Cintai Negerimu, Damailah di Dalamnya


Santrionline -Tujuh puluh tahun kemerdekaan menyelimuti negeri ini. Semua itu berkat para pahlawan yang tanpa henti memerjuangakan hak kemanusiaan dan bangsa. Yang terlintas dalam benak mereka saat berjuang melawan para penjajah hanya satu, yaitu agar bangsa ini makmur dan tak disiksa oleh para kapitalis. Tak hanya merdeka yang bisa dirasakan oleh bangsa ini selama tujuh puluh tahun terakhir. Kekayaan yang berlimpah ruah, baik yang ada di perut bumi maupun yang ada di luar juga dapat dirasakan oleh penghuninya bahkan sebelum masa penjajahan berlangsung. Seolah kita memang ditakdirkan hidup di negeri yang memiliki kekayaan yang berlimpah ini. Hal demikian bisa kita buktikan, bahwa negeri ini benar-benar kaya adalah dengan adanya para kolonialis yang ‘jatuh cinta’ pada negeri ini. Bentuk jatuh cinta mereka pada negeri ini dengan cara menjajah, merebut hak rakyat dan bangsa. Belanda adalah salah satu penjajah yang amat cinta dengan negeri ini, sehingga mereka rela singgah di negeri ini hingga beratus-ratus tahun lamanya. Singgahnya mereka di  sini bukan untuk tinggal dan menjadi bagian bangsa Indonesia, melainkan merebut dan menjajah   demi membuat miskin negeri ini.

Kalau kita bandingkan dengan negara lain, misal yang ada di semenanjung Timur Tengah, Indonesia adalah negeri yang jauh lebih aman dan damai. Kalau kita saksikan, konflik di Timur Tengah sangat kontras dengan apa yang terjadi di negeri kita. Konflik korupsi, misalnya, itu tak ada apa-apanya dengan konflik perang saudara yang terjadi di Syuria. Dan bencana Alam yang terjadi di sebagian tempat di Indonesia, masih tampak musibah kecil bila kita melihat  konflik yang tak pernah usai di Palestina. Bayangkan, hampir setiap hari telinga mereka disibukkan oleh ledakan-ledakan bom yang meluluhlantakan negeri yang mereka cintai. Bahkan nasib hidup mereka bergantung pada ledakan-leadakan bom itu. Anak-anak kecil yang tak berdosa hingga para orang tua menjadi sasaran senjata yang mematikan. Hingga tak jarang, seorang anak yang masih gila-gilanya bermain, meninggal di usia yang cukup belia. Rumah-rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung, justru malah menjadi puing-puing yang berserakan yang tak lagi bernilai. Itulah sekelumit tragedi memilukan yang terjadi di negeri al-Aqso yang seolah tak pernah usai.

Sebagai penduduk negeri ini, sudah selayaknya berucap syukur tanpa henti, karena kita tak merasakan apa yang dirasakan saudara kita yang ada di Palestina. Kita tak mendengar bom sebagaimana yang mereka dengar, kita tak merasa ketakutan sebagaimana ketakutan mereka pada agresi-agresi darat maupun udara  yang dilancarkan oleh para zionis. Kita bisa bernapas lega. Kita bisa berbuat semaunya tanpa ada orang yang memata-matai. Tugas kita hanya satu, bersatu. Iya, meski negeri yang terkenal dengan kenyamanan dan kekayaan alamnya yang berlimbah, sayangnya sebagian penghuni negeri ini masih saja kolot dalam menyikapi perbedaan, terlebih perbedaan sekte (mazhab) di dalam tubuh Islam. Akibatnya, mereka saling benci-membenci, menuding dengan tudingan yang tak selakanya dilontarkan terhadap kelompok yang dirasa berbeda dengan apa yang diyakininya. Inilah salah satu kekurangan yang musti dibenahi. Bukankah perbedaan itu adalah ihwal yang wajar? Bukankah negeri ini dibangun oleh para pahlawan yang dilatarbelakangi perbedaan? Meski begitu, mereka tetap memiliki satu tujuan, yaitu memerdekakan bangsa dan negeri ini dari tangan penjajah. Tak ada salahnya kita mencontoh para pahlawan bangsa, meski ada perbedaan yang membentang di antara kita. Bukankah Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw adalah Islam yang rahmatan lil alamin?

Sejatinya, seorang muslim satu dengan yang lainnya itu bersaudara. Seperti yang difirmankan Allah Swt dalam kitab agung-Nya:
Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat (al-Hujurat: 10)
Berangkat dari ayat tersebut, menjalin hubungan persaudaraan adalah perihal yang penting. Negeri ini tak hanya tampak indah, bahkan dapat menjadi teladan bagi negara lain bila penghuninya mau mengamalkan ayat di atas, yaitu menjadikan muslim satu dengan lainnya sebagai saudara, saudara seiman.
Pusparagam adalah perihal yang indah, terlebih dalam tubuh Islam. Layaknya tanaman bunga, bila bunga-bunga itu hanya satu warna, maka tak memiliki nilai seni, tapi jika warna yang beragam menghisa bunga-bunga itu, maka itu akan membuat mata tak ingin memalingkan pandangannya, ia akan terus memandangnya tanpa pernah bosan. Karena perbedaan  itu saling lengkap-melengkapi anatar satu dengan lainnya. Maka itu, tak selayaknya muslim satu dengan lainnya saling mensesatkan atau bahkan mengkafirkan sekte yang tak sepeham dengannya. Rangkullah mereka, berdamailah bersama mereka tanpa memandang perbedaan yang ada. Marilah kita melangkah bersama demi perdamaian dan kemakmuran negeri ini, Indonesia. Dan Cintailah negeri ini, karena kecintaan kepada negeri merupakan bagian dari iman.

Karena bagaimanapun, kemerdekaan Indonesia yang terjadi tujuh puluh tahun lalu, dibangun oleh tangan-tangan pahlawan yang dilatarbelakangi oleh beragam  perbedaan.

(Suarapesantren/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cintai Negerimu, Damailah di Dalamnya"

Post a Comment