Perempuan Di Tepi Waktu


Perempuan di tepi waktu

Oleh KH Nurul Huda Haem  (Pengasuh Pon Pes Motivasi Islam Bekasi.Dewan Pelindung Santrionline)
Saya dan sebagaimana Anda semua pasti mengalami kehidupan yang dikelilingi makhluq bernama: Perempuan. Interaksi kita, kaum lelaki, dengan perempuan bahkan telah dimulai sejak awal Ruh ditiupkan, kita berada cukup lama di kandungan rahim perempuan.
Bahkan setelah saya hidup melebih empat puluh tahun, saya tetap tak bisa lari dari kenyataan ini. Perempuan benar-benar sosok yang tak bisa lepas dari kehidupan saya. So, mempelajari soal perempuan, bukan hanya sebuah keniscayaan tetapi juga bentuk apresiasi saya atas keterlibatan mereka yang full-time dalam kehidupan saya.

Benarkah full time?
Saya rasa iya, sejak sebelum menapaki dunia saya sudah berada dalam dekapan kasih (baca: rahim) perempuan, hattâ sekarang, saya tak bisa lepas dari keterhubungan dengan mereka. Informasi paling dekat tentang perempuan saya dapat dari setidaknya dua orang; Ibu (saya memanggilnya Umi) dan Bunda (panggilan buat istri saya).

Dari keduanya pula saya memperhatikan soal Perempuan dan Waktu. Umi adalah seorang pembelajar yang sangat rajin, waktunya banyak dihabiskan untuk ngaji dan ngajar, sampai saat ini majelis ta'limnya full setiap hari belum lagi undangan ceramah, tapi urusan keluarga gak pernah tertinggal, mulai dari urusan dapur sampai mendengarkan curhatan anak-anaknya. Meskipun terkadang saya melihat ada kelelahan di wajahnya, tapi kalau sudah pegang kitab kuning pasti sumringah lagi. Sementara Bunda, sosok pendamping yg hebat -menurut saya lho, namanya juga suaminya. Meskipun tidak seperti Umi yang full time dalam kepadatan da'wah, bunda menghabiskan waktunya dalam pendampingan anak, apalagi sejak ada Istana Yatim, sehari-hari menjadi penjaga gawang Istana yang intens dalam pelayanan. Sesekali ada saatnya mengalami kelelahan juga, tapi bahagianya tuh melebihi semua kelelahan yang ada.

Nah, ini kesimpulan awal saya, "Perempuan itu makhluq yang sangat dinamis, kreatif, tangguh dan sekaligus memiliki ambang sensitif yang tinggi."
Keterpenuhan dirinya pada waktu yang berjalan membentuk sosok perempun yang menarik untuk dikaji. Perempuan yang sudah menikah, pada saat yang sama ia menjalani empat fungsi utama; sebagai Istri, sebagai Inu, sebagai anak perempuan dari orang tuanya (juga sebagai bagian dari keluarganya) dan terakhir sebagai pribadi.

Maka setidaknya ada lima waktu yang harus dijalani dan dibagi seefektif mungkin:
Couple Time
Bagian ini tentu tidak diperlukan bagi single parent, kecuali ada "kesempatan" menikah lagi. Keluangan waktu untuk merecharge asmara yang tumbuh sejak lama, tak boleh ada yang lain, only both of us 

Family Time
Bagi para Sibukers, seringkali menerima protes dari anggota keluarga, "kalau semua waktu buat bisnis, terus buat kami kapaaaaaan?" Maka, perlu kreativitas dalam menyusun agenda family time, yg dadakan juga seru aja, asal semua sepakat 

Social Time
Tak dipungkiri kita ini Zoon Politicon, makhluk yang bersosial, bahkan teori lama Aristotels ini kini semakin mengakar dalam interaksi antar kita di media sosial; sebuah pembenaran yg tak terbantahkan. Untuk hal paling positif kita memupuk persaudaraan lewat jejaring ini. Setiap anggota keluarga juga memiliki perhatian dan tanggungg jawab dalam mengusun agenda sosialnya.

Learning Time
Saya menyebut potongan waktu ini sebagai "waktu pembelajaran". Para perempuan hebat itu memiliki karakter eager to learn (dahaga ilmu), sehingga dari waktu ke waktu membutuhkan ruang untuk mengupgrade diri, baik perempuan bekerja maupun sebagai Ibu yang fulltime di rumah, membutuhkan waktu ini, jujur, manfaatnya bukan hanya untuk ibu tetapi buat suami juga. Ketahuilah bu, lelaki itu senang dan bangga lhoo memiliki istri yang cerdas dan multitalented.

Me Time
Kalau dibicarakan sepihak ini tampak arogan, kita butuh kesendirian. Tapi membaca secara komprehensif kita jadi mengerti bahwa setiap pribadi itu memiliki cara paling jitu menyelesaikan urusan, asal diingat-ingat, Me Time tidak boleh bergantung pada waktu dan tempat tertentu yang tidak fleksibel, No. Me Time itu semacam kesadaran dari dalam diri untuk menyelaraskan ketimpangan emosi batini baik akibat kelelahan ataupun rutinitas yang berulang-ulang. Me time bisa di halaman rumah, ia bisa sejenak di atas sajadah, ia bisa dalam lantunan musik sore, atau dalam seruput kopi panas yang nikmat.

Finally, Perempuan yang bergerak dinamis itu, bila berhasil memanfaatkan waktu dengan efektif, maka kesuksesannya tak tertanding, itu mengapa meski sering dikatakan sebagai makhluk yang lemah, fakta membuktikan bahwa rata-rata usia hidup wanita lebih lama ketimbang para pria. Memang benar usia adalah rahasia Tuhan, namun sebuah sebuah survey menunjukkan bahwa wanita bisa memiliki harapan hidup hingga usia 81 tahun, 5 tahun lebih lama dibandingkan pria.
Semoga para Ibu digembirakan oleh fakta ini dan teruslah meroket dalam prestasi yang membanggakan kaum lelak. Selamat hari kartini, ber-emansipasilah dengan kerendahan hati, tampilkan kebajikan diri, sempurnakan dengan segudang prestasi, jadilah kebanggaan anak dan suami, jangan lupakan laku religi, agar dimanapun engkau aktif tetap bisa menjaga diri, semoga senantiasa dilindungi oleh ilahi, selamat di dunia dan akhirat nanti.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perempuan Di Tepi Waktu"

Post a Comment