“Cerita Cintaku: Pesantren dan Maha Guru yang Membumikan Al Quran”

“Cerita Cintaku: Pesantren dan Maha Guru yang Membumikan Al Quran”

Namaku Dwi. Ketika aku mulai menulis catatan kenangan ini, anganku melayang pada hari-hari terindah yang kulalui beberapa tahun lalu.  Bahkan hampir sepuluh tahun berlalu sejak aku memutuskan untuk melanjutkan studi akademikku ke sebuah kota besar di propinsiku, Semarang. Namun meski sudah selama itu, tak lantas membuat memoriku samar apalagi terhapus. Semuanya masih terasa begitu dekat dan jelas. Betapa detik demi detik yang kulalui di sebuah pesantren Quran di sebuah kampung yang berada di  kabupaten dekat Pegunungan Sindoro Sumbing yang dingin dan hijau itu tak kan pernah kulupa hingga aku menua.

Tentu saja. Bagaimana bisa kulupakan pengalaman belajar yang indah disana. Pondok Pesantren Al Asy’ariyyah, Kalibeber, Wonosobo.  Aku menimba ilmu di di tempat itu sambil menempuh studi akademik di SMP dan SMA Takhasssus Al Quran, sekolah yang berdiri di bawah naungan Yayasan Al Asy’ariyyah. Yaysan tersebut menaungi lembaga pendidikan dari jenjang Paud  hingga Universitas. Keren kan?

Pendiri yayasan tersebut, sekaligus Pengasuh Pesantren semasa aku masih disana, bercita-cita membangun lembaga pendidikan berbasis Quran sejak lama. Beliau ingin membuat wadah pendidikan yang kelak bisa mencetak generasi bangsa berakhlak Quran dari jenjang pendidikan terendah hingga yang tertinggi setingkat Universitas. Dan mimpi mulia beliau kini sudah terwujud. Sungguh, betapa mulianya beliau.
Mbah Mun, begitulah kami, para santri sehari-hari memanggil beliau. Beliau adalah sosok yang sangat inspiratif bagi semua orang, khususnya kami, para santri dan keluarga besar yayasan, termasuk wali santri dan wali murid dari sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan. Beliau adalah Kyai, Ulama Quran, yang mencintai Quran dan membumikan Quran di negeri ini. Ya, tak hanya di Wonosobo, tapi juga di seantero negeri. Hal tersebut saya katakan karena alumni pesantren tersebar di seluruh negeri dan mereka lah tangan panjang dari beliau, yang turut menyebarkan ajaran-ajaran Quran, menyebarluaskan bibit-bibit cinta dan menumbuhkembangkan kecintaan pada al Quran. Tak sedikit santri-santri beliau yang juga menjadi tokoh-tokoh penting yang membangun daerahnya “dengan Quran”.

Masih kuingat betul salah satu pesan sederhana yang sarat makna dari beliau kepada  para santri bahwa

"APAPUN PROFESI KITA KELAK, APAPUN PEKERJAAN KITA NANTI, APAPUN DAN DIMANAPUN BOLEH, YANG PENTING HARUS BERAKHLAK QURAN".

Aku yakin pesan tersebut juga masih terpatri dengan jelas di benak para alumni lain. Dan semoga, dengan barokah Quran, Allah membantu kami untuk melaksanakan nasihat mulia tersebut.
Ya. Pondok Pesantren Tahfidzul quran Al Asy’ariyyah adalah sebuah pesantren berbasis  Quran yang menerapkan manajemen semi modern. Para santri tak diwajibkan menghafal Quran, kami diberi kebebasan memilih salah satu dari tiga kategori santri di sana. Yang pertama adalah kategori santri tahfidz, mereka memiliki program khusus menghafal. Yang kedua adalah santri salaf, mereka tidak menempuh sekolah formal melainkan menempuh pendidikan salafiyyah yaitu dengan program pengajian kitab kuning. Meskipun demikian, mereka berkesempatan melanjutkan pendidikan formalnya di Perguruan Tinggi milik yayasan tersebut yaitu Universitas Sains Al Quran (UNSIQ) dengan menggunakan ijazah program salafnya. Dan yang ketiga adalah santri umum, mereka tidak menghafal Quran, tidak juga full  fokus mengaji kitab kuning, akan tetapi mereka menempuh pendidikan formal dengan tetap mendapat pengajaran quran dan kitab kuning.

Aku adalah santri umum. Meskipun begitu, aku tak kehilangan kesempatan mempelajari quran dan kitab kuning. Karena selain kami mendapatkan hal itu di pesantren, kami juga mendapatkannya di sekolah. Di sinilah kehebatannya. Sekolah-sekolah di sana menerapkan pembelajaran berbasis Quran. Tak hanya sekadar formalitas pada mata pelajarannya yang berupa fiqih, hadits, aqidah akhlak, serta quran. Akan tetapi pendidikan keseharian yang para guru ajarkan juga adalah pendidikan berakhlak quran. Misalnya tentang peraturan pemakaian seragam yang tidak boleh ketat. Termasuk juga peraturan tentang larangan merayakan tahun baru masehi dengan hura-hura yang tidak ada manfaatnya.  Selain itu kesantunan dan penanaman akhlak yang baik juga sangat diperhatikan di sekolah ini. Aku ingat betul ketika libur tahun baru masehi beberapa minggu lalu Guru Bimbingan dan Konseling menyidak beberapa siswa yang merayakannya di Pantai Parangtritis, Jogja dengan bentuk perayaan yang melanggar akhlak santri-Quran.  Guru BK kami memberi perlakuan khusus dengan bimbingan pada siswa-siswa tersebut. Yang membuatku heran adalah, karena mereka melakukan hal itu di luar dari jam sekolah, bahkan pada hari libur, di luar kota pula. Sedemikian besar perhatian dan kepedulian Guru BK kepada mereka kah? Keren sekaliiiiii! Kalau Guru BK di sekolah-sekolah kalian bagaimana? Hehe. Inilah beberapa bentuk upaya sekolah menanamkan pendidikan pesantren di lingkungan sekolah. Keren kan? So, ayo nyantri! Ayo sekolah di sekolah-nya pesantren! ^_^
----------------------------------------------------------------

Ditulis dengan segenap cinta yang membuncah pada kenangan terindah tentang Al Maghfurlah Si Mbah Kyai H. Muntaha Al Hafidz dan perjuangan beliau membumikan al Quran di Kota Seribu Hafidz, Wonosobo.  ^_^ <3

Oleh : Anggraeni
Red :Abdul Wahab

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "“Cerita Cintaku: Pesantren dan Maha Guru yang Membumikan Al Quran” "

Post a Comment