Duo Rabi'ah (Wali Perempuan)

Islam mempunyai catatan history tentang dua wali perempuan yakni Rabi'ah Adawiah & Rabi'ah binti Ismail Asy-syamsiah.

KISAH RABI'AH ADAWIAH -

Pasca Rabi’ah Adawiyah di tinggal meninggal oleh suaminya, beberapa waktu kemudian Hasan Al Basri dan kawan kawannya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin untuk di perkenankan masuk, lalu merekapun di perkenankan masuk dan Rabi’ah segera mengenakan cadarnya dan mengambil tempat duduk di balik tabir.
Setalah itu Hasan AlBasri mewakili kawan kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Tanpa buang waktu ia berkata : ”Suamimu telah tiada, sekarang kau sendirian. Jika kau berkenan silahkan  memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang orang yang ahli zuhud”. Rabi’ah Adawiyah pun menjawab : ”ya, aku suka saja mendapat kemuliyaan ini, namun aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim(pandai) diantara kalian itulah yang menjadi suamiku”. Mendengar jawaban Rabiah Adawiah, Hasan Al Basri dan kawan kawannya lalu menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah bertanya kembali : ”Jawablah empat pertanyaanku ini, kalau kau bisa aku siap di peristri olehmu”.
Hasan Al Basri pun menyanggupinya dan berkata : ”Silahkan bertanya, kalau Allah memberi pertolongan pasti aku jawab”.

Setelah semuanya sepakat atas permintaan Rabiah Adawiah, lalu terjadilah tanya jawab di antara mereka.
“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim (husnul  khatimah) atau dalam keadaan kafir(suul  khatimah) ?”. Tanya Rabi’ah.
Hasan Al  basri : ”Yang kau tanyakan itu hal  yang ghaib, mana aku tahu.”

“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah di masukkan kedalam kubur dan mungkar nakir bertanya kepadaku, apakah  aku sanggup menjawab atau tidak” . Tanya Rabiah.
“Itu persoalan ghaib lagi”. Jawab Hasan Al Basri.

"Kalau seluruh manusia di giring di MAUQIF (padang mahsyar) pada hari kiamat kelak dan buku buku catatan amal yang malaikat HAFAZHAH beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy. Kemudian buku buku catatan itu di berikan kepada pemiliknya, yang pada saat itu sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi melalui tangan kiri dalam menerimanya. Lalu apakah aku termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri ?",  tanya Rabi’ah kembali.
“Lagi lagi yang kau tanyakan itu adalah hal yang ghaib !”, jawab Hasan Al Basri.

Tanya Rabi’ah sekali lagi : ”Manakala pada hari kiamat terdengar pengumuman bahwa, sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka, menurutmu apakah aku termasuk ahli surga atau ahli neraka ?”.
“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib”,  jawab Hasan Al basri.
Kemudian Rabi’ah berkata : ”Bagaimana bisa ada orang yang harusnya memikirkan terhadap empat persoalan itu masih sempat memikirkan soal pernikahan?”.

Coba perhatikanlah kisah dialog tersebut. Betapa besar perasaan takut Rabi’ah Adawiyah terhadap 4 persoalan tersebut. Padahal keshalehannya sudah di akui orang banyak, namun masih diikuti perasaan takut  yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik.

Diceritakan pula bahwa, Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah ubah.
Suatu ketika perasaan cintanya kepada Allah begitu berat, hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Tapi diwaktu lain ia kelihatan tenang, nampak seperti tidak ada masalah dan di lain waktu ia kelihatan sangat takut dan cemas.
Ketika masih hidup suaminya pernah menceritakan :
Suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara  ia  duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran di hantui peristiwa kiamat. Aku berkata : ”Biarkan aku sendirian yang menikmati makanan ini”. Lalu Ia menjawab : "Aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah dalam menyantap makanan lantaran mengingat akherat. Demi Allah, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami istri pada umumnya tapi kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”.
Lalu setiap Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, Ia selalu berkata kepadaku : ”Majikanku, makanlah masakan itu, karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca tasbih saja”.
Hingga suatu hari Rabi’ah berkata pada suaminya : ”Tinggalkan diriku, silahkan kamu menikah lagi”. Maka Aku (suaminya) pun menikah lagi dengan tiga orang perempuan. Namun saat itu Rabi’ah masih saja setia melayani keperluanku, termasuk memasakkan makanan. Dan pada suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untukku, lalu Ia berkata : ”Setelah makan dan bertenaga, tinggalkanlah diriku untuk menuju istri-istrimu yang lain”.

- KISAH RABI'AH BINTI ISMA'IL -

Dikisahkan bahwa Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah seorang istri Ahmad bin Abu Alhuwari, suatu hari memasak makanan yang enak. Masakan itu di beri campuran aroma yang harum. Pada waktu itu suami Rabi’ah juga mempunyai istri yang lain. Setelah sang suami menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata  pada suaminya : ”Pergilah kamu keistri yang lain dengan tenaga yang baru”. Rabi’ah yang satu ini memang mirip dengan Rabi’ah Adawiyah yang berdomisili di bashrah.
Rabi’ah Asy Syamsiah punya kebiasaan ketika setiap setelah menunaikan shalat ‘isya ia berdandan lengkap dengan busananya. Setelah itu ia mendekati tempat tidur suaminya, lalu berkata pada suaminya, ”Apakah malam ini kamu membutuhkan kehadiranku atau tidak ?”. Jika suaminya sedang berhasrat untuk menggaulinya, maka ia melayaninya hingga puas dan kalau malam itu suaminya sedang tidak berminat menggaulinya, maka ia menukar pakaian yang ia kenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain lalu di gunakan untuk beribadah.

Perlu di ketahui bahwa Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah bersuamikan Ahmad bin Abu huwar itu atas kehendaknya sendiri, maksudnya Rabi'ah pula lah yang pertama-tama melamar syeikh Ahmad supaya berkenan memperistri dirinya.

Jadi dahulu kala Rabi’ah binti Ismail itu semula mempunyai suami yang kaya. Setelah kematian suaminya, ia memperoleh harta warisan yang sangat besar. Pada saat itu ia kesulitan menafkahkan harta yang sangat banyak itu, mengingat ia seorang perempuan yang terbatas untuk bergerak kesana kesini. Maka karena itu ia bermaksud melamar syeikh Ahmad dengan tujuan agar dapat menasarufkan (menghibahkan) hartanya demi kepentingan islam dan di berikan kepada orang orang yang membutuhkan, yang demikian itu karena Rabi’ah binti Ismail memandang syeikh Ahmad sebagai orang yang dapat menjalankan amanat, sedang Rabi’ah sendiri seseorang yang adil.
Ketika mendapat lamaran dari Rabi’ah, syeikh Ahmad berkata : ”Demi Allah, sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah, sebab aku ingin berkonsentrasi untuk beribadah”.
Rabi’ah pun menjawab : ”Wahai Syeikh Ahmad, sesungguhnnya kosentrasiku dalam beribadah itu lebih tinggi daripada dirimu. Aku sendiri sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi, tetapi tujuanku menikah kali ini tidak lain adalah agar dapat menasarufkan harta kekayaan yang kumiliki untuk di berikan kepada saudara saudaraku yang muslim dan untuk kepentingan islam sendiri. Akupun mengerti bahwa engkau itu orang yang shalih, tapi justru dengan begitu  aku akan memperoleh keridhoan dari Allah”.
Syeikh Ahmad berkata : ”Baiklah, tapi aku minta waktu, Aku hendak meminta izin guruku”. Lalu syeikh Ahmad menghadap gurunya, yakni Syeikh Abu Sulaiman Addarani. Sebab gurunya itu dulu pernah melarang dirinya untuk menikah lagi, (Katanya : ”Setiap orang yang menikah, sedikit atau banyak pasti akan terjadi perubahan atas dirinya”.)
Tetapi setelah Abu Sulaiman mendapat penjelasan dari muridnya mengenai rencana Rabi’ah, ia berkata : ”Kalau begitu nikahilah dia, karena perempuan itu seorang wali”.

Kisah kisah Rabi'ah binti Ismail yang serupa seperti kisah Rabi’ah Adawiyah itu sesungguhnya cukup banyak. Tapi lazimnya terjadi pada masa lampau, lalu bagaimana untuk masa sekarang ? Rasanya sangatlah sulit dijumpai adanya seorang wanita yang bertingkah baik seperti mereka berdua.

Wallahu 'alam

Di ambil dalam Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huququzzaujaini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Duo Rabi'ah (Wali Perempuan)"

Post a Comment