Mbah Moen Sebut Kitab Kuning Paling Banyak Dibaca di Indonesia

Rembang, Santrionline

Dalam
sebuah taushiyah, Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair mengajak untuk
meningkatkan belajar kitab kuning. Hal ini disampaikannya saat mengisi
acara taushiyah dan Doa Bersama Masyarakat di Desa Gandrirojo Kecamatan
Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Kamis (14/4) lalu.
Mbah
Moen mengungkapkan, Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim
terbesar juga masih banyak orang yang peduli mengaji kitab. Ia juga
mengatakan bahwa di pondok pesantren Sarang Rembang mulai ramai tahun
1800-an hingga saat ini. Dan tetap menjunjung tinggi budaya ngaji kitab
kuningnya.
“Saya melihat di pondok yang maju
dan ramai, tapi masih sulit ngaji kitabnya. Tapi alhamdulillah di
Indonesia masih banyak orang yang belajar kitab. Inilah keindahan
Indonesia,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu
Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang tersebut.
Ia
juga mengatakan, bahwa kemarin salah satu putranya mewakili Asia untuk
bertemu dengan tokoh-tokoh agama, yakni agama Islam dan Kristiani di
Maroko dan Prancis. Ini menunjukkan bahwa tidak ada organisasi besar di
dunia seperti Nahdlatul Ulama. “Yang masih banyak ngaji kitab kuning itu
hanya ada di Indonesia. Itu saja masih membuat saya kaget dan merasa
aneh. Kalau dulu anak kiai masih suka ngaji, tapi sekarang sudah tidak
lagi,” terang Mbah Moen.
Di pondok Al-Anwar,
lanjut Mbah Moen, ada yang khusus belajar latin. Ada juga yang ngaji
arab. Yang ngaji arab ini semakin habis peminatnya. Padahal tulisan yang
dipakai di surga itu tulisan Arab. “Di surga gak ada abjad a, b, c, d.
Walaupun agama Islam semakin ramai, tapi sulit untuk mengembalikan
manusia ke asal keislamannya. Yakni kitab Quran sebagai panutan,”
terangnya.

Mbah Moen mengajak, walaupun
sekolahnya formal tetap diajarkan kitab-kitab yang menggunakan makna
kembali kepada madzhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
“Itu harus dibudayakan, belajar kitab-kitab yang ditulis dengan bahasa
Arab. Sebab besok di surga itu gak ada jalannya kecuali menggunakan
bahasa Arab,” tutupnya.

(NU Online/ Irma Andriyana)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *