KASIH SAYANG NYATA DARI-NYA

www.santrionline.net
Am, panggil saja begitu, aku dilahirkan dari keluarga sederhana tak berlatar agama yang Kental, terlebih mendalam. Jangankan berfikir menjadi santri, mengaji saja aku terbata-bata. Tajwid, makhroj, bahkan panjang-pendek pun tak karuan.
Aku bersekolah disekolahan biasa, bukan SD tapi MI. Bukan MTS tapi SMP, bukan SMA tapi MA. Aku tidak terlalu pintar justru cenderung nakal.

Dalam benak keluargaku mondok di
pesantren dan menjadi santri, itu perlu biaya yang mahal sekali. Hal itu di sebabkan Karena kami hidup di pinggiran kota dan awam seluk-beluk pondokan.
Kami hanya tahu nama-nama pondok terkenal yang mahal. Dan bahkan akupun tak pernah berfikir bisa menjamah dunia pondokan.
Aku hanya duduk sebagai penonton, mengikuti alur bid’ah yang digembor-gemborkan, menyaksikan pudarnya perkumpulan Yaasiinan dan Tahlilan, melihat perebutan serta peralihan masjid-masjid sufi menjadi salafi-
wahabi.
Hingga akhirnya, pertengahan tahun 2011, setitik cahaya Tuhan berikan pada hidup ku yang begitu gersang. Ustadz Yusuf Mansyur,Ya... ustadz tersohor dari ibu kota ditakdirkan untuk menyambangi daerah kami.
Beliau diundang di kantor kabupaten yang berada tepat disamping sekolah SMAku.
Entah kenapa jiwa mudaku berkobar. Aku yang agak terhitung nakal, keluar dari sekolah dengan tenang tanpa hambatan, Meski akhirnya ketahuan. Dan entah bagaimana aku selalu punya cara untuk melakukan misiku itu.
Namun nakalku pun masi dalam batasan.
Hatiku tergugah, jiwaku membuncah, ustadz Yusuf mansur itu telah merubah segala pemikiranku.
“Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.” Begitu
kata beliau seingatku. Beliau tidak hanya
menjelaskan manfaat, serta janji-janji Allah untuk para penghafal Qur’an, beliau juga bilang, untuk tidak memikirkan soal biaya.
Seketika itu juga tumbuh dalam hatiku,
benih-benih keinginan untuk menghafal Al-Qur’an.

Aku izin pada orangtuaku untuk berhenti
sekolah. Mereka tidak mengizinkanku. Mereka menyuruhku untuk menyelesaikan SMAku dulu.
Lulus SMA, aku diterima di Universitas
terkemuka di Indonesia tanpa tes dan
mendapat peluang untuk bisa dapat bea-
siswa full. "Universitas Gajah Mada". Begitu menggiurkan untuk kaum pas-pasan sepertiku.
Aku sudah separuh jalan. Hanya tinggal daftar ulang. Banyak orang bangga padaku. Tanpa mereka tahu ada kalut dalam relung jiwaku.Ya.. Jogja, adalah kota yang waktu itu sempat aku sangat idamkan.
Setelah istikhoroh, Tuhan memberiku titiktemu. Di era yang mental para pemudanya telah diporak-porandakan, orang tuaku punya harapan.
Jika mereka meninggal, ingin ada
yang mendo’akan.
Dari dialah satu kerabat,kudapati informasi. Ada sebuah pondok Salaf Tahfidz dengan biaya yang terjangkau. Akhirnya aku masuk pesantren kecil di sebuah desa yang terletak di tengah kota.
Meskipun aku sadarai pasti akan ada guratkecewa nantinya, namun berbekal tekad, nekat, serta taat,aku berangkat mondok.

Bagiku Tidak mudah untuk cepat melakukan penyesuaian.
Disini aku santri pertama lulusan SMA. Hanya ada dua orang teman sebaya. Merekapun sudah kawakan, puluhan Juz di Al-Quran telah mereka hafalkan.
Tak bisa dipungkiri, aku yang pemula ini selalu minder dihadapan mereka. Ku akui, aku masih setengah hati.
Sehingga semua peristiwa yang aku jalani terasa berat sekali.
Tidak sedikit yang menyarankan aku untuk menyerah dan berbalik arah. Tetapi Aku keras kepala, aku tetap nekat
bertahan disini. Sama sekali Tak ku indahkan satupun kata-kata mereka. Benar saja, beberapa penyakit mengunjungi tubuhku yang memang ringkih ini, badan semakin kurus, belum lagi masalah keluarga yang bertubi-tubi menghampiri.
Syukur Alhamdulillah, Alah mengkaruniaiku seoarang Ibu yang Luar Biasa, beliau selalu mendampingi serta menjadi sumber motivasi tersendiri bagiku.
Suatu ketika, ada rumor beredar bahwa aku adalah penyuka sesama jenis. Namun tetap Aku anggap angin lalu saja.
karena menurutku itu adalah suatu rumor yang tidak bermutu.
Aku salah, rumor itu sampai di telinga Bu Nyai pondok. Aku mendapat perlakuan yang istimewa sekali, berbincang-
bincang dengan Bu Nyai tiga kali sehari.
anak-anak menyebutnya sidang, namun aku lebih suka menamainya ‘bincang-bincang’.
Tak ku sangka masalah kecil bisa menjadi rumit sekali. Belum lagi beberapa orang yangiri dengan kebahagiaanku. Profesi bapak,
sebagai seorang buruh pun mereka ungkit. Sakit rasanya, Ketika orang-orang hanya menilai kita dari harta. Terbesik sedikit sesal dihatiku teman-temanku dimassa lalu tidak begitu paham agama, tapi mreka tak pernah menghinaku. Tapi  Mengapa mereka yang disini
paham agama berlaku sepeti itu” kataku meski hanya ralam batinku.

Berkali-kali terbesit fikiran untuk pergi.
Sepertinya dunia baru ini menolakku. Apa mungkin ini balasan, atas kenakalanku dimassa lalu? Entahlah. Satu persatu masalahku selesai, seirama ayat-ayat yang kubaca.

Tanpa terasa Dua tahun berlalu. Kini kasih sayang Allah padaku diberikan
melalui orang tuaku. Beliau, yang memang telah renta, kini mulai sakit-sakitan dan perlu perawatan. Karena pertimbangan beberapa faktor, akhirnya
aku pindah pesantren. Dan dengan berat hati, aku pergi.
Banyak sekali ilmu yang telah kudapati
di sini. Namun, aku juga harus merawat
ibuku. Karena ada pembengkakan jantung juga diabetes, dan beliau perlu rutin kontrol ke rumah sakit.
Berbeda dengan pondok pertama,
pondok ini mengajarkan beberapa kitab saja, dan lebih ditekankan di Al-Qur’an. Waktu berlalu, hampir empat tahun aku menghafal, namun belum seperempat Qur’an aku pegang.
Betapa bebalnya aku.
Disini Allah membuka hatiku,
aku menikmatihari-hariku dan sapaan-sapaan lembut dari Ilahi Robbi. “Jadikanlah Al-Qur’an sebagai
Surat Cintamu pada Robbmu.” Begitu kira-kira kata salah seorang yang tak ku kenal.
Hingga suatu ketika aku pun di uji oleh Allah dengan berita besar yang sempat
mengguncang semua harapanku.
Allah menjemput malaikat tanpa sayapku. Ibuku disayangi olehNya. Dia pergi lebih dulu. Tepat pada tanggal 29 desember 2015.
Rasanya berjuta harapanku telah sirna, satu-satunya penguatku telah tiada. Semua rasaku habis tak tersisa.
Seketika itu aku memanjatkan pinta
“Ya Allah, gantikan tempatnya denganku, pindahkan hidupku untuk dirinya. Biarkan aku saja yang pergi dan izinkan dia tetap disini.”
Astaghfirullahaladzim, jodoh, rizki, hidup,
dan mati telah ditetapkan oleh Ilahi Robbi.
Hampir aku kalut dan meninggalkan duniaku. Dua bulan, aku tinggalkan kehidupan pondokan.
Aku merasa rindu, bukan sekedar
rindu namun inilah candu.
Di jalan ini Nabi Adam diturunkan ke bumi,
di jalan ini Nabi Musa dikejar bala tentara raja- Fir’aun
di jalan ini Nabi Ibrahim dibakar
oleh kaumnya,
di jalan ini Nabi Nuh
mendapati banjir bandang serta putra yang Durhaka,
di jalan ini Nabi Isa diburu untuk
disalib oleh kaumnya,
di jalan ini Nabi
Muhammad di ludahi, dikhianati, dijahati
tanpa ayah-bunda sejak usia dini. Kawanku berkata “Lalu Baru berapa tahun ente dah maunyerah? Nabimu mendapatkan Quran tidak instan. Butuh perjuangan puluhan tahun kawan.”
Hatiku luluh, Allah mengembalikanku
ke jalan ini. Aku bersyukur, Allah masih
menyayangiku. Meski masih sedikit sekali yang diamanahkan kepadaku.
Aku berharap Allah Yang Maha Sempurna mau menyempurnakan kalamNya pada jiwa dan ragaku.
Sungguh Sejatinya semua pemberian dariNya tak bisaku jabarkan dengan kata. Karena percayalah,suatu saat ketika kita berganti nama dari
santri menjadi alumni, pasti akan ada kesan tersendiri dalam peristiwa yang kau alami.

Sunggingkan senyum dan tatap semua hal dengan baik serta bahagia. Maka kau akan merasakan betapa lembut sapaan kasih sayangNya.
Bersyukurlah wahai para santri.
karna, tidak semua orang mendapat karunia ini.

Oleh:Mahirol Syafi'i
Red :Isa Anshori

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KASIH SAYANG NYATA DARI-NYA"

Post a Comment