Studi Tahqiq dan Usaha Menjaga Warisan Intelektual.

Studi Tahqiq dan Usaha Menjaga Warisan Intelektual.


Kedudukan studi tahqiq atas naskah kuno menempati urutan pertama dan dianggap sebagai pendekatan riil untuk menguji suatu manuskrip. Karena dalam praktiknya, untuk melakukan riset atas naskah-naskah kuno, tidak hanya sekedar membacanya saja. Artinya, dalam hal kaitan untuk menguji kebenaran suatu naskah diperlukan suatu metode, yaitu tahqiq. Prof. Nabilah Lubis (2007:7) memberikan pengertian secara etimologis soal tahqiq sebagaimana dituturkan di muka. Menurutnya tahqiq yg dalam pembahasan kajian ini berarti pemeriksaan merupakan derivasi dari kata haq yg artinya benar. Maksudnya adalah dalam konteks ini tahqiq berarti pemeriksaan akan kebenaran.
Pada perkembangan selanjutnya, studi tahqiq semakin digandrungi para pemerhati kajian sejarah, adab, dan humaniora. Hal itu bisa dibuktikan dengan maraknya penelitian-penelitian dengan latar belakang pemeriksaan atas naskah-naskah kuno, baik dalam dalam konteks Tahqiq al-Nushus atau Tahqiq al-Turats. Pada wilayah tahqiq al-Turats misalnya, kita sering melihat nama para pentahqiq di bawah nama kitab al-Turats. Itu maksudnya adalah bahwa kitab tersebut sudah diteliti dengan seksama, baik pada teks atau kertas di mana teks itu tertuang.

Soal metode tahqiq, sebagaimana dijelaskan di atas, Prof. Oman Fathurrahman (2010:20-24) menjelaskan setidaknya ada empat metode tahqiq. Pertama edisi Faksimile, yaitu metode yang ditempuh oleh peneliti dengan cara menyunting dan membiarkan tampilan teks apa adanya. Hanya saja yang bersangkutan memubuhkan pengantar, komentar, serta analisis seperlunya. Kedua, edisi diplomatik. Dalam metode ini peneliti mengkaji naskah untuk tujuan menyajikan teks apa adanya. Namun walau begitu peneliti boleh menandai bagian teks dengan tanda baca tertentu.
Ketiga adalah edisi campuran. Metode ini merupakan jalan yang ditempuh oleh peneliti untuk menghasilkan suntingan teks setelah menggabungkan beberapa bacaan naskah dari versi teks dengan versi teks yang lain. Keempat adalah edisi kritis. Dalam hal ini peneliti berusaha untuk menampilkan sebuah teks setelah diteliti tentunya, ke dalam sebuah naskah baru dengan kualitas bacaan yang terbaik.

Demikian pentingnya studi tahqiq ini dalam hierarki khazanah keilmuan, terutama dalam konteks khazanah turats Islam. Karena tanpa peran studi filologi, tahqiq, dan tadqiq kita tidak akan mengetahui betapa luas warisan intelektual Islam di masa lalu. ---- Semogan bermanfaat---
Jakarta, 16/04/2016

Mohammad Khoiron, Pegiat Kajian Sosiologi Agama.
Twitter: @MohKhoiron

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Studi Tahqiq dan Usaha Menjaga Warisan Intelektual."

Post a Comment