Kaum Santri: Kaum Terpelajar


Santrionline ~Arus perkembangan peradaban dunia dari lajur pendidikan khususnya pesantren sebagai lembaga keilmuan telah dimulai. Kemajuan dalam teknologi dan pengetahuan ini turut menjadi sumbangsih besar dalam peradaban dunia. Oleh karenanya penemuan-penemuan kreatif dan inovatif sangat diharapkan oleh umat manusia untuk menjadi solusi yang efektif.

Pada mulanya, mata dunia melihat perjalanan perkembangan dunia keilmuan tertuju kepada para pakar ilmuwan, filosof, dan tokoh kebesaran Romawi  atau Yunani. Namun pada apa yang disebut “ilmu” tak dapat dipungkiri Islam sebagai konsep ajaran spiritualis-religius, mempunyai andil besar dalam menelurkan tokoh, filosof, dan ilmuwan yang turut mengembangkan peradaban ilmu pengetahuan. Dan pada akhirnya karya-karya pemikiran ilmuwan islam tersebut menjadi rujukan termutakhir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang ada saat ini, khususnya pesantren sebagai lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal (pengajian/pembelajaran diniyah) dan bahkan perguruan tinggi yang telah menumbuhkembangkan konsentrasi keilmuan untuk memberikan dampak/manfaat pada kepentingan umat manusia.

Beberapa nama-nama yang banyak kita ketahui adalah Abu Yusuf Ibnu Ishak Al-Kindi (Terkenal sebagai filosof, ahli matematika, logika, dan kedokteran), lalu Ibnu Sina (Dikenal sebagai bapak kedokteran modern) dengan karyanya Al-Qanun fi At Tibb, kemudian ada juga Abu Nasir Al-Farabi (Ilmuwan Islam ahli logika dan matematika), ada juga Ibnu Khaldun (Dikenal sebagai sejarawan dan sosiolog ulung) dengan Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah– Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd dengan karyanya Kitab Al-Kulliyat fi At-Thib sebuah buku ensiklopedi kedokteran berjumlah tujuh jilid, dan masih banyak lagi yang tak sempat untuk dituliskan semuanya satu per satu. Kesemua nama-nama intelektual muslim ini telah menjadi dasar pengembangan, dan rujukan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi dan pesantren, utamanya adalah pesantren salaf.

Salah satu contoh dari pondok pesantren salaf yang ada di Solo adalah Pondok Pesantren Al-Muayyad. Pondok Al-Muayyad merupakan pondok pesantren Al-Qur’an , dirintis oleh KH. Abdul Mannan bersama KH. Ahmad Shofawi dan Prof. KH. R. Muhammad  Adnan (pendiri UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta) dan ditata sistemnya ke arah sistem Madrasiy tahun 1937 oleh KH. Ahmad Umar Abdul Mannan.

Sebagai Pesantren Al-Qur’an tertua di Surakarta, Al-Muayyad terpanggil untuk menguatkan dan mengembangkan pesantren sebagai pusat pendidikan yang mempertahankan kearifan masa silam, untuk menjangkau kejayaan masa depan dengan mengutamakan konsep tarbiyah yang utuh. Maka dalam rangka mewujudkan apa yang menjadi tanggung jawab sebagai Pesantren Al-Qur’an tertua di Solo-selain menelurkan para santri yang hafal Al-Qur’an-Pondok Al-Muayyad tetap memberikan pelayanan berupa pengajian kitab salaf karya para ulama intelektual muslim. Kitab-kitab yang menjadi kajian diantaranya adalah Kitab Adabul Alim Wa Muta’lim, Kitab Fathul Qorib, Kitab Fashalatan, Kitab Mabadi’ul Fiqhiyah Juz 1-4, Kitab Al Barzanji, Kitab Safinatun Naja, Kitab At-Tibyan, Kitab Sulam Taufiq, Kitab Tafsir Jalalain, Kitab Khulashoh Nurul Yaqin, Kitab Al Hikam, Kitab Fathul Mu’in, dan masih banyak kitab karya ulama salaf yang menjadi kajian para santri, dan pengajaran kitab-kitab tersebut didistribusikan melalui sekolah sore/ Madrasah Diniyah Awwaliyah dan Madrasah Diniyah Wustho. Tentu pengajaran kajian kitab ini diharapkan menjadi dasar para santri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan murni maupun terapan, sehingga santri bisa berinovasi dalam bercipta-karya untuk memudahkan masyarakat di lingkungan asal santri dalam menjalankan syariat sesuai yang diajarkan agama Islam, misalnya: membangun saluran tempat wudlu yang efektif dan sesuai dengan ilmu Thoharoh (bersuci).

Tentu santri sebagai kaum terpelajar di Pesantren dianggap menjadi panutan yang telah terdidik dalam mengimplementasikan ilmu agama baik rohani maupun jasmani. Sehingga masyarakat umum memandang citra santri dapat memberikan kontribusi penuh pada kemajuan Islam. Kontribusi santri tidak hanya sebatas dalam tembok pesantren, namun diharapkan juga mampu menjadi penggerak edukasi wacana keislaman kepada masyarakat umum yang belum mengerti. Barangkali pendekatan santri di lingkungannya berasal, haruslah sesuai dengan situasi dan kondisi. Santri yang dalam kesehariannya hidup berasal dari warga multikultural, maka dalam mengedukasi masyarakat umum (harusnya) menggunakan interaksi adaptif. Ini bertujuan agar masyarakat umum tidak terlalu kaget dengan wacana keislaman: dari yang semula tidak tahu menjadi tahu namun beranggapan Islam mempersulit tata cara beribadah. Itulah sebagian permasalahan santri ketika terjun ke masyarakat.
Walisanga agaknya menjadi representasi metode atau cara berinteraksi yang efektif dengan masyarakat umum. Lewat akulturasi budaya dan ajaran agama, Walisanga dinilai berhasil membawa ajaran agama Islam ke tanah jawa tanpa adanya kisruh sosial. Ini menjadi penting bagaimana santri mencotoh Walisanga namun dengan konteks yang berbeda: jika Walisanga membawa peradaban corak Islam dan Jawa di zaman dahulu, maka barangkali santri diharapkan mampu  meluruskan, melestarikan, dan menguatkan pemahaman agama Islam pada zaman sekarang (modern).  Metode interaksi lah yang turut menjadi kunci keberhasilan berdakwah (edukasi). Seperti halnya cara interaksi Baginda Rasullullah Muhammad SAW. yang menyebarkan agama Islam dengan tanpa kekerasan/ pemaksaan.

Setidaknya sekarang kita menjadi paham bahwa jargon “Santri adalah kunci-Santri mengawal negeri” tidak hanya jargon yang sepi makna, melainkan sarat akan definisi pemaknaan. Santri yang merupakan bagian dari kaum terpelajar pesantren turut andil dalam mewarisi ilmu pengetahuan dari para ulama intelektual muslim. Konsep pembelajaran di kebanyakan pesantren salaf yang menyertakan sekolah formal selain kajian kitab di Madrasah Diniyah adalah transformasi dari gagasan arus perkembangan ilmu pengetahuan. Sekarang tidak mungkin lagi kalau santri masih terus-menerus duduk bersila mengaji kajian Islam tanpa berkontribusi penuh atau langkah nyata pada lingkungannya (memberikan manfaat).

Info terbaru yang telah kita ketahui bahwa Kementrian Agama RI tengah bersemangat dalam memajukan pendidikan Indonesia. Ini ditandai dengan langkah awal Kemenag menyediakan beasiswa santri berprestasi di setiap tahunnya dan untuk tahun ini adalah dibukanya beasiswa santri melanjutkan jenjang ke perguruan tinggi di luar negeri. Sudah selayaknya kita mengapresiasi baik atas kinerja atas pencanangan gagasan Kemenag. Ini artinya santri tidak luput dari langkah perjalanan perkembangan ilmu pengetahuan dalam membangun peradaban. Dengan kata lain santri tidak luput dari peradaban, santri adalah kunci. Santri mengawal negeri: Santri turut membangun peradaban dan jalannya kemajuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Mengetahui potensi santri sebagai cendekiawan dalam era modern (meminjam istilah Cak Nun/Emha Ainun Najib). Seperti kata Cak Nun dalam bukunya Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai: “ Kaum santri tidak memerlukan idiom “santri cendekiawan” karena salah satu subtansi kesantrian adalah kecendekiawanan. (Ehmah Ainun Najib, 2015:142). Perkembangan terakhir dalam mengupayakan santri-cendekiawa-bagian dari peradaban maka lahirlah gerakan “Ayo Mondok”. Gerakan Ayo Mondok sendiri adalah gerakan gagasan Rabitah Mahad Islamiyah (RMI) yang merupakan institusi di bidang pondok pesantren. Gerakan ini juga bisa disebut sebagai langkah promosi agar generasi muda mau belajar agama di pondok, baik belajar ilmu agama maupun ilmu duniawi. Untuk itu sebagaimana semangat berbagai elemen masyarakat umum maupun pemerintah dalam memandang keberadaan santri sebagai kaum terpelajar. Sudah sepatutnya santri sadar akan tanggungjawabnya terhadap permasalahan sosial dengan bekal ilmu yang telah diajarkan di Pondok Pesantren tempat mengaji dan belajar. Semangat kaum santri!

(Suara Pesantren/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Kaum Santri: Kaum Terpelajar"