Menolak Lupa, Mufassir Tanah Pasundan

K.H Ahmad Sanusi atau yang biasa dipanggil Mama' Ajengan (red; panggilan khas untuk kyai di tanah sunda) Sanusi, lahir di Kawedanan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat pada tahun 1881 dan wafat di Pondok Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi yang beliau dirikan (tahun 1933) pada tahun 1950.

Sebagai muassis ormas PUI (Persatuan Umat Islam) sosoknya tidak sepopuler muassis-muassis ormas yang telah dahulu ada, seperti NU & Muhammadiah. Namun walaupun begitu, beliau mempunyai sumbangsih yang tak bisa terbantahkan lagi atas terlahirnya ulama' - ulama' di Jawa Barat, ini terbukti dengan adanya pondok-pondok pesantren yang telah banyak di dirikan oleh santri-santri beliau.

Di samping itu, sosok yang berpegang teguh pada madzhab Syafi'iyyah ini juga terkenal produktif dalam menulis kitab-kitab tafsir al-quran yang jumlahnya tidak bisa di bilang sedikit. Karyanya kurang lebih sekitar 250 buah, baik dalam bentuk buku, kitab, ataupun artikel. Antara lain :
Pertama, dalam bidang tafsir seperti , Raudhlatul Irfan fi Ma’rifat Alqur’an, Maljau Al-Thalibin, Ushul Al-Islam fi Tafsir Kalam al-Muluk al-‘Alam fi Tafsir Surah Al-Fatihah dll.

Kedua, dalam bidang fiqih, seperti,  al-Jauhar al-Mardhiyah fi Mukhtar al-Furu’ as-Syafi’iyah, at-Tanbih al-Mahir fi al-Mukhalith wa al-Mujawir, dll

Ketiga, dalam bidang Ilmu Kalam, seperti,Haliyat al-‘Aql wa al-Fikr fi Bayan Muqtadiyatas-Syirk wa al-Fikr, Miftah al-Jannah fi Bayan Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah, dll

Keempat, dalam bidang Tasawuf, seperti,Siraj al-Afkar, Dalil as-Sairin, At-Tamsiyah al-Islam fi Manaqib al-Aimmah, dll.

Di kesibukannya dalam menulis, beliau juga sangat mempunyai pola fikir yang kritis, tak heran ketika beliau masih menempuh jenjang pendidikan di pondok-pondok pesantren, sekali dua kali beliau sering beradu argument dengan gurunya sendiri. Salah satunya ketika beliau berguru kepada K.H Ahmad Satibi, Gentur, Cianjur yang oleh sebagian santri lain beliau di anggap sebagai santri yang kurang ajar, karena keberaniannya dalam menentang dan mengemukakan pendapat yang berbeda dengan gurunya tsb.

Masih dalam jenjang pendidikan, pada tahun 1909 (28 tahun) beliau memutuskan untuk hijrah ke tanah suci mekkah untuk memperdalam ilmunya dalam jangka waktu kurang lebih 7 tahun. Di sana beliau berguru kepada beberapa ulama' syafi'iyyah seperti, Syekh Ali Maliki, Syekh Ali Thayyibi, Syekh Saleh Bafadil, dan Said Jawani.

(Rois Faisal Ridho)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menolak Lupa, Mufassir Tanah Pasundan"

Post a Comment