Kehadiran Rasulullah & Mahalul Qiyam

Sulthanul Qulub Al Maghfurllah Al Alim Al Habibul Mahbub Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa pernah berbicara perihal kehadiran Rasulullah Saw. dalam setiap majelis :

Bila ada yang bertanya kepada kita :
"Mengapa kalo dimajlis-majlis dibilang Rasulullah hadir, kemudian bagaimana hadirnya padahal beliau sudah wafat ?"

Jawablah begini.
Coba lihat dalam kitab Al Ajwibatul Gholiyah, semua amalan Habaib atau masyaikh yang sholeh itu ada tuntunan dan dalilnya, kalau pun tidak ada dalilnya lalu apa salahnya kita berdiri (Mahalul qiyam) untuk mengungkapkan rasa bahagia dan syukur yang mendalam kepada Allah sehingga diekspresikan orang dalam bentuk menerima berita gembira. Pasti reaksi pertama yang nampak padanya adalah berdiri dalam keadaan senang, apalagi ini ada dalilnya :

ﺍﻻﺟﻮﺑﺔ ﺍﻟﻐﺎﻟﻴﺔ / ص ١٣٨ / ﺩﺍﺭ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﺍﻻﺳﻼﻣﻴﺔﺗﺄﻟﻴﻒ : ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺪﺍﻋﻲ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﺯﻳﻦ ﺑﻦ ﺳﻤﻴﻂ

قال الامام السيوطي رحمه الله: قد تحصل من مجموع الاحاديث ان النبي صلى الله عليه وسلم حي بجسده وروحه وانه يتصرف حيث شاء في اقطار الارض والملكوت وهو بهيبته التي كان عليها قبل وفاته، وانه يغيب عن الابصار كما غيبت الملائكة، فاذا اراد الله رفع الحجاب عمن اراد كرامته برؤيته رآه على هيئته.
Imam suyuthi berkata : benar-benar bisa ditarik kesimpulan dari hadis-hadis yang sudah terkumpulkan, bahwa Nabi Muhammad Saw adalah HIDUP dengan JASAD dan RUHnya, dan beliau bertashorruf/berbuat apapun yang beliau inginkan di seluruh penjuru bumi dan langit. Haibah, kewibawaan, keadaan beliau masih sama persis seperti sebelum wafat dan beliau tidak terlihat oleh mata sama seperti para malaikat, akan tetapi sebagian dari hamba-hamba Allah yang diberi kemuliaan dan kekhususan akan dibukakan hijab/penutupnya oleh Allah ta'ala sehingga bisa melihat Nabi Muhammad Saw secara terjaga/langsung.

Berikut juga yang ditulis oleh Sayyid Ahmad al Barzanji sebagaimana dalam risalah-risalah yang ditulis setelah kitab An Ni'matul Kubra 'alal 'Aalam Fi Maulidi Sayyidi Waladi Aadam halaman 64-65:

اعتقاد قدوم روحه صلى الله عليه وسلم من عالم الارواح إلى عالم الشهادة وحضوره في المجالس التي يذكر فيها لا باس بأس به في الدين ولا بعد في وقوعه لأنه صلى الله عليه وسلم وإن كان جسده المقدس في قبره الكريم بالمدينة المنورة لكنه حي في قبره وروحه المقدسة كالشمس المنيرة لجميع الآفاق مشارقها ومغاربها وقد ثبت عن كثير من أهل الكشف اجتماعهم به صلى الله عليه وسلم يقظة وأخذهم العلوم والحكم عنه بلا واسطة مع فناء ديارهم فلا يبعد أن تحضر روحه المقدسة عليه الصلاة والسلام في كل مجلس يذكر فيه وإن كان في مواضع كثيرة وبلدان متباعدة وهو أمر مسلم عند أهل الذوق الصحيح الكرام ويشهد بصحة ذالك ما ثبت في قصة المعراج من أنه صلى الله عليه وسلم اجتمع بالأنبياء في بيت المقدس ثم لما عرج به إلى السموات اجتمع بآدم ويحيى وعيسى وموسى وإبراهيم وغيرهم ومما يقرب ذلك القول أن ملك الموت الموكل لقبض الأرواح يتولى قبض أرواح من يموت في ساعة واحدة في مشارق الأرض ومغاربها وشمالها وجنوبها وهو ملك واحد بنص قوله تعالى :قُلْ يَتَوَفَىكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ السجدة

Sayyidi Alhabib Umar bin Hafidz pernah dihadapi pertanyaan yang serupa, lalu Beliau menjawab yang dinukil oleh  Almarhum Alhabib Mundzir Almusawa mengenai berdiri saat maulid ini merupakan qiyas dari kerinduan pada Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas menyambut kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, maksudnya bukan Nabi datang, tapi menyambut kedatangan risalah beliau, semua hukum syariah, Alqur’an, shalat, puasa zakat dsb. yang itu semua dilimpahkan pada kita dengan kedatangan Nabi saw kepada ummat ini, maka para Ulama dan muhaddits mengambil cara berdiri, demi menambah semangat muslimin semata, karena gerakan tubuh itu selaras dengan Jiwa, misalnya gerakan telunjuk menunjuk ke kiblat saat tahiyyat dalam syahadat, apa maksudnya?, apakah menunjuk Allah?, dan juga menghadap kiblat, apakah maksudnya Allah ada di ka’bah?, berarti kita menafikan Allah ada di penjuru lainnya, tentunya tidak. Demikian pula berdiri dalam maulid itu, hanya menambah semangat saja.

Mengenai kehadiran Ruh Nabi saw padanya hal itu merupakan hal gaib yang tak bisa dibahas dalam syariah, hal itu relatif, tidak mustahil, bila syaitan kita percaya bisa hadir dimana mana, mengapa pula nabi saw tak bisa hadir dimana mana? Jika manusia bisa melihat ke segala penjuru dunia, nama anda bisa ada diseluruh dunia dalam sekejap, anda masuk ke internet dan menulis nama anda di suatu situs, maka nama anda sudah ada diseluruh dunia, bukankah demikian? lalu anda tampilkan foto anda pula, maka seluruh dunia bisa melihat foto anda di situs itu. Lalu anda tampilkan suara anda dan film anda sedang berdoa mendoakan semua orang, maka seluruh dunia dapat melihatnya. Anda dapat mengirim uang dalam sekejap hanya lewat hp, anda dapat komunikasi dari hp dengan teman anda ditempat yang jauh, dapat melihat wajahnya, senyumnya, dan semua yang dilakukannya walau ia ditempat yg jauh. Bila anda dokter, lalu saya sakit, saya bisa komunikasi dengan anda lewat hp 3G, saya tunjukkan luka di tangan saya (misalnya), lalu saya minta obatnya pada anda, anda mengatakan obatnya adalah ini dan itu, botolnya seperti ini, warnanya begini, nanti oleskan begini dan begitu, saya melihatnya dengan jelas, bukankah berarti saya telah bertemu anda? tentunya tidak, namun sama saja dengan saya telah bertemu anda. inilah ciptaan manusia.
Mustahil kah Allah memperbuatnya pada Nabinya ?

Waallahu'alam

(Rois Faisal .R)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kehadiran Rasulullah & Mahalul Qiyam"

Post a Comment