"Antara Musik dan kaum Pecinta"

"Antara Musik dan kaum Pecinta"



Dalam maknanya yang terdalam, alunan musik adalah ekspresi nafs (jiwa) yang paling murni. Dalam perumpamaannya, alunan musik itu sendiri adalah jiwa sehingga jiwa itu sendiri dapat bergerak mengikuti alunan musik. Dengan begitu, kedalaman jiwa dapat diselami lewat musik dan di saat yang sama musik itu sendiri dapat menjadi alat yang dapat menggiring dan mengarahkan jiwa (ruh).
Sifat terakhir musik inilah yang kemudian menjadi inspirasi para seniman untuk menggubah dan menyajikan rangkaian kalimat-kalimat yang indah seperti syair-syair dengan diiringi alunan musik.

Dengan sendirinya, para seniman ini kemudian mampu membawa pendengar-pendengar karya mereka untuk bisa ikut menyelami jiwa para seniman ini mengikuti karya-karya mereka.
Lewat sifat musik inilah kemudian para kaum pecinta mengarang berbagai karya untuk mengekspresikan rasa cinta mereka terhadap yang mereka cintai, dan hal ini termasuk kepada para Ulama, Nabi saw dan Allah Yang Maha Agung, dimana semuanya tidak luput dari menjadi subjek cinta untuk diekspresikan lewat alunan musik.

Para Sufi sebagai pemilik cinta yang hakiki, demi menonjolkan cinta mereka untuk Dia yang Tak Terhingga dan untuk cahaya-Nya yang menyinari setiap hati manusia yang Dia kehendaki lewat hamba-Nya yang paling Dia cintai yakni Rasulullah Muhammad saw, tidak akan ragu untuk menggubah berbagai karya nyata untuk mengekspresikan perasaan mereka tersebut. Dan tidak akan pernah terjadi sifat berlebihan dalam ekspresi cinta mereka, dikarenakan yang menjadi subjek ekspresi mereka adalah yang Sempurna dan telah Dia Sempurnakan sehingga tak akan ada satu apapun yang bisa melebihi.

Inilah sumber dari keberkahan musik dan syairnya para Sufiyyah. Ekspresi ruhiyyah yang murni berisi cinta dan kerinduan yang mendalam terhadap Nur Ilahi untuk bisa senantiasa dirasakan sepanjang waktu. Ekspresi jiwa yang tenggelam dalam cinta dan melahirkan rasa kerinduan yang sangat tinggi, memanggil hadirnya Dia yang mereka cintai sehingga kaum pecinta ini kemudian kehilangan kepedulian dan rasa terhadap ke-fana-an mereka, karena yang mereka cintai adalah Dzat yang Tak Terhingga.

Inilah hubungan antara musik dan kaum pecinta. Sehingga tidak mengherankan bila banyak karya-karya besar para ulama di masa lalu seringkali berurutan dan tersusun dalam bait-bait syair. Sehingga selain menata alam fikiran, membaca kitab-kitab tersebut sambil mendawamkan syairnya dengan nada-nada yang khusus, ikut membawa alam ruhiyyah kita untuk mendekat dan hadir ke hadapan-Nya. Dari sini terlatih dan terbentuk rasa cinta yang besar dan hakiki terhadap Allah SWT.

Jiwa yang kemudian terbentuk oleh cinta, selaras dengan Nama Allah SWT yaitu Pengasih dan Penyayang adalah sumber mata air yang berlimpah yang dengannya bisa memenuhi seluruh negeri walaupun awalnya negeri itu dipenuhi oleh dahaga dalam bentuk kebencian dan negeri tersebut dipenuhi kerusakan akibat tindakan manusia-manusia yang telah kehilangan rasa cinta.

Karena itulah adalah sunnah atau tradisi atau kebiasaan yang baik bagi kita, untuk mendawamkan bait-bait syair dan musik yang berisi kecintaan kepada Allah SWT, kepada Rasulullah Muhammad saw, kepada para awliya' dan masyaikh, agar terbentuk dalam diri kita agama yang dilandasi oleh sifat cinta. Sehingga setiap tindakan dan kata-kata kitapun akan selalu selaras dengan nafas Islam, yakni Rahmatan lil Alamin.

Demikian tulisan ini disusun oleh al-faqir dengan permohonan agar mudah-mudahan Allah ta'ala memasukkan cinta ke dalam hati kita semua para pembaca Santrionline yang budiman, dan Allah tutupi kefaqiran kita. Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq.

Jerman 9 April 2016
Oleh :Doc Wahyu Wijaya (Penasehat Santrionline)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Antara Musik dan kaum Pecinta""

Post a Comment