Mertuanya Ulil Abshar

Ditulis oleh: Fadh Ahmad Arifan (Alumni Jurusan Studi Islam di Pascasarjana UIN Malang)
Sudah jadi tokoh nasional tapi tidak jual mahal dan jaga imej (Jaim). Itulah Achmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Di akun twitternya, kulihat beliau selalu membalas pertanyaan agama, ucapan salam, permintaan wawancara hingga pemberian nama bayi. Ambil contoh Agus rifai, 
Assalamualaikum Gus, Sugeng Enjang. Kulo ten Saudi wau Estri Babaran qobla sholat Jumat, nyuwun Asmo ngge putro kulo”. Dijawab oleh Gus Mus, “Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kalau Muhammad Izzuddin?”.
Mertuanya Ulil Abshar abdalla ini lahir pada 10 Agustus 1944. Dalam acara Mata Najwa yang tayang pada 13 April 2016, ketika mudanya beliau amat menggemari olahraga sepakbola. Di dalam acara tersebut Gus Mus juga mengatakan, “Saya orang pesantren pertama yang kenal komputer. Saya kyai pertama yang main iPad, twitteran, fecebookan. Di iPad saya isi kitab klasik, saya tunjukkan ke kyai-kyai ini bisa untuk baca kitab apa saja.

Setamat dari SMP, Gus Mus dikirim oleh ayahandanya ke Ponpes Lirboyo di Kediri dan seusai dari sana, beliau lanjut ke Ponpes al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Di lirboyo inilah jiwa seni Gus Mus muncul. Begitu pula kegemarannya mengunjungi rumah pelukis Affandi. Disitu Gus Mus ingin tahu bagaimana teknik Affandi melukis (Ngetan ngulon Ketemu Gus Mus, hal 49).

Tahun 1964, kuliah ke al-Azhar university bersama Abdurrahman wahid (Gus Dur). "Kuliah disana sama saja dengan di indonesia, Mata kuliahnya sudah pernah kami pelajari di pesantren. Jadi, boleh dikatakan kami mengulang" ujar Gus Mus. Tentang gus Dur, menurut kesaksian gus Mus dia jarang masuk kuliah. Seringkali Gus dur duduk berjam jam baca buku dan kitab di ruang Perpustakaan al Azhar dan perpustakaan universitas Amerika. "Pokoknya kerjaan Gus dur di Kairo tiap hari ya membaca buku, nulis artikel, nongkrong di Qahwaji dan nonton film" (Gus dur dalam Obrolan Gus Mus, hal 162-163).

Dikenal sebagai Kiai yang mahir melukis dan menulis puisi. Gus mus pernah membela Goyang Ngebor Inul daratista melalui lukisan “Berdzikir bersama Inul”. Nama beliau juga terpampang sebagai salah satu penasehat LibforAll Foundation. Gus Mus mengaku begini, "Libforall ini, ketika saya tanya, dijawab tujuannya antara lain menjelaskan kepada dunia akan Islam yang sebenarnya; Islam yang rahmatan lill'aalamiin, bukan Islam yang keras dan ganas. Saya ya mau." (gusmus.net, 11 Desember 2007).

Mengutip situs tempo.co, tahun 2009 Gus Mus meraih doktor Kehormatan dari UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta. Diberi gelar kehormatan atas kiprahnya dalam bidang kebudayaan islam. Ini pertama kali saya memakai toga, saat di wisuda Kairo saya tidak memakai toga,” ungkap Gus Mus. Dalam pidato pengukuhannya, Gus Mus mempertanyakan pandangan umat Islam atas makna agama, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan-jangan kata beliau, rutinitas keberagamaan itu tanpa disadari telah bergeser pada salah kaprah,"Agama itu wasilah atau menjadi ghoyah (tujuan)" tanya Gus Mus kepada peserta yang hadir.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin di Rembang ini dalam memecahkan problem fiqih tetap berpedoman kepada qaul ulama (Mazhab qauli). Beliau sedikit menggunakan Kaidah Fiqih ketika memberikan fatwanya (Fiqih Keseharian Gus Mus, 2008).

Tahun 2015, bersama Goenawan Mohammad, Gus Mus dianugerahi oleh presiden Jokowi Tanda Kehormatan “Bintang Budaya Parama Dharma”. Acara penyematan berlangsung di Istana Negara. Jakarta. Sewaktu muktamar NU ke 33 di Jombang, tanpa bertele-tele, Gus Mus mejelaskan maksud konsep "islam Nusantara", yakni Islam yang dari dulu hingga sekarang dipraktekkan oleh Walisongo. Gus Mus punya semacam falsafah hidup, "Sembahlah Allah; hormati yang lebih tua; sayangi yang lebih muda; buka hatimu untuk seluruh umat manusia.”. 

Wallahu’allam 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Mertuanya Ulil Abshar"

  1. Ulil abshar abdalla itu bukannya tokoh JIL(jaringan islam liberal)?

    ReplyDelete