Pakar Radikalisme Eropa: Melihat Islam, Lihatlah Indonesia

Jakarta, Santrionline - Seringkali orang-orang Barat memiliki pandangan bahwa Islam itu negara-negara Arab dan mengenyampingkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Sebab itu, konflik berkepanjangan yang terjadi di Arab menguatkan sudut pandang Barat bahwa Islam identik dengan kekerasan, padahal tidak seperti itu.

Demikian pernyataan Pakar Radikalisme dari Department of War Studies ICSR (The International Center of The Study Radicalisation and Political Violence) yang berbasis di London, Dr Nico Prucha terhadap pandangan Islam di Barat saat diwawancarai NU Online di Jakarta, Selasa (10/5) malam.

Apalagi, lanjut Dosen Universitas Wina Austria ini, di Irak dan Suriah ada kelompok ekstremisme ISIS yang terus-menerus menebar ancaman dan teror ke seluruh penjuru dunia. Itu yang membuat orang-orang Barat mengartikan Islam sebagai agama teror dan kekerasan.

“Di Barat, Islam itu bukan tentang mempromosikan hak asasi manusia tapi sebaliknya,” ungkap Nico yang menjadi salah satu Narasumber di kegiatan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang digelar NU pada Senin-Rabu (9-11/5) di JCC Senayan, Jakarta.

Perlahan namun pasti, ia menilai bahwa Indonesia melalui Nahdlatul Ulama terus berupaya untuk menebarkan Islam moderat untuk menghadang gerakan-gerakan Islam ekstrimis seperti ISIS. “NU bagus sudah bekerja menghadang radikalisme ISIS dengan menawarkan Islam yang moderat kepada dunia,” ujar Nico.

Setahun terakhir ini, Nahdlatul Ulama gencar sekali mengampanyekan Islam Nusantara ke dalam maupun ke luar negeri. Hal tersebut juga menjadi perhatian Nico Prucha, yang menilai bahwa Islam Nusantara dengan prinsip pluralitas dan menghargai perbedaan adalah inspirasi yang dibutuhkan dunia Islam.

(NUonline/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pakar Radikalisme Eropa: Melihat Islam, Lihatlah Indonesia"

Post a Comment