Spirit 'Mondok' sebagai Strategi Tekan Radikalisme

Oleh Wasid Mansyur, Santrionline - Sulit terbantahkan kesimpulan yang menyebutkan bahwa institusi pesantren cukup besar kontribusinya dalam mewarnai perjalanan kehidupan beragama dan berbangsa di negeri ini. Pasalnya, lembaga yang ada cukup lama mengiringi perkembangan Islam di Indonesia telah memberikan nuansa cara pandang tertentu umat Islam dalam memahami agamanya di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, dan karakternya berbeda dengan masyarakat Arab sebagai tempat kelahiran Islam.

Untuk itu, mengabaikan peran kultur pesantren dalam kehidupan berbangsa dan beragama sama dengan melupakan sejarah. Lupa atas sejarahnya sendiri niscaya menjadi sebab seseorang akan kehilangan identitasnya. Akibatnya, seseorang akan lebih senang nilai-nilai lain yang beda, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai kultural yang telah dititahkan oleh para pendiri bangsa, yakni titah yang mampu menciptakan harmoni antara nilai-nilai normatif Islam dengan visi kebangsaan seperti penerimaan atas Pancasila.

Bila dikaitkan dengan hal ini, maka masih maraknya pandangan dan sikap radikal dipastikan bagian dari usaha mengabaikan –bahkan melupakan—peran-peran pesantren yang cukup lama membumikan visi keislaman yang moderat dan toleran di negeri ini. Parahnya, kelompok-kelompok radikal ini dengan mudah belajar Islam dengan seenaknya dan dengan cara-cara yang serba instan. Padahal, untuk memahami ajaran Islam dari Al-Qur’an dan hadits seseorang harus memiliki ilmu kebahasaan yang kuat. 

Perangkat kebahasaan ini yang memungkinkan agar mereka yang hendak memahami bahasa agama tidak mengandalkan pada makna lahiriyah dengan bersumber dari terjemahan. Bahasa agama, misalnya Al-Qur’an, memiliki keunikan tersendiri, misalnya penuh dengan kiasan, majaz ataupun materi lain yang disebutkan dalam kajian stilistika Arab (Balagha). Mengandalkan pada makna lahiriyah menjadi sebab sempitnya cara pandang seseorang, bahkan memantik lahirnya radikalisme sebab yang berbeda selalu dipandang salah.

Gerakan 'Ayo Mondok' yang diinisiasi oleh tokoh-tokoh muda pesantren (baca: santri), harus didukung bersama. Gerakan ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan didorong oleh kondisi sosial yang dihadapi bangsa saat ini. Misalnya, perilaku kelompok lain yang suka mengumbar paham dan tindakan radikal kepada umat cukup meresahkan masyarakat di berbagai tempat. Padahal, radikalisme sangat bertentangan dengan spirit luhur Islam sebagai agama penebar kerahmatan kepada penjuru dunia (rahmatan lil alamin).

Konsistensi Belajar 

Munculnya radikalisme salah satunya disebabkan pupusnya kemauan orang untuk terus belajar Islam dalam rangka memperbaiki keberislamannya. Kita sering menyaksikan, seseorang hanya belajar Islam beberapa tahun, bahkan beberapa bulan dari ustad tertentu atau dari “internet” sudah merasa hebat, alih-alih mengaku –termasuk dipromosikan menjadi-- ustad yang kerjaannya suka membid’ahkan atau mengkafirkan orang lain.

Dari sini, gerakan 'Ayo Mondok' menjadi penting untuk kembali mewujudkan tradisi kepesantrenan dalam soal memahami dan mempraktikkan Islam. Pertama, memahami Islam tidak bisa dilakukan dengan instan, butuh waktu yang lama. Tidak salah bila kiai-kiai sepuh pesantren selalu berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, hanya karena ingin mendalami kajian keislaman plus ngamrih keberkahan dari sang guru. Belum lagi, ketekunan mereka membaca beberapa literatur kitab kuning dari berbagai sumber dan pengarang yang berbeda.

Bisa dicontoh, bagaimana Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah dan kiai-kiai sepuh lainnya dikenal sebagai pencinta ilmu yang luar biasa. Pengembaraan mereka terhadap ilmu-ilmu keislaman melampaui batas daerahnya, yakni dari satu pesantren ke pesantren lain hingga di antara mereka tercatat sebagai salah satu santri Nusantara di Hijaz (Arab Saudi). Efek dari kecintaan ini melahirkan pemahaman keislaman para kiai ini luar biasa dan tidak melupakan lokalitas, bahkan cenderung memberikan kesejukan pada umat di satu sisi dan tegas dalam melawan penjajahan di sisi yang berbeda.

Kedua, soal praktik keagamaan. Sebagai konsekuensi atas kedalaman ilmu serta didukung oleh semangat belajar tiada henti menciptakan praktik keagamaan masyakat santri tidak hitam-putih, alih-alih menggunakan kekerasan. Dalam banyak kasus, untuk merubah kemungkaran tidak harus menggunakan kekerasan, melainkan masyarakat diberikan alternatif pilihan agar lepas dari kemungkaran dengan suka rela, bukan dipaksakan.

Prinsip ini dalam literatur Qawaid Fiqhiyyah dikenal dengan kaedah al-dharar la yu zalu bi aldharar (kemudharatan tidak bisa dihilangkan dengan hadirnya kemudharatan yang lain). Keluesan praktik keagamaan adalah hasil dari kombinasi pengetahuan pesantren yang selalu melihat dari ragam perspektif, bukan satu perpektif, yakni kombinasi fiqih sufistik. Kecenderungan satu perspektif, apalagi sudah sampai pada batas merasa benar, memastikan seseorang kurang bisa menerima perbedaan hingga praktisnya cenderung bertindak radikal dan mudah menyalahkan.

Oleh karenanya, gerakan 'Ayo Mondok' yang diinisiasi oleh kaum muda pesantren dan NU harus ditempatkan dalam kerangka besar tersebut, yaitu kerangka besar agar umat Islam tidak berhenti belajar sehingga praktik keberislamannya dalam keseharian mampu mewujudkan visi kerahmatan. Di samping, "Silatnas Gerakan Ayo 2016" yang akan berlangsung Mei mendatang, harus menjadi momentum bersama bagi kalangan santri untuk terus “melek” dan membuka diri merespon perkembangan terkini agar santri bisa berbuat lebih banyak dalam kerangka besar membangun peradaban dunia yang damai. Semoga. 

Penulis adalah Koordinator Akademik Pesantren Mahasiswa UINSA Surabaya, Aktivis Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur.
(NU Online/ Irma Andriyana) 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Spirit 'Mondok' sebagai Strategi Tekan Radikalisme"

Post a Comment