Untuk Apa Aku Mondok???


Assalamualaikum wr. wb.

UNTUK APA AKU MONDOK???

Pertanyaan yang sebenarnya hampir tabu untuk diucapkan, tapi cukup bisa membuat fluktuasi dalam diri, hingga membuat seseorang menjadi rapuh dan terombang ambing dalam keraguan.
Jujur, untuk saat ini, setelah kurang lebih 4 tahun mondok. Aku tak pernah mengerti akan arti mencari ilmu, 

untuk apa sebenarnya mencari ilmu?
untuk apa kita harus hafalan?
untuk apa kita harus ini, kita harus itu? walaupun sudah beribu hadits, beratus qoul 'ulama, bahkan berpuluh ayat ayat suci telah mampir ke telinga ini, aku sungguh benar-benar tak tahu, apa hakikat mondok itu sendiri. 

Aku memang sadar, hatiku sungguh keras, tak pernah mau menerima kenyataan ataupun sedikit aturan.
Pernah suatu ketika, aku bertanya kepada guruku, seorang yang memang benar-benar tangguh untuk menghadapi diriku, seseorang yang benar-benar aku takdzimi, seseorang yang telah benar-benar mengubahku, walaupun aku sendiri tak yakin atas perubahan apa dalam diriku...
Aku bertanya pada beliau: "abah yai, apakah aku masih bisa meneruskan untuk mondok lagi?"

Karena pertanyaan inilah yang selalu mengaduk-aduk perasaanku setiap hari. Bahkan suatu ketika, terpikir olehku untuk keluar, menjadi manusia paling bebas di dunia, tanpa ada aturan yang mengikat, tanpa ada aturan untuk tidak pacaran, tanpa ada aturan untuk ngaji, sungguh, jika aku boleh jujur, aku amat muak dengan segala aturan itu.

Tapi, apa kata kyai? aku sendiri tak paham dengan jawaban guruku ini, sebuah jawaban yang tak pernah terlintas dalam benakku slama ini, dengan kearifannya Beliau bilang: "itu tergantung dirimu sendiri, keyakinan di hatimu sendiri dan aku tak bisa membantu apapun, hanya dirimulah dan tergantung hatimu sendiri".

Seketika pada detik itu juga, hatiku mencair, meloloskan beribu partikel air yang menembus pertahanan di mataku, aku tergugu, menangis di depan abah yai, aku memang tak menyangka akan menangis, di usiaku yang menginjak dua puluh ini dan ditambah aku seorang lelaki, tak sepantasnya aku menangis untuk hal seperti itu, tapi sungguh, aku benar-benar tak tahu kenapa aku menangis, aku biarkan saja air mataku mengalir, toh aku menangis di depan orang yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri.

Dan sampai tulisan ini kubuat, aku masih sering menangis sendiri, aku kadang merenung dalam keheningan malam, menangis kembali, memikirkan betapa lemahnya aku, betapa rumitnya masalah ini, aku paham dengan kata-kata yang selalu terngiang dalam sanubari, "DADI SANTRI KUE ANGEL, OPO MENEH DADI KYAI"

kini aku benar-benar paham kata-kata itu, sungguh, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Di pondok, aku hanya melamun, tidur, dan sekedar mengikuti pengajian, namun jiwa mengajiku memang telah hilang, menguap entah kemana.

Aku hanya bisa berdoa kepada Allah, jika memang ini yang terbaik buat hamba, segera selesaikanlah konflik batin ini, hamba memang benar-benar lemah, untuk ukuran seorang lelaki.
Dan untuk kawan-kawan santri, apalah yang harus dilakukan oleh seorang santri jika sudah begini, seolah "hidup enggan matipun tak mau". Dan Jawabnya ada di hati kalian sendiri.
Bahkan jika kalian pernah merasakan hal ini maka bersabarlah,
Kalian cukup yakin bahwa keberkahan dan jalan terang akan segera datang.

Waalaikumsalam wr. wb.

#Pondok Pesantren Rodhotul Ulum- Karangtanjung
Oleh: Umar Ade Hidayat
Red: Isa Anshori

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Untuk Apa Aku Mondok???"

Post a Comment