Berdakwah tanpa dalil


Secara etimologi Dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu دعا-يدعو menjadi bentuk masdar دعوة yang berarti Seruan, Ajakan, atau Panggilan. Seruan yang digunakan dalam Dakwah bertujuan untuk mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan atau merubah pola kebiasaan hidupnya. Sedangkan dalam artian terminologis lebih cenderung diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh seorang pendakwah kepada orang lain agar dapat kembali ke jalan yang benar.
Dari beberapa pendapat Ahli, seperti Salahuddin Sanusi, Timur Djaelani, Thoha Yahya Omar, Hasymi dan Abdul Karim menyebutkan dakwah merupakan seruan yang berupa penyampaian larangan serta perintah Allah agama seseorang menghindari tindakan yang dapat menghasilkan Dosa.

Dalam Buku Dustur Dakwah, A. Hasmy menjelaskan pengertian dakwah menurut Al-qur'an sebagai seruan yang mengajak seseorang meyakini dan mengamalkan aqidah serta menegakkan Syariat Islam. Seruan ini dalam bentuk lisan maupun perbuatan adapun metode yang digunakan bisa berbagai macam. Syekh Ali Mahfud menjelaskan bahwa Dakwah adalah suatu proses pemberian Motivasi kepada objek dakwah dalam hal manusia untuk melakukan kebaikan sesuai dengan petunjuk.

Adapun jenis dan Metode Dakwah adalah: 1) Fiqhud-dakwah; 2) Dakwah fardiah; 3) Dakwah ammah; 4) Dakwah bil-lisan; 5) Dakwah bil-Haal; 6) Dakwah bit-tadwin; 7) Dakwah bil hikmah.

Dakwah yang bisa kita lakukan dalam perkembangan teknologi yang semakin pesat ini adalah dakwah bit-tadwin (dakwah melalui tulisan), tulisan yang dimaksud bisa dituangkan ke dalam lembaran kertas maupun postingan media sosial. Hanya saja, agar ajakan tersebut bisa merasuk ke sanubari pembaca, kita harus menggabungkanya dengan dakwah bil hikmah yaitu dengan cara menyampaikan seruan dengan arif dan bijaksana. Bila kedua metode dakwah ini dilaksanakan akan memberikan kesempatan bagi para pembaca dan pendengar untuk mengambil keputusan sendiri dan tidak dengan melalui paksaan sehingga pelaku benar-benar melakukan karena Allah.

Lantas, haruskah menggunakan dalil dalam setiap tulisan dakwah...?

Jawabanya adalah tergantung segmen dakwah yang ingin dituju. Sebagai contoh, seorang aktivis lingkungan ketika sedang menyerukan (berdakwah) untuk melestarikan lingkungan, ia bisa tidak menggunakan dalil, jika segmen dakwah yang dituju adalah masyarakat umum. Aktivis lingkungan tersebut bisa menuliskan berbagai macam dampak negatif bila masyarakat tidak menjaga kelestarian lingkungan.

Saya bukan anak pondok, bukan pula mahasiswa UIN, bisakah mengambil peranan untuk berdakwah? Saya tidak hafal banyak dalil.

Bisa, berdakwahlah sesuai dengan bidang yang diminati dan geluti. Bila bergerak dibidang kesehatan, maka sampaikanlah tulisan dengan arif dan bijaksana betapa berbahayanya pergaulan seks bebas, misalnya. InsyaAllah akan bernilai Ibadah.

Sehingga, dakwah yang akan kita sampaikan tidak hanya terbatas untuk kalangan muslim sendiri, lebih luas lagi, seruan itu untuk masyarakat umum, untuk seluruh umat. Itulah esensi dakwah yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Semarang, 22 Mei 2016
Al faqir wal Muznib
M. Teguh Adang Diantaris
(Alumni IAIN Mataram)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Berdakwah tanpa dalil"

Post a Comment