Do’a Anak Gembala Yang Ditunggu Penghuni Kubur




Doa orang yang hidup untuk mereka yang mati sangat didambakan. Doa akan meringankan siksa dan memberikan ampunan buat mereka yang telah mendahului kita.
Adalah Ibrahim, remaja belia berusia 17 tahun itu, tak pernah sedikitpun bersedih. Bukan karena ia anak orang yang cukup berada di Barzan, Irak Utara. Tapi, ia memang memiliki pembawaan yang selalu gembira. Jika ia memiliki rejeki, ia bagi dengan teman-temanya. Itulah yang membuat ia disukai siapa pun.

Satu kelebihan Ibrahim, ia tak pernah mau makan sendiri. Ia selalu mencari teman untuk menikmati makanannya. Meskipun jatah makannya hanya cukup untuk dia sendiri, tapi, dua hingga tiga orang bisa menikmatinya. Jika ia punya uang, semua temannya hampir bisa dipastikan ikut menikmati makanan atau bagian uang.



Kesehariannya hanya menggiring kambingnya menuju tanah yang penuh rerumputan atau tumbuhan lainnya. Kambing-kambing itu dilepasnya untuk mencari makan sendiri. Nah, jika kambingnya sudah bisa diperah susunya. Ibrahim selalu memanggil teman-teman remaja sebayanya serta anak-anak kecil penggembala untuk ikut menikmati lezatnya susu kambing.
 
Sekitar waktu Dluha, Ibrahim sudah harus menggiring kambing-kambingnya. Ke mana? Ibrahim akan mengikuti para penggembala ke mana ia giring kambing, sapi dan untanya. Ibrahim dibantu Abdullah dan Waqar yang bekerja untuk keluarganya. Abdullah dan Waqar yang usianya jauh lebih tua darinya, ikut menikmati kedermawanan Ibrahim.
Setiap pagi, kambing-kambing itu dibawa Ibrahim melewati sebuah kuburan tua. Ibrahim selalu berhenti sejenak nyarkub dan berdoa. “Salam bagi kalian semua wahai penghuni kubur. Engkau telah mendahului kami dan kami akan menyusul kalian semua. Insya Allah kita akan bertemu nanti di suatu alam yang sama.”
Ibrahim lantas membaca surah Al-Fatihah, surah Al-Ikhlas 11 kali, surah Al-Falaq, Annas, serta ayat Kursi. Setelah itu ia berdoa. “Ya Allah sampaikan bacaan ayat-ayat suci tadi untuk semua kaum muslimin yang menghuni kuburan ini. Ampunilah mereka, berikan cahaya benderang untuk mereka.”
Ketika pulang, ia lewat tempat yang sama dan Ibrahim juga melakukan hal yang sama. Meski ia kadangkala bercanda dengan Abdullah dan Waqar, namun, ketika sampai di kuburan itu, ia lantas berhenti serta melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan saat pergi. Abdullah dan Waqar ikut khusyuk berdoa mengikuti apa yang dilakukan Ibrahim.
 “Mengapa engkau selalu nyarkub berdoa di kuburan itu?” tanya Abdullah.
 “Tidak hanya kuburan itu. Jika aku melalui kuburan mana pun aku selalu menyempatkan untuk nyarkub berdoa memohon ampunan untuk mereka serta menyampaikan salam untuk mereka. Bukankah ini ajaran Rasulullah”, Jawab Ibrahim.
 “Kita kan tidak mendengar balasan salam mereka?”, Abdullah bertanya kembali.
 “Iya. Kata Rasulullah begitu. Kita tak bisa mendengar kata-katanya. Tapi, binatang bisa mendengarnya.”, jawab Ibrahim
 “Apa mereka menikmati doamu?”, tanya Abdullah
 “Tentu. Mereka membutuhkan doa kita. Kata syaikh-syaikh, doa kita sangat membantu meringankan penderitaan mereka di kubur.”, Jawab Ibrahim
Entah, apakah karena ia suka mendoakan orang lain, terutama yang telah mati, atau karena suka bersedekah sehingga ternak yang digembalanya, Ibrahim selalu menghasilkan nilai jual yang baik. Kambing-kambingnya cepat gemuk dan harganya paling mahal dibanding kambing yang lain, sejenis dan seukuran yang sama.
Karena itu, teman-teman gembala lainnya mulai mengikuti langkah yang dilakukan Ibrahim. Sehingga setiap pagi, bisa disaksikan parade penggembala yang berhenti bergantian di depan kuburan untuk nyarkub berdoa bersama. Belasan pemuda Barzan menggembala ratusan ternak dari kambing sampai unta. Di tengah jalan mereka bernyanyi bersama dari syair-syair warga desa Barzan sendiri.
Akan tetapi, suatu pagi Ibrahim dan kawan-kawan tak melewat kuburan itu. Hampir semua penggembala pada hari itu tak ada yang melewati kuburan karena secara kebetulan letak lahan gembala yang banyak pohon hijau itu kali ini tidak lagi di arah biasanya. Mereka sekarang ke arah utara karena daerah selatan mulai kering karena musim panas.
 “Ibrahim, kita tidak nyarkub ya?” tanya Abdullah.
 “Sangat menyesal kita tidak melewat kuburan. Kita tidak bisa mengucap salam kepada mereka. Tapi, besok, meski kita tak melaluinya, kita paksakan sejenak berbelok untuk menyampaikan salam dan doa buat mereka.”, jawab Ibrahim
Niat baik Ibrahim ini disampaikan kepada penggembala yang lain sehingga mereka sepakat akan melewati kuburan sebelum menggembala dan demikian pula ketika mereka pulang. Mereka bersedia sedikit berkorban waktu dan jarak.
Malam itu Ibrahim memang sangat menyesal tidak bisa mampir ke kuburan dan berdoa. Malam itu karena letih ia tertidur di kamar Abdullah dan Waqar yang terdapat di luar rumah. Ibrahim tidak tidur di kamarnya sendiri di dalam rumah induk.
Tiba-tiba, pada malam itu ia bermimpi didatangi ratusan orang yang mengenakan baju putih-putih. Wajah mereka tampak sedih dan menunjukkan butuh sesuatu. Ibrahim sangat kaget dan ketakutan, dalam mimpinya. Mereka semakin mendekati Ibrahim dengan kangkahnya yang lemah.
 “Assalamu alaikum,” sapa mereka.
 “Wa alaikum salam. Ada apa gerangan dan siapakah gerangan tuan-tuan ini? Apa salah saya sehingga tuan-tuan mendatangi saya.”, Jawab Ibrahim
 “Kami semua ini adalah penghuni kuburan Barzan yang setiap pagi dan sore engkau selalu datang nyarkub menyampaikan salam serta berdoa untuk kami. Kami mengucapkan terima kasih kepadamu dan juga kepada teman-temanmu yang bersusah payah bersedia mendoakan kami. Tapi, tadi dan sore tadi engkau dan teman-temanmu yang lain tak lagi nyarkub mengunjungi kami. Apa dosa kami wahai anak muda.”, tanya mereka yang ternyata adalah penghuni kubur yang biasa didoakan Ibrahim dan teman-temannya.
Ibrahim baru teringat. “Masya Allah, maafkan aku wahai orang-orang yang telah mandahului kami semua. Sungguh kami menyesal dan kami berjanji akan selalu nyarkub mampir kuburan kalian mulai besok, meskipun arah gembala kami tak lagi ke arah itu. Entahlah, aku selalu bahagia ketika selesai mendoakan orang lain, terutama kalian wahai ahli kubur.”
 “Sungguh anak muda yang dirahmati Allah. Salammu menghibur kami semua yang dibekap sepi. Doamu bagaikan penyejuk bagi kami semua. Sebagian kami menerima siksa dan terhenti siksaan itu berkat doamu. Karena itu sebagian kami tak bisa datang menghadapmu karena tengah mengalami siksaan kubur di malam ini. Tolong senantiasalah lewat dan doakan kami semua. Bagi kami yang tak disiksa, doamu menjadi hiburan. Doamu menjadi cahaya terang yang menerangi kegelapan alam kubur.”, kata para penghuni kubur
 “Kami berjanji untuk tetap mendoakanmu wahai ahli kubur.”, jawab Ibrahim
 “Anak muda, rasa terima kasih itu kami sampaikan dalam bentuk doa juga. Kami selalu memohon kepada Allah agar mereka yang suka menolong orang lain mendapat kemudahan hidupnya serta diampuni dosanya.”, kata para penghuni kubur
 “Terima kasih wahai para penghuni kubur. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya buat kalian semua.”, jawab Ibrahim mendoakan kembali para penghuni kubur itu.
Ibrahim kemudian terjaga. Ia menangis yang membuat Abdullah dan Waqar kaget. Ia kisahkan mimpinya. Ia yakin, di antara mereka yang datang itu ada juga nenek moyangnya yang dikuburkan di situ. Ia sangat menyesal tak datang ziarah kemarin.
Mereka semua berjanji untuk selalu bedoa untuk kelapangan para ahli kubur. Mereka sadar, bahwa dengan mendoakan untuk orang lain pasti tidak akan sia-sia. Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang memiliki perhatian kepada hamba lainnya, meski sebagian mereka telah meninggalkan alam fana ini.

[Musthafa Helmy dan dikembangkan dari Irsyadul Ibad wangsit berita9online.com]

sarkub.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Do’a Anak Gembala Yang Ditunggu Penghuni Kubur"

Post a Comment