Mari hentikan bencana Moral di media (sosmed)


Seperti yang kita ketahui bersama, hampir seantero manusia di negeri ini sudah tidak asing lagi dengan Facebook, Twitter, Google+, Path, dan sejuta sosmed lainnya. Paling tidak setiap satu orang dari kita memiliki satu jenis sosmed tersebut. Pada zaman ini siapa yang tidak mau eksis di sosmed? Salah satu cara yang paling gampang adalah dengan rajin update kejadian-kejadian yang ada, bahkan ikut berperan pula sebagai salah satu penyebar informasi terbaru. Hal tersebut sebenarnya sah-sah saja karena setiap orang bisa menjadi "citizen journalism", Kerjanya gampang, pas ada peristiwa atau informasi terbaru langsung disebar lewat sosmed, kalau bisa sertakan foto, upload ke akun sosmed, dan jadilah sebuah berita. (Benmetan, 2014)
Lebih lanjut, Benmetan (2014) dalam blog pribadinya mengatakan dampak buruk dari citizen journalism bisa mengakibatkan bencana moral di sosmed apabila mereka belum memahami kode etik jurnalistik. Seperti mempublikasikan berita yang berisi konten-konten berisi kengerian tanpa adanya penyensoran terlebih dahulu.
Saat ini serangan bencana moral itupun mulai bermunculan, begitu banyak pelanggaran kode etik jurnalistik yang dilanggar oleh media abal-abal pendukung radikalisme. Dengan dalih mencerdaskan ummat, mereka membenarkan pelanggaran kode etik jurnalistik dengan menyebarkan konten-konten yang berisi kengerian, ketakutan, sadistik, dan kekejaman secara vulgar tanpa dilakukan penyensoran.
Bagi teman-teman yang akhir-akhirnya membaca dan melihat berbagai foto terkait berita teror di suriah, ataupun konten terkait perang di timur tengah sana dimohon untuk tidak dilike ataupun dishare, karena baik kalimat, foto, maupun video tersebut dapat membuat kengerian di masyarakat, terlebih bagi anak-anak yang melihat postingan tersebut
Selain itu, berdasarkan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomer 03 Tahun 2007 tentang Standar Program Siaran Pasal 30 pada huruf (d) disebutkan "gambar korban kekerasan tingkat berat, serta potongan organ tubuh korban dan genangan darah yang diakibatkan tindak kekerasan, kecelakaan dan bencana, harus disamarkan". Sejalan dengan peraturan tersebut, dewan menerbitkan sebuah peraturan Nomor : 01/Peraturan-DP/IV/2015 Tentang Pedoman Peliputan Terorisme, nomor (8) disebutkan "Wartawan tidak menyiarkan foto atau adegan korban terorisme yang berpotensi menimbulkan kengerian dan pengalaman traumatik. Pemuatan foto atau adegan hanya diperbolehkan bila bertujuan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan bahwa terorisme selalu menyasar sasaran umum dan menelan korban jiwa".
Jadi, dimohon agar teman-teman tidak ikut menyebarkan teror berupa kengerian yah. Jangan sampai niat baik teman-teman malah menimbulkan teror berupa perasaan was-was dan rasa ngeri bagi yang lain.
Sumber:
1. Materi Seminar Pelatihan Jurnalistik oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen)
2. Materi seminar pencegahan Terorisme dan radikalisme dalam media jurnalistik oleh BNPT (Badan Nasional Pencegahan Terorisme) dan FKPT (Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme)
3. Lampiran Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia
4. Lampiran Peraturan Dewan Pers
5. Benmetan, T., 2014. Stop Share Foto Sadis di Sosmed!!. dipublikasikan di http://beta-timor.blogspot.com/2014/01/stop-share-foto-sadis-di-sosmed.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mari hentikan bencana Moral di media (sosmed)"

Post a Comment