~ Gus Mus; Ra'is 'Aam Para Suami Idaman ~

~ Gus Mus; Ra'is 'Aam Para Suami Idaman ~

Oleh :Doni Febriando Redaktur Ahli Santrionline

Pada saat tulisan ini dibuat, Ra’is ‘Aam NU periode ini adalah Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri. Kalau Anda tidak kenal, mungkin panggilan “Gus Mus” lebih populer bagi Anda.

Sebutan “gus” pada dasarnya adalah sebutan anak kiyai yang masih bodoh. Anak kiyai akan dipanggil gus, jika ia belum mampu mengajar kitab kuning. Anak kiyai baru akan dipanggil kiyai juga, jika ia sudah mampu mengajar di pondok pesantren.

Beliau adalah kiyainya para kiyai, tapi di-gus-kan banyak orang. Beliau tidak marah sama sekali, karena beliau justru sangat ingin dianggap masih bodoh. Dalam ilmu tasawuf, pujian manusia itu seperti parfum. Memang semerbak harum, tapi haram hukumnya diminum. Sebagai seorang alim ulama yang menempuh jalan sufistik, itulah sebabnya beliau justru menikmati panggilan “Gus Mus”.

Memang salah satu ciri beliau, selain memiliki wajah bercahaya, adalah rendah hati. Meski adalah pemimpin sebuah organisasi kemasyarakatan terbesar di dunia (NU), dengan jumlah anggota yang ditaksir lebih dari 60 juta orang, beliau selalu mengaku hanya seorang sastrawan.

Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri memang ahli menyamar jempolan. Saat berkumpul dengan masyarakat awam sengaja menyebut nama Gus Dur, agar beliau juga dipanggil “gus”. Kemana-mana membawa secarik puisi, agar beliau dikira seorang sastrawan. Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri memang benar-benar pengikut sejati Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW juga senang menutupi kelebihan-kelebihannya. Dalam penulisan Piagam Madinah, kanjeng nabi ingin ditulis sebagai “Muhammad bin Abdullah” saja. Bahkan, saat bertemu dan menjadi imam shalat para nabi pendahulu, baginda rasul mengaku sebagai “hanya anak yatim”.

***

Di dalam urusan cinta, Gus Mus juga mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW. Sampai detik ini beliau hanya beristri Ibu Siti Fatma seorang.

Mungkin Anda sekalian bingung dengan pernyataan saya, tapi hal itu sangat saya maklumi. Banyak orang kini menganggap poligami adalah sunnah nabi, padahal tidak demikian. Nabi Muhammad SAW punya istri satu, iya. Nabi Muhammad SAW punya istri banyak, juga iya. Bingung?

Penting dicatat, Nabi Muhammad SAW monogami selama 25 tahun, hanya beristri Bunda Khaddijah seorang. Sedangkan Nabi Muhammad SAW berpoligami hanya sekitar 10 tahun saja, ketika istri pertama baginda rasul sudah meninggal. Dalam poligami itupun istri "muda" nabi kita adalah janda-janda. Ada yang sudah tua, ada yang gendut, ada yang hitam, ada yang sudah punya anak banyak. Cuma satu orang yang masih muda dan perawan.

Banyak orang Indonesia salah tangkap adalah karena tidak tahu sejarah, dan diperparah tidak paham konteks. Gula dan rasa manis itu berbeda. Gula memang manis, tapi rasa manis bukanlah gula. Bunga dan bau harum itu berbeda. Tidak mesti setiap bau harum adalah bunga. Sabun mandi juga wangi. Inilah yang disebut "memahami konteks".

Arab dan Islam sangatlah berbeda. Asal poligami dan bertujuan menolong juga sangatlah berbeda. Sunnah nabi bukanlah poligami, tapi memuliakan perempuan. Jadi, Gus Mus bisa dinilai masih mengikuti sunnah nabi, karena beliau memuliakan Ibu Siti Fatma. Seperti halnya kesetiaan cinta Nabi Muhammad SAW pada Bunda Siti Khaddijah.

Kalau diri kita hanya sanggup memuliakan satu perempuan saja, jangan ingin tambah istri. Kalau diri kita ingin menikah lagi karena sudah tidak terlalu cinta pada istri pertama dan sangat tertarik pada wanita lain, jangan cari-cari dalil agama untuk membungkus hawa nafsu.

Kita jangan sampai jadi orang yang suka mencari dalil agama untuk membenarkan hawa nafsu, bukannya mempelajari dalil agama untuk mencari kebenaran.

***

Mungkin di kehidupan sehari-hari Anda, pernah dijumpai seorang suami memukul istrinya atas nama agama Islam. Katanya, itu sesuai hadits shahih, dan sebagainya. Kita jangan langsung mempercayainya. Nabi Muhammad SAW pernah memberi resep tentang cara “menguji” agama Islam kepada orang awam; mintalah fatwa pada hati nuranimu sendiri.

Jika ada orang melakukan hal yang buruk dan mengatakan perbuatan itu adalah perintah agama, cobalah Anda sekalian minta fatwa pada hati nurani. Jika hati nurani Anda berontak, berarti Anda sedang ditipu. Mungkin hadits yang dibawa sahih semua, bahkan pakai ayat Qur’an, tapi pasti dalil-dalil itu sudah dimanipulasi. Entah ada yang dipotong, entah ada yang disembunyikan.

Kalau saya pribadi, karena saya juga orang awam, selain selalu minta fatwa pada hati nurani, saya punya resep lain. Kalau ada orang pakai surban sebesar ban truk dan jenggotnya sampai dada, tapi mengajari suatu ilmu agama yang bertentangan dengan hati nurani, saya pasti “lari” ke Gus Mus. Pasalnya beliau tidak belajar agama dari internet atau TV.

Sanad keilmuan Mbah Yai Mustofa Bisri jelas dan dapat dipertanggung-jawabkan. Setahu saya, rantai ilmu agama beliau hingga Nabi Muhammad SAW melalui sambungan 30 alim ulama, jadi Gus Mus lebih pantas dijadikan rujukan.

Berbeda dengan tabiat “orang pintar baru” masa kini. Ada yang mengatakan cukup merujuk Al-Qur’an dan Al Hadits langsung, dan berkata tidak usah pakai ulama-ulamaan. Biasanya orang tersebut akan tersesat. Orang yang belajar agama tanpa guru sejati, pasti orang itu akan dibimbing oleh setan. Maka dari itu, Anda jangan terlalu kaget bila ada orang yang hapal banyak dalil agama tapi suka memukul istri, mengkafirkan saudara seiman, atau menghina umat beragama lain.

***

Gus Mus tidak pernah memukul Ibu Siti Fatma. Jangankan itu, marah saja beliau tidak bisa. Sampai-sampai Mbah Yai Muhammad Ainun Nadjib pernah berujar, “Kalau ada orang marah, pasti orang itu bukan Gus Mus!”

Dalam kehidupan rumah tangga, tentu terkadang ada dinamikanya. Tidak ada bahtera rumah tangga yang tidak pernah terkena ombak samudera. Lantas, bagaimana cara Gus Mus “memarahi” Ibu Siti Fatma?

Salah satu santri kinasihnya beliau, Pak Timur Sinar Suprabana, pernah meriwayatkan cara marahnya Gus Mus pada istrinya.

Katau Gus Mus sedang “marah”, biasanya Gus Mus menjadi pendiam. Lalu, untuk menasehati Ibu Siti Fatma, beliau masuk kamar dan menulis. Gus Mus menulis tindakan-tindakan Ibu Siti Fatma yang tidak disetujui. Kemudian kertas tersebut disobek, diremas, lalu dibuang ke lantai. Setelah itu, Gus Mus sudah normal lagi, wajahnya menjadi sumringah kembali.

Biasanya Ibu Siti Fatma baru tahu Gus Mus “marah” ketika semua sudah selesai. Pasalnya, Ibu Siti Fatma baru tahu “kemarahan” Gus Mus ketika sedang menyapu, dan menemukan secarik kertas yang tengtlekuk di lantai kamar. Ibu Siti Fatma hanya tersenyum membaca secarik kertas berisi nasehat Gus Mus. Setelah dibaca, kertas itu lalu disapu.

Begitulah cara Gus Mus membina rumah tangga dengan Ibu Siti Fatma... Lembut sekali... Selalu harmonis, karena tidak pernah bertengkar hebat. Kalaupun harus marah, Gus Mus selalu melandasinya dengan kasih sayang. Bukannya “merayakan” kesalahan-kesalahan sang istri dengan memarahinya siang-malam. Marah karena cinta.

Maka dari itu, anak-anak Gus Mus sering menilai kedua orangtuanya seperti pengantin baru tiap hari. Selalu bulan madu. Tidak ada setitikpun nila di belangga cinta keduanya. Hal itu karena Gus Mus mencontoh Nabi Muhammad SAW dengan ilmu. Cahaya selalu berguru pada cahaya.

.
( repost tulisan lama, tahun 2014, efek nonton acara Mata Najwa edisi "Panggung Gus Mus", maaf jika tidak sempurna, semoga menginspirasi ... )

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "~ Gus Mus; Ra'is 'Aam Para Suami Idaman ~"

Post a Comment