Menjawab Tuduhan Firanda Terhadap Abuya

Tanggapan terhadap Firanda
Oleh : M Junaidi Sahal, Surabaya

1. Kita tidak perlu emosi, kalau mereka memakai ilmu ya kita juga memakai Ilmu, Bahkan kalau bisa Ilmu plus , yaitu plus kesantunan. Idfa' billati hiya Ahsan "balaslah dengan yang lebih baik".

2. Saya hanya mau Fokus pada Ucapan akhinal karim Firanda yg terkait kritikannya terhadap Kakek guru Kami Abuya Prof DR As Sayyid Muhammad Alwy Al Maliky Al Hasany - Sengaja saya sebut lengkap, karena Firanda keliru menyebut Nama Beliau dan juga keliru dalam menyebut nama Kitab Beliau. Padahal saya lihat Firanda sambil pegang kitab. Semoga bukan kitab Abuya, sehingga tidak dianggap tidak menguasai bahasa arab.

Adapun pernyataan Firanda terkait Abuya adalah ;

A. "Fal Mutasharrifu fil Kaun Huwalloh wa la yamliku ahadun syaian illa idza mallakahullohu dzalika wa adzina lahu bi tasharrufihi"
"Yg mengatur alam semesta adalah Alloh semata, dan tidak bisa mengaturnya kecuali orang yang telah diberi Hak untuk mengaturnya oleh Alloh, hak otonomi untuk mengatur alam semesta"
Diantara yang diberi Hak Otonomi itu adalah Nabi صلي الله عليه و سلم.

Itu terjemahan Firanda terhadap tulisan Abuya, selanjutnya Firanda menterjemahkan tulisan Abuya dengan kata-kata ;

B. Bahwa Nabi bisa mengatur perkara Ummat serta mengetahui kondisi Ummatnya, meski Nabi telah tiada. Ini Kesyirikan !!!

# MARI KITA BAHAS DUA HAL TERSEBUT #

A. Tentang bahwa Allah memberi izin kepada seseorang atau malaikat untuk mengatur alam semesta. Apakah salah pemahaman itu ? Bukankah tetap PEMILIK KEKUASAAN ADALAH ALLAH, di kitab Abuya itu ada kalimat MALLAKA DAN ADZINA, yang saya lebih senang dengan arti 'Memberikan izin dan memberikan kekuasaan' bukan seperti terjemahan Firanda yang mengartikan dengan "HAK OTONOMI". Sebab terjemahan itu memberi image ada dua kekuasaan yang bersanding.
Inilah LEBAYnya firanda dalam memahami kitab Abuya.
ITU PEMAHAMN YANG BERDASARKAN SEJAK AWAL AKAN KETIDAK SENANGAN DENGAN ABUYA.
Bukankah Allah juga memberikan kekuasaan (MALLAKA) kpd siapapun yang dikehendakinya ? Lihat QS Ali Imron 26.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكِ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرُُ {26} تُولِجُ الَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ {27}
"Katakanlah, 'Wahai tuhan yang mempunyai kerajaan, engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki, Di tangan engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya engkau mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan engkau beri rizki siapa yang engkau kehendaki tanpa hisab (batas)."

Bukankah ayat itu bersifat umum ? Bukankah para penguasa di muka bumi ini juga memiliki kekuasaan untuk mengatur wilayahnya ? Bukankah Raja Saudi sebagai Al Malik juga punya kekuatan untuk mengatur kerajaannya seenaknya dia ? bahkan setelah mati Raja Saudi pun, kekuasaan itu masih ada, yaitu wasiat bahwa kerajaan tersebut selama masih ada anak-anaknya tidak boleh dilimpahkan kepada cucunya.

Intinya, Janganlah terlalu LEBAY dalam menterjemahkan maksud kitab Abuya tersebut.

B. Nabi صلي الله عليه و سلم , mengetahui kondisi ummatnya sekalipun beliau tiada, adalah faham Syirik ?
Ini salah besar !
Firanda belum hatam ngaji tafsir.
Coba lihat QS At Taubah Ayat 105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105) }
Dan katakanlah, "Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.”

Ibnu Katsir memberikan komentar terkait ayat tersebut :
"Telah disebutkan bahwa amal orang-orang yang masih hidup di­tampilkan kepada kaum kerabat dan kabilahnya yang telah mati di alam Barzakh, seperti apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi, bahwa telah menceritakan kepada kami As-Silt ibnu Dinar, dari Al-Hasan, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

إن أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقْرِبَائِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ فِي قُبُورِهِمْ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا: "اللَّهُمَّ، أَلْهِمْهُمْ أَنْ يَعْمَلُوا بِطَاعَتِكَ".
Sesungguhnya amal-amal kalian ditampilkan kepada kaum kerabat dan famili kalian di dalam kubur mereka Jika amal perbuatan kalian itu baik, maka mereka merasa gembira dengannya. Dan jika amal perbuatan kalian itu sebaliknya, maka mereka berdoa, "Ya Allah, berilah mereka ilham (kekuatan) untuk mengamalkan amalan taat kepadamu."
Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari Sufyan, dari orang yang telah mendengarnya dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا: اللَّهُمَّ، لَا تُمِتْهُمْ حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا هَدَيْتَنَا"
Sesungguhnya amal-amal kalian ditampilkan kepada kaum kerabat dan famili kalian yang telah mati. Jika hal itu baik maka mereka bergembira karenanya; dan jika hal itu sebaliknya, maka mereka berdoa, "Ya Allah, janganlah Engkau matikan mereka sebelum Engkau beri mereka hidayah, sebagaimana Engkau telah memberi kami hidayah.”

Jadi, Kalau manusia biasa saja bisa seperti itu apalagi Nabi صلي الله عليه و سلم.

Dalam kitab As-Sunan disebutkan,

أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَة عَليَّ، فَقالوا:
يَا رَسُوْلَ اللهِ! كَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ؟ قَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أنْ تَأكْلَ لَحُوْمْ الأَنْبِيَاءِ.
"Perbanyaklah bershalawat kepadakku para hari Jum’at dan malam Jum’at, sesungguhnya shalawat kalian diperlihatkan kepadaku’. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami di perlihatkan kepadamu, sedangkan engkau telah tiada?’. Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bumi memakan daging para Nabi".

Dalam kitab As-Sunan disebutkan, Rasulullah صلي الله عليه و سلم bersabda,

اِنَّ اللهَ وَكَلَ بِقَبْرِي مَلاَئِكَة يُبَلِّغُوْنِـيْ عَنْ أَمَّتِيْ السَّلاَمَ
"Sesungguhnya Allah SWT menugaskan malaikat-malaikat di makamku untuk menyampaikan salam kepadaku dari umatku.”

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang menunjukan bahwa Nabi صلي الله عليه و سلم bisa.mengetahui kondisi ummatnya.

Saya berharap Firanda itu belajar lagi semua kitab hadits dan tafsir denga tidak dilandasi ta'ashub pada ajaran wahabi. Serta bersikaplah tawadlu', yaitu orang yang tidak hanya Alim tapi dengan kealimannya dapat menghargai pendapat Ulama-Ulama.

Wallohu Alam.

(Rois Faisal .R)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjawab Tuduhan Firanda Terhadap Abuya"

Post a Comment