Diorama Pesantren

Duduk, tepi di dekat jendela. Pagi sejuk saat itu menemani perjalananku  ke suatu tempat yang masih di rahasiakan orangtua.

Kunikmati perjalanan hingga aku lupa bahwa niatku adalah mendaftar sekolah baru.

Kusandarkan kepala pada jendela, akhirnya mobil tiba disuatu tempat yang kata ibu adalah tujuan utama kita. Aku turun. Ternganga, jantungku serasa terhenti sejenak. Rasanya seperti mimpi buruk. Selama beberapa detik mataku tak berkedip. Berdiri kaku terpaku di tempatku. Kuamati dan kubaca satu persatu huruf yang terpampang di gapura besar tanda selamat datang. Menarik nafas panjang, menyerah. Oh ternyata ini sekolah yang orangtuaku harapkan. Berada dalam jeruji suci selama tiga tahun mendatang. Bagaimana mungkin aku menolaknya saat itu. Ibu dan bapak memelukku erat. Menangis pasti, mulai hari itu aku sudah tidak tinggal lagi bersama mereka. Orangtua yang memanjakanku dengan fasilitas yang terpenuhi. Aku tak berkutik. Pasti ada maksud tersembunyi dibalik ibu dan bapak menyekolahkanku disini. Aku tersenyum kembali. Menatap gapura bertuliskan

" PP Sunan Pandanaran"

Kini, hidup asing yang akan kulalui segera dimulai. Kupijakkan kaki di tanah baru, tanah kedamaian penuh pesona islam. Kumulai dengan langkah kaki kananku. Memulai hidup baru yang sangat asing. Ini hidupku. Hidup yang sedang berjalan dengan hal baru disekitarku. Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua, semua terasa sama. Aturan baru, teman baru, kegiatan dan suasana baru yang berbeda untukku. Tapi semua bukan masalah. Perbedaan itu yang akan memberiku banyak hal. Disini, ada kisah tentang masa jayaku ketika menjadi santri, menjadi siswa, dan masa ketika aku bisa menikmati hidup indah dengan kawanku. Tidak cukup luas kamar yang aku tempati. Tapi semua terasa hangat saat hal baru mengisi ruangan itu. Kamar mandi yang bukan pribadi mengajariku menjadi seorang yang sabar karena harus bangun jam dua  pagi hanya untuk bisa mandi lebih awal. Ya, sangat berbeda. Tapi kita bisa menemukan hal baru yang belum aku ketahui sebelumnya. Berbicara tentang mandi, aku teringat saat saat menyebalkan. Aktivitas yang aku lakukan tiap pagi. Mengantri dan berlomba menjadi orang pertama yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Kalian tau? Agar aku mendapat giliran pertama. Soal makan? Hm, bukan masalah enak atau tidaknya. Kita juga tetap mengantri bahkan berebut hanya untuk mendapatkan sesuap nasi dan sayur. Tentang apalagi? Sebuah persahabatan indah kutemui di pesantren. Jujur, masih banyak kisah yang terngiang di bangunan kesucian itu. Dan mulai saat itu, aku selalu percaya. Hidupku pasti tidak akan monoton disini  bahkan ibu bilang, buah dari keprihatinan adalah sebuah kesuksesan yang menanti. Innama'al usri yusra. Kini aku bangga menjadi anak pesantren.

Oleh  : Yohanifa Ersha Aulia
Red :Abdul Wahab

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Diorama Pesantren"

Post a Comment