Menolak Jabatan Meski dipaksa Malaikat



Santrionline - Sumedang,
Senin 22 Februari yang lalu, dalam pertemuan kyai-kyai se-Jawa Timur, Simbah Kakung bercerita bahwa tradisi NU itu dulu selalu berebut menolak untuk memegang jabatan. Kyai Bisri dan Kyai Wahab menolak menjadi Rais Akbar karena ada Kyai Hasyim Asy'ari. Sepeninggal Kyai Hasyim, keduanya menolak, terlebih kyai lainnya. Saat Kyai Wahab Hasbullah akhirnya bersediapun dengan konsensus Rais Akbar diganti dengan istilah rais am.

Saat terakhir, Kyai Wahab Hasbullah sakit sepuh. Muktamirin sepakat menunjuk Kyai Bisyri Syansuri sebagai pengganti, namun beliau tetap menolak. Menurut Kyai Bisyri, selama masih ada Kyai Wahab, meski beliau sakit dan hanya bisa sare-an saja, beliau tidak akan bersedia mengganti.

Sepeninggal Kyai Bisyri Syansuri setelah mengganti Kyai Wahab Hasubullah, para kyai sepuh berembuk memilih pengganti. Saat Kyai As’ad Syamsul Arifin ditunjuk untuk menjadi Rais Am. Beliau menolak karena merasa belum pangkatnya. Bahkan saat dipaksa para kyai, Kyai As'ad dengan tegas menyatakan," meskipun Malaikat Jibril turun dari langit untuk memaksakan saya, saya pasti akan menolak!, yang pantas itu Kyai Mahrus Ali". Kyai Mahrus Ali pun bereaksi saat namanya disebut Kyai As'ad; "Jangankan Malaikat Jibril, kalaupun Malaikat Izrail turun dan memaksa saya, saya tetap tidak bersedia!". Akhirnya musyawarah ulama memutuskan memilih Kyai Ali Maksum yang saat itu tidak hadir.

Cerita diatas tidak jauh beda dengan cerita yang saya dengar langsung dari Abah Masduqie saat pemilihan Rais Syuriah Jawa Timur sepeninggal Kyai Syarqawi. Kyai Imron menggantikan karena terpaksa.

Kyai Imron Hamzah yang saat itu paling sepuh dijagokan mengganti kedudukan kyai Syarqawi. Tentu saja kyai Imron menolak. Bahkan tidak tanggung-tanggung untuk memperkuat penolakannya Kyai Imron membuat surat pernyataan tidak bersedia dicalonkan menjadi rais syuriah.
Namun betapa terkejutnya Kyai Imron. Saat pemilihan malah terpilih. Beliaupun protes karena sudah membuat surat pernyataan tidak bersedia. Kemudian dibukalah surat itu dihadapan umum. Lebih terkejut lagi Kyai Imron melihat surat pernyataannya sudah berganti tulisan, “dengan kerendahan hati saya menyatakan bersedia menjadi rais. Kata “tidaknya” terhapus tipe ex. Akhirnya menyerahlah Kyai Imron.

Penasaran setelah pemilihan Kyai Imron pun menyelidiki siapa yang menghapus tulisan “tidak” dalam surat pernyataannya. Akhirnya ketahuan yang menghapus adalah Kyai Masduqi. Saat diprotes Kyai Imron kenapa kok dihapus, dengan enteng sambil ngeloyor pergi Kyai Masduqi bilang, " salah sendiri nda bersedia kok pake surat pernyataan segala!!!"

Sungguh sayang budaya ini telah luntur. Bahkan ada bau tak sedap "dengan menghalalkan segala cara demi jabatan di NU!"
_______________________

Ditulis KH. Achmad Shampton pada 26 Februari 2010.

(arifan)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menolak Jabatan Meski dipaksa Malaikat"

Post a Comment