semarang. Dari segi kebersihan dan fisik masih mendingan yang di asrama yang ditinggali santri asal Malang. Saat mengamati aktivitas santri-santrinya, saya dapati beberapa santri merokok. Namun, hanya santri usia diatas 18 tahun yang boleh merokok. Katanya ada SIM-nya (surat izin merokok). Hanya saja saya dapati seorang santri yang masih dibawah umur di asrama Semarang yang merokok di lantai atas.
Di Lirboyo juga ada asrama lama, bangunannya sudah eksis sejak era kolonial. Asrama lama dipercaya membawa barokah. Asrama lama kamarnya berukuran kecil. Sekamar berisi 20-30 santri, hal itu membuat tidurnya santri mirip ikan pindang. Asrama lama tercatat sebagai asrama yang banyak menghasilkan alumni-alumni yang sukses jadi tokoh tersohor di tingkat lokal dan nasional. Salah satunya Prof Dr. KH Said aqiel Siraj adalah alumni Lirboyo (kini Ketum PBNU) dan Gus Mus.
Bagaimana dengan santri Perempuan? Asrama mereka disendirikan. Aturan yang diberlakukan sangat ketat di pondok Lirboyo putri. Kalau pengunjung mau bertemu atau menjenguk, ada namanya kartu mahrom. Pondok putri sepintas seperti Lapas, Santriwati jarang keluar alias terisolasi. “Kalau dijenguk saudara baru bisa lihat suasana luar. Itu pun bahagianya nggak ketulungan, padahal lihat jalan raya dan halaman pondok,” kata alumninya. Santriwati yang mondok selama 10 tahun disana terkadang berjodoh dengan santri Lirboyo, tentu saja lewat perantara Kyai. Pasca wafatnya Kyai idris Marzuki, kini Ponpes Lirboyo dibawah tanggungjawab Kyai Anwar.
Di Lirboyo terdapat area pemakaman keluarga pendiri dan pengasuh Lirboyo. Bangunan yang di area makam masih berarsitektur 1950-an. Makam yang berjumlah 20 buah itu berada di dalam rumah. Beda dengan Tebuireng yang sudah tertata apik. Di Lirboyo, saya tidak bisa memotret suasana makam, kalau di Ponpes Tebu ireng, peziarah bebas mengambil gambar dan selfie.
Biaya mencari ilmu di Ponpes Lirboyo sangat murah meriah. Uang bulanan pondok ditingkat Aliyah Rp 27.500, uang pangkal Madrasah tiap tahun hanya Rp 10.000 dan SPP bulanan di madrasahnya Rp 22.500. Masalah makan sehari hari ditanggung santri. Di area pondok banyak penjual makanan mulai nasi goreng, bakmie, soto hingga pecel kediri.
Di Lirboyo ada istilahnya “tirakat”, kalau bisa santri ini jangan pulang selama 3 tahun pertama. Konon kalau pulang, ada saja kerabatnya yang kena musibah. Makanya saat dengar takbir ied Fitri dan ied Adha, mereka yang komitmen tak pulang selama 3 tahun tadi pada nangis bombay di dalam kamar. Di Lirboyo, santri bisa dikeluarkan/drop out karena 3 hal: Keluar area pondok tanpa izin, Pacaran dan main Playstation. Di Lirboyo, tidak butuh santri pintar namun suka bolos dan tak beradab kepada guru. Cukup yang santun kepada guru dan rajin ikut ujian pondok. Yang suka bolosan itu pasti tidak naik kelas. Ada yang berdalih nemani keluarga kyai ke resepsi nikah, tetap tidak dinaikkan. Jadi tidak ada keistimewaan bagi santri tertentu.
Aturan baru mewajibkan santri melakukan pengabdian mengajar selama 1 tahun. Mengajar di Madin (Madrasah diniyah) seluruh Indonesia, tergantung permintaan. Kadang pengasuh Lirboyo mengirim 1-3 santri untuk bantu-bantu mengajar di sebuah lembaga yang mengalami krisis pengajar. Pondok memberi uang saku kepada mereka. Adapun lembaga yang meminta mereka bantu mengajar ada yang kasih gaji bulanan dan ada yang hanya menyediakan makan 3 kali sehari tanpa gaji.
Ba'da maghrib, saya makan bersama di asrama. Makan bakmi arang, bakmi yang dimasak memakai arang. Minumnya es degan yang menggunakan wadah berupa gayung. "Jangan kaget mas, disini gayung untuk mandi dan tempat minum, alhamdulillah belum ada yang kena diare". Kata salah seorang penghuni asrama. Akhirnya saya berpamitan kepada santri-santri asal Malang. Benar-benar rihlah yang tak terduga dan dapat pengalaman yang tak terlupakan. Wallahu’allam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengalaman Rihlah ke Ponpes Lirboyo"

Post a Comment