Demokrasi politik di Pesantren TebuIreng

Santrionline -Memasuki hari ke 3 dalam rangkaian acara workshop dan pelatihan penulisan santri oleh Pusat Studi Pesantren (PSP), panitia dan para peserta berziarah ke makam presiden RI IV Alm. KH. Abdurrahman wahid yang lebih akrab disapa Gus Dur sekaligus mengerjakan tugas praktek lapangan dan liputan yang telah tertera pada rundown kegiatan.
Pukul 08.15, Sabtu (2/4), para peserta berangkat dari hotel Yusro menuju lokasi pemakaman Alm. KH. Abdurrahman Wahid yang berlokasi di pesantren Tebuireng Jombang.
Tiba pukul 08.35, para peserta dan panitia penyelenggara harus berjalan kaki sekitar 800 meter untuk menuju ke komplek pemakaman KH. Abdurrahman Wahid.
Setiba di komplek pemakaman, tampak jelas gerbang agung dengan ornamen islam bak mihrab bergaya timur tengah. Direktur PSP dan KH. Dian Nafi’ pun mengisi daftar hadir sebagai perwakilan dari data pengunjung. Kemudian pembacaan tahlil sebagai ritual kirim do’a kepada Alm. KH. Abdurrahman wahid dan ahli kubur dipimpin oleh KH. Dian Nafi’.
Selesai pembacaan tahlil, panitia dan peserta berfoto bersama di area makam KH. Abdurrahman Wahid dan seketika itu pula, terdapat beberapa keunikan dalam komplek pemakaman. Diantaranya terdapat kuburan dengan tanda bendera merah putih diatas makam Alm KH. Yusuf Hayim dan Alm KH. Wachid Hasyim.
Siapa sangka di balik tebuireng Jombang terdapat perbedaan partai politik yang sangat kuat. Alm. KH. Yusuf Hasyim (paman Gus Dur) yang pernah mengasuh Pon-Pes Tebuireng sebelum periode Gus Sholah adalah berasal dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sedangkan Alm. KH. Abdurrahman Wachid sendiri berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Yusuf Hasyim lebih dikenal dengan sebutan Pak Ud adalah putra terakhir Alm. KH. Hasyim Asy’ari, alumni Pon-Pes Gontor. Pada waktu dipenjaranya KH. Zarkasyi (Pengasuh PP Gontor), Pak Ud lah yang berhasil mengeluarkannya. Dalam tradisi pesantren Tebuireng perbedaan partai merupakan hal yang biasa, karena sikap demokrasi telah tertanam betul di hati para santri Tebuireng.
“ya, berbeda politik itu wajar, kalo dalam politik mah Tebuireng demokrasi banget.  Keluarga ada yang PKS, ada yang Demokrat, Nasdem, ada yang PKB, Golkar, PPP dan lain-lain. Ya pada dasarnya politik itu cuman sebuah kendaraan untuk mencapai sebuah keberhasilan dakwah, kalo pun ada partai baru yang peluangnya banyak wajar kalo keluarga masuk kesitu”, Ujar salah satu juru kunci makam sekaligus santri dari Aceh bernama Teuku Azwani.
Itu semua adalah gambaran dari maqalah “ikhtilaful ummah rohmat”. Seberapa besar rohmat itu tergantung bagaimana kita mampu menyikapi perbedaan itu dengan baik.
(AS/HN)



(Suarapesantren/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Demokrasi politik di Pesantren TebuIreng"

Post a Comment