SAVIC ALI: MEDIA GARIS KERAS PUNYA SEMANGAT MENGIMPOR KONFLIK


Di tengah merebaknya media Islam dengan pandangan tidak toleran, bagaimanakah tanggapan muslim moderat?

Santrionline- Jika Anda meluangkan waktu untuk mengetik "media Islam" di kolom pencarian Google, hasil penelusuran mesin akan menyuguhkan hasil yang menarik. Representasi media Islam di Indoensia didominasi oleh cara pandang  yang provokatif dan penuh kebencian terhadap kelompok yang berbeda. Media-media ini menayangkan “berita”—kalau bisa dibilang “berita”, karena disiplin jurnalistiknya sangat lemah—yang dipenuhi hoax dan susah dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pesan-pesannya menunjukkan bahwa agama seolah hanya menjadi sarana untuk melegitimasi aksi-aksi kekerasan.
Ironisnya, media-media semacam itu justru populer, sehingga memunculkan misrepresentasi terhadap agama, khususnya Islam. Karena itu, banyak pihak yang berusaha memunculkan media-media tandingan untuk meredam dampak negatif dari pesan-pesan media garis keras. Salah satunya adalah Savic Alielha, direktur situsweb resmi milik Nahdlatul Ulama, NU Online.
Bersama teman-temannya, Savic membangun beberapa situsweb dan jejaring sindikasi penulis sehingga pesan-pesan keagamaan yang moderat bisa lebih tersebar luas.
Untuk mengetahu lebih jelas tentang hal tersebut, peneliti Remotivi Wisnu Prasetya Utomo mewawancarai Savic. Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 1 jam di kantor Nutizen (24/3), Savic mengulas latar belakang maraknya media-media garis keras dan apa yang bisa dilakukan untuk melawannya.

Apa yang menyebabkan kelompok-kelompok Islam garis keras menguasai opini di media online?

Di Indonesia, kelompok-kelompok Islam yang galak ini kecil secara jumlah. Kekuasaan sosialnya pun terbatas jika dibandingkan dengan yang moderat. Bikin pengajian juga terbatas. Karena itu dia akan mencari ruang-ruang yang relatif terbuka untuk mengkampanyekan gagasannya, yaitu internet. Ini juga merupakan konsekuensi keterbukaan di mana sejak reformasi orang bisa bikin media apa saja. Kebetulan kelompok-kelompok ini basisnya di kota dan relatif melek teknologi dan internet. Kepekaan teknologi ini yang membuat mereka lebih dulu masuk di internet untuk mengelola media ketimbang ketimbang kelompok muslim moderat seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Pilihan membuat media tersebut didasari motif ideologis atau motif ekonomi?

Saya lebih melihat itu digerakkan dengan kesadaran ideologis. Misalnya saja seperti Arrahmah yang dipimpin Muhammad Jibriel. Motif ekonomi, misalnya mendapatkan duit dari iklan, tidak akan membawa keuntungan yang besar. Dan media-media tersebut sudah dikelola cukup lama. Memang belakangan ada situsweb yang dikelola anak-anak muda yang sifatnya mengejar traffic saja. Tapi sebagian besar didorong kepentingan ideologis.

Dari sisi konten atau pesan, apa yang paling berbahaya dari media-media tersebut?

Pertama, media-media ini sering sekali memelintir fakta dan memberitakan informasi-informasi sensitif yang belum dicek kebenarannya. Kalau tulisannya bisa membangunkan sentimen agama, akan mereka geber. Ini yang paling berbahaya, apalagi tidak semua pembaca di internet punya kemampuan untuk memilah informasi dan literasi media yang baik.
Kedua, penyebaran pandangan-pandangan keagamaan yang membahayakan bisa mempengaruhi orang dengan pemahaman agama yang belum baik. Apalagi semangatnya adalah mengimpor konflik karena cara berpikirnya ini seolah-olah Islam sedang dikepung, sedang dimusuhi, sedang dibusukkan dari dalam. Ini membuat cara pandang mereka selalu reaksioner dan ofensif terhadap kelompok lain. Tentu berbahaya jika sudah ada intensi untuk memojokkan dan agresi terhadap kelompok lain.

Meski kontennya bermasalah, mengapa media-media tersebut dibaca banyak orang?

Mereka punya senjata, yaitu kontroversi. Dan karakter publik kita kan suka dengan hal-hal yang kontroversial. Media-media ini selalu menggoreng isu-isu kontroversial dan sensitif yang bisa menarik pembaca secara luar biasa baik mereka yang setuju maupun tidak setuju dengan isi tulisan atau artikel yang diangkat.
Dan web-web itu mengambil keuntungan dari perhatian publik. Ada dua contoh media yang sama-sama kontroversial namun berdiri pada dua sisi yang bertentangan yaitu PKS Piyungan (dulu beralamat di www.pkspiyungan.org sekarang di www.portalpiyungan.com)  dan Islam Toleran (dulu beralamat di www.islamtoleran.com sekarang di www.islamnkri.com). PKS Piyungan ini pro-PKS, sementara Islam Toleran anti-PKS. Dua media ini sama saja, kalau bikin judul kontroversial, dan sama-sama menyerang satu sama lain. Keduanya pernah menjadi ranking tertinggi 1-2 dari berbagai media sejenis di Indonesia. Sebelum akhirnya berganti domain.
Jadi keduanya mengelola kontroversi dan menggoreng berita. Dengan karakter orang-orang di media sosial yang suka membagikan tautan berita duluan baru berpikir, media-media ini kemudian mencuri perhatian.

Media-media kelompok garis keras ini dikelola lebih baik dibanding kelompok muslim moderat?

Betul. Media-media tersebut relatif well-organized. Misalnya Voa-Islam dan Arrahmah itu mereka punya tim redaksi. Atau yang lebih konservatif seperti Hidayatullah dan Dakwatuna, kontennya diperbarui dengan rutin. Mereka datang lebih dulu mengenal internet.
Sementara media-media keislaman moderat kan dikelola komunitas secara sukarela, yang kadang ada update, kadang tidak. Padahal konsistensi konten juga penting sekali. Sudah datangnya belakangan, dari sisi konten juga banyak sekali yang belum lengkap. Kalah dibandingkan media yang galak-galak itu. Ini yang menjelaskan kenapa dalam konteks indeks Google, media-media muslim moderat kalah. Karena memang kalah cepat, dan kalah konsisten.
Memang ada yang dikelola dengan baik, misalnya saja NU Online. Update artikelnya rutin. Tapi NU Online ini kan media resminya NU yang isinya sebagian besar tentang ke-NU-an. Jadi buat publik umum, tingkat relevansinya kurang. Berbeda dengan media-media garis keras yang membuat banyak orang bisa merasa relevan dengan judul-judul yang mereka tulis. 

Beberapa waktu lalu pemerintah berencana memblokir banyak media yang dianggap menyebarkan radikalisme, Anda sepakat dengan langkah tersebut?

Saya melihat pemerintah ini masih kebingungan membedakan prinsip kebebasan berpendapat dari prinsip ujaran kebencian. Misalnya begini. Ada orang yang punya keyakinan atau pandangan bahwa seseorang boleh dibunuh, halal darahnya, dan ia mengungkapkannya di media sosial. Dia dilindungi prinsip kebebasan berpendapat tidak? Ini hanya mengungkapkan pandangan, bukan merencanakan untuk membunuh. Bagaimana kalau begitu? Ini kan harus jelas.
Saya orang yang setuju dengan pemblokiran media ketika media tersebut bisa dibuktikan berulang kali pesan-pesannya punya intensi untuk mencelakakan atau menyatakan sesuatu yang bisa membuat orang lain celaka. Harga nyawa jauh lebih mahal. Apalagi provokasi sosial dampaknya bisa tidak terkontrol.
Dalam konteks ini yang harus dilihat pertama adalah pemblokiran artikel, entah dicabut atau diperbaiki. Selanjutnya kalau itu terjadi berulang kali, artinya dia punya intensi. Entah diajukan ke pengadilan atau seperti apa, situsweb tersebut harus diblokir. Masalah  pemblokiran itu efektif atau tidak, itu lain soal. Yang pasti harus ada keadilan di mana ketika ada pelanggaran, ya harus ada hukuman.
Banyak teman-teman aktivis yang percaya pada kebebasan berekspresi dan berpendapat menjadi gamang di situ. Saya, sebagai mantan aktivis 1998, tidak. Cukup jelas bahwa apa yang membahayakan orang lain, dan memprovokasi tindakan yang membahayakan orang lain, itu tidak boleh.

Mengapa pemerintah terkesan ragu menyikapi maraknya media-media dari kelompok garis keras ini?

Penyebab utamanya saling lempar tanggung jawab. Kami pernah mengundang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kominfo. Waktu pemblokiran dulu, Kominfo bilang bahwa hal itu merupakan permintaan BNPT. Tapi pihak BNPT sendiri bilang tidak ada permintaan pemblokiran.
Belum lagi, media-media garis keras ini punya kanal politik yang membuat beberapa pejabat tidak berani bertindak karena takut kehilangan kekuasaan. Mereka adalah para politisi yang senang menggoreng isu, apalagi menyangkut Islam, dengan menyebut bahwa memblokir media-media tersebut sama dengan memusuhi Islam.
 Saya bisa membuktikan media yang layak ditutup. Tapi kenapa tidak ditutup? Kita butuh orang yang punya nyali untuk menindak media-media itu sebelum virus dan provokasi menyebar luas.

Kalau pemerintah masih gamang, bagaimana dengan peran organisasi-organisasi Islam yang punya basis massa besar?

Ormas-ormas Islam dengan basis massa besar seperti NU dan Muhammadiyah menurut saya sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Mereka melindungi puluhan juta orang dari ideologi radikal. Problemnya, mereka ini tidak punya kekuatan media yang cukup besar. Punya lembaga pendidikan, tapi tidak punya media.
Sementara media arus utama seperti televisi ini merupakan sektor swasta yang banyak keputusannya ditentukan pertimbangan bisnis, bukan ideologis. Jadi, ketika banyak orang industri media terpukau dengan pandangan keislaman yang tidak menghargai keragaman, ini berdampak pada acara televisi yang menghadirkan ustad yang anti-kebhinekaan.
Dalam kondisi seperti itu, ormas-ormas besar Islam tidak bisa berbuat banyak. Hanya menjaga masyarakatnya masing-masing. NU misalnya, pernah memprotes tayangan di televisi yang provokatif terhadap salah satu keyakinan NU. Sebatas itu yang bisa dilakukan. Ini adalah realitas politik yang mesti kita hadapi.
Islam sendiri secara internal punya tantangan besar. Islam punya kandungan yang bila ditangkap secara keliru juga menghasilkan pemahaman yang keliru. Misalnya, ayat-ayat perang digunakan dalam masa damai. Itu problem.

Dengan kondisi demikian, apa yang bisa dilakukan untuk mengarusutamakan media-media dengan pesan keagamaan yang lebih moderat?

Di lingkungan NU, saya dan teman-teman membangun banyak portal atau situsweb dengan pesan-pesan yang lebih ramah. Apalagi komunitas di NU itu banyak sekali. Misalnya saja seperti Islami, Arrahmah, dan MuslimedianewsSementara itu, komunitas-komunitas seperti Gusdurian juga punya situsweb sendiri.
Selanjutnya, kami bikin sindikasi konten dengan mengajak banyak orang untuk menulis dan tulisan tersebut bisa diakses di jaringan media-media yang kami kelola. Dengan semakin banyaknya penulis dan kanal penyebaran, saya optimis kelompok-kelompok moderat bisa memenangi pertarungan ini. Tergantung apakah konsistensi konten bisa dilakukan atau tidak.

Siapa pembaca yang disasar?

Sama dengan pembaca yang disasar oleh media-media garis keras, yaitu masyarakat kota. Internet sampai saat ini masih terkonsentrasi di kota dengan jarak yang masih tinggi dibandingkan dengan desa. Masyarakat kota ini pada dasarnya banyak yang ingin belajar agama tapi tidak cukup mengetahui dia harus belajar dari mana.
Banyak orang menjadi radikal karena salah tempat belajar. Di tengah kebutuhan atas religiusitas yang meningkat, mereka mencari sumber-sumber keagamaan atau “air spiritual”. Nah sayangnya yang banyak jualan “air spiritual” ini punya efek samping (media-media kelompok garis keras). Ini bikin banyak orang terkontaminasi. Ini karena kita semua yang moderat tidak menyediakan “air” yang dibutuhkan orang.
Dan internet ini kan ruang terbuka, tergantung apakah kita mampu atau tidak menyediakan yang dibutuhkan oleh publik yang ingin belajar agama. Dan harapannya, media-media yang saya bangun bersama teman-teman bisa menjangkau kalangan di luar NU. []


(Remotivi.or.id/ Irma Andriyana)



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SAVIC ALI: MEDIA GARIS KERAS PUNYA SEMANGAT MENGIMPOR KONFLIK"

Post a Comment