Membedah Kiprah Kiai-Santri Sebagai Benteng NKRI

Jakarta, Santrionline - Para pejuang militer dari kalangan santri tak banyak ditulis dalam catatan sejarah. Semestinya kiai-kiai pesantren mendapatkan perhatian utama sebagai pahlawan bangsa.

Jaringan ulama-santri telah berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan, menegakkan kedaulatan bangsa pada masa revolusi, serta mengawal negeri pada masa awal kemerdekan. Peran para kiai dalam mengawal perjuangan tidak bisa dilupakan dalam narasi sejarah bangsa Indonesia. Kontribusi mereka terbukti kokoh dalam menguatkan pondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Para santri membentengi Indonesia dari pelbagai ancaman selama beradab-abad, dari serbuan kolonial, agresi militer hingga ancaman terhadap ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa," kata Munawir Aziz, penulis buku 'Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional' dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Sabtu (7/5/2016).

Buku terbitan Pustaka Compass ini memuat 29 kiai yang berperan penting pada masa kemerdekaan, dengan tipologi, jaringan dan area geografis-strategis yang berbeda namun terkait pada interaksi dan networking yang sama.

Rencananya buku itu akan diluncurkan pukul 12.30 nanti di Perpustakaan Pemprov DKI di lingkungan Taman Ismail Marzuki. Sejumlah tokoh akan hadir dalam acara tersebut, seperti Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj, Dr Asrorun Niam Soleh, Dr Zainul Milal Bizawie (penulis buku-buku sejarah Islam Nusantara) KRMH Daradjadi (penulis buku 'Geger Pecinan'), dan Iwan Ong Santosa (penulis buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran).

Menurut Munawir, barisan pejuang kiai-santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah (dikomando Kiai Zainul Arifin), Laskar Sabilillah (dikomando Kiai Masykur) dan Laskar Mujahidin pimpinan Kiai Wahab Chasbullah, merupakan jaringan militer dari pesantren yang dibentuk sebagai tulang punggung perjuangan kemerdekaan. Mereka bergabung bersama barisan militer dari pemuda dan tentara, sebagai penopang perjuangan kemerdekaan.

Kontribusi para kiai dalam menggerakkan pemuda santri dan warga dalam mengawal kemerdekaan terjadi dengan koneksi yang berlangsung lama, dalam hubungan guru-murid antar pesantren di Nusantara. Akibatnya, perlawanan terhadap kolonial berlangsung serempak pada kisaran 1940-an. Bahkan, pergerakan nasional sudah berlangsung pada awal abad 20, dengan menggunakan jalur diplomasi serta menguatkan barisan militer di kalangan santri.

Resolusi Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi pemantik semangat dan menginspirasi pejuang santri dan warga untuk terjun ke medan laga melawan penjajah. Pertempuran berlangsung di berbagai daerah secara serempak, demi mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan NKRI. Palagan Ambarawa di Jawa Tengah dan pertempuran di Surabaya, Jawa Timur pada November 1945 merupakan cermin kekuatan pemuda santri dan warga yang digerakkan oleh semangat jihad mempertahankan tanah air. Pertempuran heroik 10 November 1945 diabadikan sebagai 'Hari Pahlawan' oleh pemerintah Indonesia, untuk mengenang jasa-jasa pahlawan yang berjuang dengan nyawa, darah dan air mata.

"Sayangnya para pejuang militer dari kalangan santri tidak banyak ditulis dalam catatan sejarah. Dengan sumbangsih terhadap perjuangan kemerdekaan, sudah semestinya kiai-kiai pesantren mendapatkan perhatian utama sebagai pahlawan bangsa," ujar Munawir yang pernah melakukan riset akademis di beberapa universitas di Jerman, Belanda, dan Prancis pada 2011 dan 2013.

Sejarah pergerakan dan perjuangan Indonesia, ia melanjutkan, lebih banyak merekam kekuatan militer dari negara, yang terkoneksi dengan jaringan Pembela Tanah Air (PETA), kemudian beralih sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Perombakan sistem militer pada masa Kabinet Hatta, yang dikenal dengan sistem Re-Ra (Rekonstruksi dan Rasionalisasi) pada 1948 memusatkan semua kekuasaan di bidang pertahanan di bawah komando Menteri Pertahanan. Di sisi lain, para pejuang di barisan militer yang tidak memiliki riwayat pendidikan formal, tidak mendapat ruang untuk meneruskan karirnya.

"Para pejuang dari kalangan santri terkena dampak besar, karena tidak memenuhi syarat administratif yang ditetapkan. Hanya sedikit dari komunitas pesantren yang sesuai dengan kriteria kebijakan yang mengikuti program Re-Ra, yang ditetapkan Kabinet Hatta," papar Munawir.

Sejauh ini, kiai-santri yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional yakni: Kiai Ahmad Dahlan (1961), Kiai Zainul Arifin (1963), Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai Wahid Hasyim (1964), Kiai Zainal Mustafa (1972), Pangeran Diponegoro (1973), Kiai Abdul Halim (2008), Kiai Idham Chalid (2011), dan Kiai Wahab Chasbullah (2014).

(Detiknews/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Membedah Kiprah Kiai-Santri Sebagai Benteng NKRI"

Post a Comment