Almaghfurlah Ya'i Idris & Dalailul Khoirot

Setelah belajar mengaji kapada kedua orang tua, H. Muhammad Mawardi dan Hj. Hasanatun, tahun 1988 bapak berinisiatif memesantrenkan saya ke Pesantren Lirboyo Kediri. Karena ada beberapa hal, saya lebih memilih Pesantren al-Falah Ploso Kediri. Saya yang termasuk menempati pertama kali di asrama Al-Falah II, tempat yang asri dan nyaman. Di sela waktu istirahat sering kali di ajak oleh KH. Zainudin Jazuli mengobrol tentang agama.
Di Pesantren al-Falah, saya belum memasuki sekolah. Di  Pesantren ini saya tidak betah, minder. Apalagi sering dibully anak-anak Manyar. Saya Akhirnya pindah ke Pesantren Lirboyo. Di  sini saya betah, apalagi ada kakak saya, Ishomuddin yang lebih dahulu.

Di Pesantren Lirboyo, saya lulus masuk di kelas I Mts. Saya ditanya Kiai Idris, “kelas pinten sampeyan (Kelas berapa kamu?
“Kelas tigo (tiga) Tsanawiyyah, Kiai?”jawab ku
“Kuncine ilmu iku ono ing kelas papat Ibtidaiyyah” (kunci ilmu itu ada dikelas empat Ibtidaiyyah),” saran Kiai Idris

Kelas IV Ibtidaiyyah saya masuki. Suasa senang, gembira. Semangat belajar membara. Di kelas ini saya memegang rois baca, dengan spesial Shorof. Tiga bulan sekolah dan di pesantren, Allah mulai menguji sakit kepada saya. Di pesantren ini saya sakit kurang lebih 5 tahun. Hanya bisa sekolah satu tahun

Kakak Saya Ishomudin  sering meminta air doa agar disembuhkan Allah SWT melalui  Kiai Idris.
Kiai Idris berkata kepadaku, "ora usah sedih. Ora usah nangis. Wes dalanmu mondok ing keneh loro lan loro. Sesok awakmu bakal dadi kiai" (tidak perlu sedih. Tidak perlu menagis. Sudah menjadi  jalanmu mondok di sini sakit dan sakit).
Pada tahuh, 2005, saya bersama karib saya, H. Tsauban Abdul Aziz sowan ke Kiai Idris. Saya mengadukan perjuangan di kampung kelahiran saya, yang diganggu oleh keluarga sendiri.
“Hijrah nang Jakarta. Woconen dalail lan hizib Nawawi !” Perintah Kiai Idris. Sepontan saya terperangah dan kaget.

Saya berangkat hijrah dan untuk sementara waktu tinggal di rumah H. Tsauban di Pancoran Jakarta Selatan.
Jarak beberapa bulan saya menemui kiai Idris di Pesantren Ash-Shidiqiyyah Kebon Jeruk. Saya dinasehati banyak hal oleh beliau. Termasuk pengobatan melalui  (sedekah) kelenci, kambing.

Di hiruk pikuk Jakarta, saya berdakwah dan menjadi tabib. Pada tahun, 2010, saya bersama istri, Hj. Lia Suraedah merintis pesantren al-Qosimiyyah Parung Bogor.

Pada suatu hari, saya dipesan kakanda Ishomuddin, bahwa saya disuruh sowan ke beliau bersama Istri.
“Wocone dalail karo bojomu (baca dalail bersama istrimu),” perintah Kiai Idris. Saya dan istri diberi ijazah dalail dan beberapa doa tambahan
“Dadi Kiai kudu gelem ngaji lan Jamaah karo santri. Ora  gelam ngaji lan jamaah ora usah gawe pondok, ora usah dadi kiai (menjadi Kiai harus mau mengajar mengaji dan memimpin berjamaah bersama santri. Tidak mau mengajar santri lan berjamaah, jangan mendirikan pesantren, jangan menjadi kiai), “ wasiat kiai Idris
Ketika diinformasikan Kiai Idris Lirboyo meninggl, saya langsung menuju ke bandara Soekarno-Hatta. Naik Pesawat lion Air. Sampai di Lirboyo kira-kira  pukul  8 malam.

Saya cepat bergegas untuk mensholati Jenazah beliau. Kakak Saya, Ishomuddin, termasuk yang mengkordinir imam. Saya ikut mensholati Jenazah. Di Pagi harinya saya menziarahi makam beliau. Saya menangis betapa karamahnya beliau ini. Begitu ampuh sabdanya sehingga saya benar-benar apa yang dikatakan beliau, dan diamanahi Allah Pesantren. Padahal saya di Lirboyo tidak bisa sekolah sebagaimana layaknya para santri. Di pesanteren sakit dan sakit

Demikian juga kakak saya, Ishomuddin, disibukkan berkhidmah kepada beliau sehingga sering kali tidak masuk sekolah. Setelah kami berdua berjuang di masyarakat kami berdua bisa sama-sama mendirikan pesantren dengan barakahnya Kiai Idris
Semoga beliau diampuni Allah SWT dan diberi ridha-Nya. Amiiiiin

Penuturan dari M.Munawwir al-Qosimi

(Rois Faisal Ridho)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Almaghfurlah Ya'i Idris & Dalailul Khoirot"

Post a Comment