Alasan Nabi Tidak Ditahlili

Dewasa ini semakin marak aliran-aliran transnasional yang notabenenya sering menghantam amaliyah-amaliyah masyarakat nusantara yang sudah lama mendarah daging. Tak tanggung-tanggung aliran inipun sering menyematkan kalimat bid'ah dan kafir kepada masyarakat yang tidak sepaham dengan mereka.

Kalimat boom yang selalu menjadi andalan mereka adalah "Nabi tidak pernah melakukannya atau tindakan tersebut tidak ada di zaman nabi", dengan hanya bermodal satu atau dua hadits. Salah satunya hadits :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Barangsiapa yang membuat hal baru dalam perkara (agama) kami, yang bukan termasuk darinya maka hal itu tertolak.

Padahal jika mereka sedikit saja mau untuk mengunyah setiap dalil agar menjadi soft pasti tidak akan ada pemahaman-pemahaman keliru seperti itu. Dalam ilmu ushul fiqih itu mengenal istilah dalalah manthuq dan dalalah mafhum. Dalalah manthuq adalah :
دلا لـة اللـفـظ عـلى حـكـم شـئ ذكـر فى الـكلآ م ونـطـق بـه
Hadits tersebut memberi pemahaman dari segi dalalah manthuq bahwa perkara baru yang tertolak hanyalah PERKARA URUSAN AGAMA (fokus lafadz في أمرنا). Setelah itu akan terdekteksi sebuah qoyyid atau barometer atau pembatas dalam hadits tersebut, yaitu lafadz ما ليس منه (sesuatu yang tidak memiliki dasar/dalil) yang merupakan sifat dari perkara baru yang tertolak tersebut. Sehingga ketika berpindah kedalam bab Dalalah Mafhum Mukhalafah atau implikasi kebalikannya yang nantinya secara logis akan timbul lafadz ما منه (sesuatu yang memiliki dasar/dalil).

Jadi.....
Kesimpulannya bahwa sesuatu yang baru tapi memiliki dalil itu tidak TERTOLAK. Hasil dari kunyahannya kurang lebih
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Menjadi
من أحدث في أمرنا هذا ما منه فهو لا رد

Nah, itu contoh sedikit ketika mereka mau rajin mengunyah suatu dalil dengan ilmu.

Kembali ke tema.
Salah satu amaliyah yang sering di bombardir oleh mereka adalah Tahlilan. Seperti yang saya katakan diatas, bahwa alih-alih mereka membid'ahkan tahlilan salah satunya karena dizaman Nabi tidak ada. Lalu kadang timbul pertanyaan "Apakah Nabi itu di tahlili ?"

Nabi memang tidak ditahlili, tapi ada argument untuk membackup kenapa nabi tidak di tahlili, yaitu :

ﺣﻮﻝ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺬﻛﺮﻯ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪﺍﻟﻨﺒﻮﻯ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻟﺴﻴﺪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻠﻮﻯ ﺍﻟﻤالﻜﻰ ﺍﻟﺤﺴﻨﻰ.
ﺇﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺟﻼﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ ﻗﺪ ﻛﻔﺎﻧﺎ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻐﺎﻟﻄﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻓﻰ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺍﻟﺤﺎﻭﻯ. ﻧﺼﻪ : ﺇﻥ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﻭﻓﺎﺗﻪ ﺃﻋﻈﻢﺍﻟﻤﺼﺎﺋﺐ ﻟﻨﺎ . ﻭﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺣﺜﺖﻋﻠﻰ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻜﺮ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻭﺍﻟﺼﺒﺮﻭﺍﻟﺴﻜﻮﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺼﺎﺋﺐ ﻭﻗﺪ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺑﺎﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ ﻭﻫﻰ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻜﺮ ﻭﻓﺮﺡ ﺑﺎﻟﻤﻮﻟﻮﺩ . ﻭﻟﻢ ﻳﺄﻣﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺑﺬﺑﺢ ( ﻋﻘﻴﻘﺔ ) ﻭﻻ ﺑﻐﻴﺮﻩ , ﺑﻞ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻴﺎﺣﺔ ﻭﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﺠﺰﻉ ﻓﺪﻟﺖ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺤﺴﻦ ﻓﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻮﻻﺩﺗﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺩﻭﻥ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﺤﺰﻥ ﻓﻴﻪ ﺑﻮﻓﺎﺗﻪ ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺭﺟﺐ ﻓﻰ ﻛﺘﺎﺑﻪ ( ﺍﻟﻠﻄﺎﺋﻒ ) ﻓﻰ ﺩﻡ ﺎلرﺍﻓﻀﺔ ﺣﻴﺚ ﺍﺗﺨﺬﻭﺍ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻣﺄﺗﻤﺎ ﻷﺟﻞ ﻣﻘﺘﻞ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﻭﻟﻢ ﻳﺄﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺎﺗﺨﺎﺫ ﺃﻳﺎﻡﻣﺼﺎﺋﺐ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﻣﻮﺗﻬﻢ ﻣﺄﺗﻤﺎﻓﻜﻴﻒ ﻣﻤﻦ ﻫﻮ ﺩﻭﻧﻬﻢ . ﺍﻫ
Sesungguhnya al-imam al-'allamah Jalaluddim as-Suyithi sudah mencukupi kita dalam menolak kesalahan besar tersebut. Beliau berkata dalam kitabnya ' Al-hawi :
"Sesungguhnya kelahiran Nabi saw merupakan agung-agungnya semua nikmat dan meninggalnya Beliau merupakan paling agungnya segala musibah. Syariat islam selalu mendorong untuk menampakkan syukur atas nikmat-nikmat dan sabar serta diam (tidak mengeluh) ketika tertimpa musibah-musibah ".
Dan sungguh Syara' telah memerintahkan untuk melaksanakan Aqiqoh saat kelahiran bayi. Dan Syara' tidak pernah pada saat ada kematian untuk menyembelih hewan Aqiqoh dan juga tidak dengan yang lainnya. Akan tetapi Syara' melarang untuk menangis meratapi dan menampakkan rasa duka. (dengan demikian) Maka Qaidah-Qaidah syariat menunjukkan bahwasanya sangat bagus dalam bulan ini (Robiul Awwal) untuk menampakkan kebahagiaan sebab lahirnya Nabi saw, bukan menampakkan duka sebab meninggalnya beliau. Dan sungguh telah berkata Ibnu Rojab dalam kitabnya " Al-Lathoif " dalam mencela Kaum Rofidloh, sekira mereka
menjadikan hari Asyuro' sebagai hari bela sungkawa atas kematian sayyidina Husain sedangkan Alloh dan Rasulnya saw tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari-hari tertimpa musibahnya dan kematiannya para Nabi sebagai hari bela sungkawa. Lantas bagaimana untuk orang dibawah mereka ?
(Kitab Haulul Ihtifal Bi Dzikril Maulidin Nabiyyi Asysyarif)

Fokus lafadz
ﻭﻟﻢ ﻳﺄﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺎﺗﺨﺎﺫ ﺃﻳﺎﻡﻣﺼﺎﺋﺐ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﻣﻮﺗﻬﻢ ﻣﺄﺗﻤﺎﻓﻜﻴﻒ ﻣﻤﻦ ﻫﻮ ﺩﻭﻧﻬﻢ

Ini alasan kenapa pada waktu itu Nabi tidak ditahlili.

Lalu bagaimana dengan zaman sekarang yang tak sedikit masyarakat melakukan tradisi tahlilan ? 

Tradisi tahlilan itu memang mulai ada sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istinbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, kemudian untuk menjawab pertanyaan diatas cukup simple.

Tradisi tahlilan yang dilakukan masyarakat zaman sekarang adalah salah satu bentuk keberhasilan ulama-ulama terdahulu dalam proses islamisasi.
“Al aadatu/al urfu muhakkamun”

(Rois Faisal .R)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Alasan Nabi Tidak Ditahlili"

Post a Comment