Karomah Buntet Pesantren

K. Enha dan Ust. Nemi Mu’tashim Billah, Zurriyah K. Abbas
Santrionline -Ini kali
kedua saya datang ke Buntet. Juga kali kedua berziarah langsung ke Maqam
Kyai Abbas dan para sesepuh Pesantren Buntet lainnya. Suasana pemakaman
masih belum berubah, teduh di bawah pepohonan tua yang rindang. Kali
ini Alhamdulilllah saya bisa menumpahkan kerinduan ke maqam Kang Cecep,
kakak angkat sekaligus sahabat saya saat di Pesantren Al-Falah, Ploso,
Kediri. Saya tak pernah berjumpa dengan beliau sejak keluar dari Ploso.
Dan kini sowanku kepadanya adalah do’a di pusara beliau.
Usai
berziarah, saya menuju ke Rumah Pusaka. Ini ndalem sesepuh Pesantren
Buntet sejak zaman mbah Kyai Jamil, Kyai ‘Abbas hingga saat ini diasuh
Mbah Dien. Puji syukur, saya berkesempatan langsung bertemu Mbah Dien
(KH. Royandi Abbas), sosok bersahaja yang kerap saya sowani saat
berda’wah di United Kingdom. Ya, Mbah Dien memang sudah lama tinggal di
Inggris. Menurut beliau, rumah pusaka ini dibangun di masa Mbah Kyai
Jamil lebih dari 150 tahun silam. Di dalamnya terdapat satu kamar,
mihrab khusus Kyai Abbas, Alhamdulilllah saya berkesempatan shalat dan
berdo’a di kamar khäsh tersebut.
Kiai Enha di Pusara Kiai Cecep Nidzomuddin
Saat
bercengkrama dengan beliau, datanglah tamu yang bersejarah, sosok tua
pejuang Hizbullah dari Laskar ‘Abbas; Ya, Pasukan Belanda saat itu
menyebut laskar ‘Abbas untuk para pejuang Hizbullah dari Buntet ini.
Namanya Pak Mufti. Usianya sudah 95 tahun, tapi bicaranya sangat jelas,
bahkan saat menceritakan pengalamannya berjuang dulu, beliau fasih
mengutip banyak dalil quran maupun hadits pertanda beliau santri yang
pejuang. Di antaranya saat mengisahkan pertempuran di Segeran,
Indramayu. Saat itu beliau bersama 30 tentara Hizbullah berperang
melawan Pasukan Belanda yang berjumlah ratusan. Hanya dengan bambu
runcing, beliau yang nyaris tewas pada pertempuran tersebut berhasil
selamat. Saat saya tanyakan rahasianya, beliau menjawab dengan spirit
al-quran surat Al-Anfal 65:
يَا
أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ
يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ
يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا
بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
“Hai Nabi,
kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh
orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua
ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu,
niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir,
disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”
Kiai Enha, Kiai Nahdudin, dan Bapa Mufti
(Kisah
heroik Pak Mufti bisa dibaca pada link ini:
http://m.okezone.com/read/2015/08/18/525/1198184/kisah-heroik-kiai-mufti-melawan-penjajah).
Jelang
Ashar, tamu bertambah lagi, kali ini sosok sepuh yang juga masih
keluarga Pesantren Buntet, Pak Kyai Jaelani Imam, beliau banyak berkisah
dinamika Pesantren Buntet, dari beliau pula saya mendapat cerita sering
rawuhnya Habib Ali Kwitang ke kediaman Kyai Abbas, bahkan Kyai Abbas
sempat memberikan sebuah rumah untuk Habib Ali istirahat, karena Hanib
Ali bila berkunjung tidak sebentar, dua hingga tiga bulan. Setelah
wafatnya Kyai Abbas, keberkahan beliau turut memasyhurkan keberkatan
Majelis Habib Ali Kwitang.
Ruang Khusus Kiai Abbas
Sampai di
sini saya mau ambil hikmah sejenak, tentang bagaimana penghormatan
Habaib sekelas Habib Ali Kwitang kepada Kyai Abbas; hal ini nyaris
hilang pada zaman sekarang di mana gelar Habib seringkali menempatkan
sebagian dzuriyât rasul pada kejumawaan sikap yang mengerikan. Bahkan
seorang Habib muda Jakarta pernah ramai diperbincangkan di sosmed saat
ia mengatakan, “kalau ketemu habib dan kyai kampung diutamakan cium
tangan sama habib dulu, baru kyai kampung.”
Innâlillâh… Jelas-jelas ghairu mutaaddib!
(Semoga melalui tulisan ini banyak Habaib yang belajar tawadhu’ dalam menghargai dan memuliakan para ulama non habaib).
Kiai Enha bersama Kiai Ade (paling kanan), Ustad Nemi, dan Ustad Zaki
Semuanya merupakan zurriyah Kiai Abbas
Hal
mengejutkan dari kisah Kyai Jaelani Imam adalah saat beliau menanyakan
asal usul saya dan sampai pada menyebut almarhum ayah mertua saya KH.
Hasbiyallah serta Alm KH. Ayatullah Saleh Klender dan Abuya KH. Zayadi
Muhajir (Pesantren Azziyadah). Subhanallah, ternyata sanad dan
silaturahmi keilmuan Kyai Kender juga sampai ke Buntet, tidak heran bila
banyak dari keluarga saya juga mengenyam pendidikan di Pesantren ini.
Saya dipesankan khusus oleh beliau untuk terus merawat silaturahmi
Klender-Buntet ini, Allahu Akbar, ini benar-benar kunjungan yang
mengurai sejarah panjang keilmuan para ulama di kampung saya.
Kiai Enha, di sampingnya ada Kiai Jaelani Imam beserta Kiai Nahdudin, Kiai Ade dan beberapa tamu
Buntet sebagai Masyarakat Pesantren
Alhamdulilllah
kembali saya ucapkan, saat tiba di rumah pusaka, tak dinyana bersua
Kang Ade, cucu Kyai Mustamid Abbas yang dulu bersama Kang Cecep nyantri
di Pesantren Ploso Kediri, ini reunian tak disengaja sesama santri
ploso. Saya baru tau juga beliau melanjutkan ke al-Azhar Cairo,
Alhamdulilllah lengkap deh kebahagiaan batin saya, sekaligus jadi
penyembuh sakit kepala yang sudah tiga hari ini menyerang.
Kang Ade,
menyebut di antara karomah pesantren Buntet ini adalah berdirinya 55
pesnatren yang nyaris tanpa direncanakan, sepertinya tiba-tiba saja
Allah kirimkan santri sehingga sekarang jumlah tercatat santri mencapai
3600 orang tidak termasuk santri kalong yang datang ke kediaman para
kyai untuk mengaji.
Saya ingin
menyebut Buntet sebagai “masyarakat pesantren”. Anda akan kesulitan
membedakan mana santri mana warga kampung, bukan hanya karena banyaknya
pesantren yang nyaris tanpa sekat dengan perumahan warga tapi semangat
belajar dan ibadah yang seirama, masyarakat sekitar pesantren adalah
juga para santri luar yang sangat menghormati ulama dan pesantren. Tidak
banyak pesantren yang melebur dan berbaur dalam spirit ibadah yang sama
antara santri dan warga kampung seperti di Buntet ini.
Suasana Menjelang Sholat Jamaah di Masjid Jami’ Buntet Pesantren
Akhirnya,
tak terasa sudah jam lima sore, matahari sudah bersiap kembali ke
peraduan, warna keemasan pertanda senja menjelang habis, terlukis indah
di langit Buntet, saya pamit pulang, membawa sejumlah kisah yang ingin
saya share ke teman-teman, semoga ada manfa’atnya, salam.
oleh Kiai
Enha (Nabil Harun) Haem, da’i sekaligus motivator, beliau juga pengasuh
dari Pondok Pesantren Motivasi Indonesia dan Istana Yatim Nurul
Mukhlisin Bekasi.
(Buntetpesantren/ Irma Andriyana)
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Bagikan ke:

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *