Komentar Habib Munzir Tentang Isbal, Tanda Hitam Jidat, dan Albani

Isbal (tidak membuat pakaian menjela/memanjang dibawah mata kaki) adalah sunnah Rasul saw dalam sholat dan diluar shalat, Rasul saw bersabda :
"Barangsiapa yang menyeret nyeret pakaiannya (menjela pakaiannya/jubahnya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya dihari kiamat (murka)" lalu berkata Abubakar shiddiq ra. "Wahai Rasulullah, pakaianku menjela", maka berkata Rasul saw "Sungguh kau memperbuat itu bukan karena sombong". (Shahih Bukhari Bab Manaqib).

Al Hafidh Imam Ibn Hajar berkomentar mengenai syarah hadits ini
"kesaksian Nabi saw menafikan makruh perbuatan itu pada Abubakar ra." (Fathul Bari bisyarh shahih Bukhari Bab Manaqib).

Jelaslah sudah bahwa perbuatan itu tidak makruh apalagi haram, kecuali jika diperbuat karena sombong, karena pada masa itu untuk bisa membedakan antara orang kaya dengan orang miskin adalah dengan dilihat dari bajunya, baju para buruh dan fuqara biasanya pendek hingga bawah lutut diatas matakaki, karena mereka pekerja dan tak mau pakaiannya terkena debu saat bekerja dan para orang kaya dan bangsawan memanjangkan jubahnya menjela ketanah karena mereka selalu berjalan diatas permadani dan kereta, jarang menginjak tanah,
maka jadilah semacam hal yang bergengsi. Memakai pakaian panjang demi memamerkan kekayaannya dan itu tak terjadi lagi di masa kini, orang kaya dan miskin sama saja tak bisa dibedakan dengan pakaian yang menjela. Jelas dibuktikan dengan riwayat Shahih Bukhari diatas, bahwa terang-terangan Abubakar shiddiq ra. berpakaian seperti itu tanpa sengaja, namun Rasul saw menjawab : "Kau berbuat itu bukan karena sombong"
berarti alasan dilarang adalah jika karena sombong.

***

Tanda hitam di kening/dahi, Mengenai tanda di dahi itu bisa saja bekas sujud, bisa pula bekas lainnya, seperti orang
budha bahkan bisa sampai enam tanda di dahinya. Tidak pernah ada riwayat bahwa Rasul saw berbekas hitam didahinya, namun ada riwayat bahwa para sahabat ada yg berbekas seperti itu. Tetapi ada firman Allah swt.
“Muhammad adalah utusan Allah, dan yang beriman bersamanya tegas terhadap orang kafir dan berlemah lembut sesama mereka, kalian lihat
mereka ruku' dan sujud untuk mencari anugerah dan keridhoan Allah, tanda mereka adalah bekas sujud di wajah mereka.” (QS. Al Fath : 29).

Nah, sebagian saudara-saudara kita mengira bahwa yang dimaksud tanda bekas sujud itu adalah bekas hitam itu, maka mereka membentur-benturkan kepalanya dengan keras saat sujud agar dahinya bertanda hitam. Lucu sekali, betapa mereka tak mengerti makna
ayat itu, padahal yang dimaksud adalah cahaya sujud yang terbersit di wajah, yaitu tanda sujud yang terus menerangi wajah mereka hingga di barzakh dan dihari kiamat. Kalau yang dimaksud adalah tanda hitam itu maka bila telah dikubur maka tubuh membusuk
maka sirnalah tanda itu, dan tak pernah teriwayatkan bahwa Nabi saw memiliki tanda itu. Lalu bagaimana dengan Budha yang memiliki juga tanda itu ? tak payah bersujud namun cukup menandainya. Tentunya bukan itu yang dimaksud, tapi cahaya sujud yang terlihat di wajah mukminin. Namun tentunya kita tidak menuduh semua orang yang bertanda hitam didahi itu demikian, mungkin memang karena tidak sengaja, atau disengaja namun dengan niat suci karena tidak fahamnya atas ayat tersebut, maka semua amal kembali pada niatnya.

***

Syeikh Albani, Saudaraku yang kumuliakan, beliau itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yang mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para periwayat hadits. Albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil dari sisa buku buku hadits yang ada masa kini, kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yang paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a'lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliau hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman.

Imam Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman, demikian para Muhaddits-Muhaddits besar lainnya, seperti Imam Nasai, Imam Tirmidziy, Imam Abu Dawud, Imam Muslim, Imam Ibn Majah, Imam Syafii, Imam Malik dan ratusan Muhaddits lainnya.

Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dengan perawi hadits, bukan jumpa dengan buku buku. Albani hanya jumpa dengan sisa sisa buku hadits yang ada masa kini. Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yang telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yang tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits. Al Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya. Albani juga bukan pula Alhafidh, ia tak hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, karena ia banyak menusuk fatwa para Muhadditsin, menunjukkkan ketidak fahamannya akan hadits hadits tersebut. Abani bukan pula Almusnid, yaitu pakar hadits yang menyimpan banyak sanad hadits yang sampai ada sanadnya masa kini, yaitu dari dirinya, dari gurunya, dari gurunya, demikian hingga para Muhadditsin dan Rasul saw, orang yang banyak menyimpan sanad seperti ini digelari Al Musnid, sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil.

Para Muhadditsin berkata,
"Tiada ilmu tanpa sanad" maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alquran, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak) dan ucapannya dhoif dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti karena sanadnya Maqtu'. Apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yang tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu lalu berfatwa ini dhoif itu dhoif ? Saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong.

Wallahu 'alam

Sumber : http://hardy313mrs.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Komentar Habib Munzir Tentang Isbal, Tanda Hitam Jidat, dan Albani"

Post a Comment