KISAH KANG TAMAMI

www.santrionline.net
Seperti kehidupan di pedesaan yang lain pada umumnya, Tamami, Anak desa asli pedalaman Lampung Sumatera memiliki satu ekor sapi yang masih memerlukan asupan rumput. Setiap hari Tamami pergi kesawah mencari rumput (ngarit) dan merawat sapinya dengan baik layaknya merawat seorang anak manusia.
Manakala datang malam, sapi pun merengek apabila tidak melihat tuannya (tamami), hingga suaranya memekakkan telinga penduduk kampung. Karenanya malamnyapun tamami rela tidur di pos barak disisi kandang sapi dan hewan piaraan lainnya.
Jangankan sekolah, ngajipun tidak pernah.

Suatu ketika pamanku dari Semarang berkunjung dan berdakwah ke Lampung, sebuah desa kecil tempat tamami tinggal, dan kebetulan bertemu dengan orang tuanya yang sebelumnya tidak paman kenal. Setelah berkenalan dan bercerita kesana kemari sampailah ayah tamami bercerita tentang keadaan anaknya tersebut.
Ayah Tamami kemudian bertekad bulat menitipkan anaknya kepada paman untuk mondok belajar mengaji di Semarang. Tanpa batas dan tanpa harapan untuk kembali lagi ke Lampung, Sumatra. "Yang penting anaknya dapat mengerti hukum agama dan tata cara beribadah" mungkin begitu harapan kedua orang tua Tamami.
"Dimanapun dia hidup yang penting dapat beribadah dengan benar" Dan Begitu harapan sederhana dari ibu dan ayahnya.
Tahun 1996 Tamami resmi hidup di lingkungan pesantren di kota Semarang.
Kang Tamami orangnya memang sangat pendiam, tidak suka nonton televisi apalagi mengenal dunia sosial media. Rambutnya dibiarkan gondrong memanjang. Paman dan guru-gurunya dipondok pun juga membiarkan Kang Tamami gondrong berkucir. Daripada kembali lagi ke Sumatra dan tidak mau belajar mengaji, begitu pertimbangan guru-guru pesantren. Sebab kalau disuruh potong rambut dia malah pergi tanpa ekspresi dan tanpa alasan apapun yang dapat dimaknai dan dimengerti.

Akhirnya Kang Tamami diberi tugas oleh keluarga paman untuk menjualkan nasi keliling tiap pagi dan sore kepada santri-santri di lingkungan pondok pesantren, dan anehnya nasi yang dijual tidak pernah terjual habis. Dan oleh kang Tamami diberikan kepada puluhan kucing yang tinggal disekeliling pondok. Tak ayal dia pun menjadi akrab dan lekat dengan kucing-kucing tersebut.
Alhamdulillah waktu demi waktu ngajinya tidak mengecewakan, sholat berjamaahnya pun juga tidak pernah ketinggalan. Memang demikianlah harapan simpel orang tua Kang Tamami sebelum menitipkannya pada paman.

Tahun 2004, berarti 8 tahun sudah kang tamami menempa ilmu di pesantren ini. Namun bagaimanapun juga rasa rindu kang tamami kepada ibu bapaknya tak dapat di tahan. Dia putuskan untuk menulis sebuah cerita surat kerinduan. Namun dia sendiri tak mengerti alamat orang tuanya dan tidak dapat menulis latin. Kang Tamami bertanya kepada pamanku tentang alamat surat orang tuanya.
Selembar kertas bertuliskan Arab pegon sebagaimana tradisi penulisan di pondok pesantren di desaku, lalu dimasukkan ke amplop. Demikian juga alamat pengirim dan tujuan surat. Kang Adib anak Demak diminta bantu untuk mengantarkan ke kantor pos. Melihat tulisan di amplop memakai hurup arab pegon, kang Adib pun meminta untuk diganti dengan huruf latin (bahasa indonesia).
"Tolong kang ditulis pakai tulisan bahasa indonesia saja" pinta kang Adib, namun kang Tamami sulit untuk menuliskannya. Lalu Kang Adib menulis apa yang dikatakannya yaitu nama orang tuanya dan alamatnya. Kemudian kang Tamami mengganti amplop untuk ditulis ulang dengan meniru tulisan kang Adib.
Mereka berdua mengayuh sepeda menuju kotak pos yang berjarak 2 km dari pondok pesantren dan "plung", serasa setengan rindu kepada ayah ibunya terlampiaskan.
Selang dua minggu pak pos datang ke kantor pondok. Kang Tamami yang penjual nasi di lingkungan pondok itu terasa senang barangkali surat balasan dari bapak ibunya datang. Dia mendahului petugas piket jaga kantor pondok untuk menerima segepok surat.
Namun betapa kagetnya. Suratnya yang dua minggu lalu dimasukkan di kotak pos malah kembali lagi ke pondok, dan betapa herannya dia.
Iseng-iseng salah satu kang santri yang kebetulan nongkrong jajan nasinya kang Tamami menghampirinya dan mencoba untuk mengetahui kenapa kang Tamami dengan raut muka keheranan sambil memegang beberapa amplop, yang selama ini tidak pernah ia lihat, ada perubahan ekspresi di wajah Kang Tamami. Ternyata setelah dilihat, alamat tujuan dan pengirim tertulis kebalik. Dibawah tulisan "Kepada" ditulis alamatnya sendiri dan dibawah "Pengirim" ditulis alamat orang tuanyanya. Itupun tak jelas karena kang Tamami tidak mengenal sekolah.

Namun Alloh swt memang berkehendak lain. Setahun kemudian diam-diam bapak ibunya datang ke Semarang (pondok) karena pamanku yang dititipi kang Tamami dipanggil keharibaan ilahi robbi (wafat). Semenjak kepergian sosok orang yang menjadi panutan, kang tamami pun merasa sangat kehilangan dalam kesedihan yang mendalam di hatinya. Namun Kang Tamami pun dapat melepas rindu bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Oleh orang tuanya dia diajak kembali ke Lampung Sumatra, tapi sekali lagi Kang Tamami tidak berekspresi apapun, diam seribu kata, bapak ibunya pun mengerti (mafhum) dan pulang kembali ke Lampung, Sumatera.
Kini kerinduan berbalik. Betapa kangennya bapak dan ibunya kepada Kang Tamami di Semarang. Kang Tamami sudah merasa betah dan suka pada kehidupan di pondok pesantren dan khidmah mengabdi di keluarga pamanku. Kini Kang Tamami sudah betul2 dewasa dan dapat menentukan pilihan hidup sendiri. Bapak ibunya yang berbalik kangen pada Kang Tamami. Kang Tamami yang dulu tidak dapat membaca alif bak, kini sudah bisa membaca Kitab Fatkhul Qorib maupun Kitab Alfiyah. Hanya saja tak tampak ekspresi apapun di wajahnya meskipun berpapasan dengan santriwati yang tercantik sekalipun.

Akhirnya th 2013 bapaknya datang ke pondok. Setelah jamaah ashar tiba-tiba datang ibu-ibu yang mendekap kang Tamami. Diapun kaget dan bertanya, "ibu ini siapa?" kata Kang Tamami sambil berusaha melepaskan rangkulan wanita yang dianggapnya orang lain itu. Namun ibunya tak juga melepaskan rangkulannya, bahkan semakin erat mendekapnya.
Bagaimanapun juga, akhirnya kang Tamami sadar dan mengerti jika yang mendekapnya itu adalah seorang ibu tercintanya. Ibu yang mengandung dan merawatnya semasa kecil. Ibu yang mengharapkan dia dapat beribadah dengan benar dimanapun dia hidup. Mungkin dari bau keringat ibunya yang keluar akibat jalan kaki dari halte terahir daihatsu angkutan kota ke komplek pondok.
Kemudian setelah melepas pelukannya, gantian sang bapak mendekapnya. Sungguh lama dengan segala peluh dan airmata. Dan ternyata pelukan itu adalah pelukan yang terakhir sang bapak. Karena setelah bapak ibunya pulang ke Lampung Sumatera, pertengahan 2015 ada kabar bahwa sang bapak telah wafat menghadap ilahi robbi.

Kang Tamami tentu saja tidak akan membaca cerita ini, dan Semoga kang tamami menjadi orang yang tabah, berbakti, ahli ibadah dan berakhlaqul karimah sesuai harapan orang tuanya.. Amin.

(Pon Pes. Al-itqon Bugen Semarang)
Red: Isa Anshori

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "KISAH KANG TAMAMI"