AlHabib Jindan bin Novel bin Jindan: Tentang Taqirah Alawiyah



"Ya Ikhwan.. Antum disini banyak mendengar tentang ilmu agama, faidah-faidah, dan tentang thariqah salaf, maka antum pun dituntut di dalam syariat untuk mengamalkan dan menyampaikan ilmu yang telah antum dengar".
Na’am, terkadang kita harus melihat dari mana kita mendapatkan ilmu tersebut dan bersumber dari siapa ?
Sebab Sahabat Abdullah Ibn Abbas berkata,
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaknya kalian lihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Berhati-hati harus, dan bukan berarti sangka buruk, sebab barang siapa tidak berhati-hati dalam masalah ini dikuatirkan akan terjeblos.

Bahkan dalam shalat pun kita harus melihat siapa yang kita contoh, dalam hadist dikatakan,
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Dan sebaik-baik yang kita contoh adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,
tapi kita tidak melihat beliau,
habis bagaimana ?

Maka kita dapat melihat beliau melalui anak murid beliau yang belajar di Madrasah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu para sahabat yg mulia dan keluarganya.

Kita tidak sezaman dengan mereka juga,
bagaimana ini ?...

Akan tetapi secara turun-temurun kita dapat melihat dan mencontoh melalui guru-guru kita dan datuk-datuk kita yang sudah jelas berjalan di jalan mereka dari para ahlil bait (keturunan Rasulullah) dan pecinta-pecinta mereka.

Kita mengikuti jejak mereka (Rasul dan sahabat-sahabatnya serta ahlil baitnya) melalui Shohibul Maulid Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein AlHabsyi, ulama yang kita kenal dan dekat zamannya dengan kita, bersambung melalui beliau sampai kepada Habib Abdullah bin Husin bin Thohir, bersambung sampai kepada Al Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahar, sampai kepada Al Habib Ahmad bin Zein AlHabsyi sampai kepada Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, bersambung lagi sampai kepada Habib Umar bin Abdurrahman Alatas sampai kepada Fakhrul Wujud As Syekh Abubakar bin Salim, bersambung lagi sampai kepada Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman, sampai kepada Imam Abdullah bin Abubakar Alaydrus Al Akbar, sampai kepada Imam Abdurrahman As-Saggaf, lantas naik lagi kepada Sayyid Alwi Al Ghoyur sampai kepada Al-Faqihul Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy, sampai kepada Ahmad bin Isa Al-Muhajir, berlanjut lagi silsilah ini sampai kepada Ali Al-Uraidhi dari ayahnya Imam Ja’far Ash-Shadiq, dari Ayahnya Imam Muhammad Al-Baqir sampai kepada ayahnya Imam Ali Zainal Abidin bersumber dari ayahnya Imam Husein bersumber dari Imam Ali bin Abi Thalib (pintu kota Ilmu) dan Fatimah Az-Zahra sampai kepada Rasullullah shallallahu alaihi wasallam.

Maka bersambunglah kita kepada Rasulullah melalui mereka “rantaian emas” ini.
Dinamakan “Silsilah dzahabiyah” atau "Rantaian Emas" karena setiap mata rantai yang disebutkan disini merupakan keturunan Rasulullah (ahlil bait), juga ‘Alim, ‘Arif, Wali bahkan Qutub (pemimpin para wali setiap zamannya).

Dari sinilah Thariqah Ahlil Bait kita kenal. Dari sinilah islam menyebar, dan Thariqah merekalah yang dikenal sebagai Thariqah Alawiyyah, tanpa ada keraguan sama sekali ataupun penyimpangan dan pemalsuan.
Sebab thariqah mereka dikenal oleh setiap generasi dan diakui oleh ratusan ribu ulama dari tiap generasi akan kebenarannya, bahkan para wali Allah Ta’ala.

Dan apakah ada di muka bumi ini rantaian yang lebih mulia dan lebih terpercaya dan aman dari pemalsuan daripada rantaian ini ?...

Itulah sebabnya dinamakan sebagai “rantaian emas”.
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan
“tiada ilmu tanpa sanad”.

Imam Malik ra berkata:
“Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan
“Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan”
Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Tanda atau ciri seorang ulama tidak terputus sanad ilmu atau sanad gurunya adalah pemahaman atau pendapat ulama tersebut tidak menyelisihi pendapat gurunya dan guru-gurunya terdahulu serta berakhlak baik
Berkata Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad dlm hal ini :
ثبتوا على قدم الرسول و صحبه #
و التابعين لهم فسل و تتبع #
و مضوا على قصد السبيل إلى العلا #
قدما على قدم بجد أوزع #.

(arifan)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "AlHabib Jindan bin Novel bin Jindan: Tentang Taqirah Alawiyah"

Post a Comment