Terangnya Cahaya Rasulullah Saw Oleh Al-Habib Ahmad bin Novel bin Jindan


Santrionline 
Sumedang, beriku salah satu kisah keindahan Kanjeng Rasul Saw, yang dikisahkan oleh Al-Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan, selamat membaca semoga menambah kecintaan kita kepada Kanjeng Rasul Saw :

Sesungguh nya Rasulullah saw 15 abad yang lalu, beliau lahir ke dunia ini pada 12 robiul awal, di lahirkan oleh ibunda beliau assayyidah Aminah pada hari Senin 12 Robiul Awwal. Lahir pada saat saat sebelum Subuh, yang membantu persalinan sayyidatuna Saffah ibunda dari sayyidina Abdurahman bin Auf. Di sebutkan bahwa Rasulullah saw tatkala lahir, beliau dalam keadaan bersujud, dalam keadaan telah terkhitan, tali pusar beliau telah putus.

Maha besar Allah yang telah menciptakan Nabi Muhammad saw dan Rasulullah jatuh kepelukan sayyidatuna Saffah dan di berikan kepada ibundanya Nabi Muhammad saw.

Lalu beliau menatap kelangit seolah olah jari nya menunjuk kelangit dan mengucapkan “La ilaha ilaallah” menunjukan ke esaan Allah Ta ala.

Rasulullah di susui oleh sayyidatuna Halimah yang datang dari perkampungan Sa’at. Dahulu bangsa Arab memberikan anak anak mereka kepada orang yang di kampung untuk di susui, sebab udara disana lebih bagus dan sejuk. Maka berangkatlah mereka para kaum Sa’at untuk menerima anak anak yang akan mereka susui. Saat itu sayyidatuna Halimah adalah seorang yang miskin, unta dan keledai yang beliau gunakan sudah tua, kurus, kering sehingga beliau tertingal dari rombongan. Maka ketika beliau sampai, bayi bayi dari keluarga kaya sudah di ambil oleh teman teman nya, hanya tertinggal lah bayi yatim yaitu Rasulullah saw. Pada saat pertama kali sayyidatuna menatap wajah Rasulullah saw, beliau sudah jatuh hati dan langsung membawanya untuk di susui di kampung nya.

Semua orang tau bahwa itu hanya bayi yatim yang ibu dan kakek nya bisa kasih apa kepada mereka. Maka dari itu mereka tak melihat Rasulullah saw, di bawahlah Rasulullah oleh sayyidatuna Halimah pulang.

Kata sayyidatuna Halimah: “Dulu sebelum Rasulullah datang, setiap malam bayi ku selalu menangis sebab kurang nya susu dan gizi, tapi semenjak Rasulullah saw datang, setiap malam aku dapat tidur nyeyak dan bayi ku pun dapat tidur nyenyak. Setiap malam bulan purnama aku selalu mematikan lampu minyak karena untuk mengirit bahan bakar minyak yang sulit di peroleh, tapi semenjak Rasulullah datang, rumah ku seperti bulan purnama setiap malam seakan akan purnama ada di tengah tengah kami. Dan rumah kami pun setiap malam tidak membutuh kan lampu minyak lagi”.

Benar yang di katakan oleh para penyair “Anta syamsu, anta badrun anta nurun fauqo nuri”
-Yaa Rasulullah engkau bagaikan matahari, bagaikan bulan purnama, cahaya di atas segala cahaya.

Maka jika dalam hidup seseorang dalam kubur nya dia mendapatkan cahaya dalam kuburan nya, itu disebabkan cahaya Nabi Muhammad yang ia jalin dengan cinta waktu ia masih hidup. Dan sebaliknya jika dalam wafat nya ia tidak menemukan cahaya dalam kubur nya, itu di sebabkan ia tak mau mengikat cahaya itu dengan cinta kepada Nabi Muhammad saw.

Maka tatkala semua manusia dirundung kegelapan pada hari kiamat nanti, di saat matahari Allah padamkan cahaya nya, namun cahaya Nabi Muhammad justru akan semakin terang benderang, semakin di cari oleh para Nabi dan manusia. Para sahabat mengatakan “Sungguh aku belum pernah melihat wajah sebelum atau sesudah Rasulullah saw yang lebih indah, tampan dan bercahaya dari wajah Nabi Muhammad saw”.

Lalu ada sahabat yang bertanya “Seperti apakah wajah Rasulullah saw?” ada sahabat yang menjawab “Wajah beliau seperti bulan purnama dan ketika dipandang, wajah beliau lebih indah dari bulan purnama”. Waktu itu pernah ada majelis bersama Rasulullah saw pada malam hari, lantas ada sahabat yang membandingkan wajah Nabi dengan purnama yang ada di atas kepalanya, dia melihat purnama lalu Rasulullah lalu melihat purnama lagi terus sampai ia benar memastikan lalu beliau berkata: “Demi Allah, dia bersumpah wajah Rasulullah saw lebih indah dan bercahaya dari pada bulan purnama”.

Sampai dikatakan oleh para ulama, seandainya para penyair di seluruh dunia di kumpulkan dan disuruh menceritakn wajah Rasulullah saw, maka tak akan sanggup umur mereka untuk menceritakan ke indahan wajah beliau. Sedangkan ke indahan itu tidak akan pernah pudar dan usai seperti usia usia mereka.

Dikatakan Anas bin Malik “Aku selama ikut Rasulullah saw hijrah ke Madinah, tinggal bersama nya selama 10 tahun hingga Rasulullah saw wafat, ketika saat Rasulullah saw pertama kali masuk Madinah, saat itu nampak kota Madinah menjadi terang benderang. Namun ketika Rasulullah saw wafat, nampak pula kota madinah menjadi gelap, usang, suram”.


Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala alihi washobihi wasalim

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terangnya Cahaya Rasulullah Saw Oleh Al-Habib Ahmad bin Novel bin Jindan"

Post a Comment