TITIK ASIMILASI NILAI

TITIK ASIMILASI NILAI

Para wali dan alim ulama' zaman dahulu begitu indah membedakan antara adat budaya pribumi dengan corak agama islami.
Para wali tidak mempertentangkan perbedaan namun menyatukan persamaan.
Sehingga di masyarakat tidak terjadi konflik namun tetap tentram dan guyup rukun.

Seperti halnya Sunan Kalijaga yg mendakwah dengan tembang dan wayangnya. Perlahan masyarakat islam dengan sendirinya.
Karena yang seperti itu jauh  lebih baik dari pada menganggap semuanya bit'ah dan melenceng dari ajaran Nabi. Namun yang ada malah merusak kerukunan, ketentraman dan mengurangi keyakinan masyarakat.

Karena Masyarakat itu sendiri terdiri dari berbagai macam-macam etnis, ormas dan suku. Para wali dan ulama tidak mencari perbedaan namun mencari persamaan agar tetap dapat di terima masyarakat dengan hati yang tulus. Karena dengan hati yang tulus Rahmat'Nya akan mudah menerangi jiwa.

Begitulah para wali dan alim ulama menyatukan perbedaan masyarakat dg persamaannya.
Karena para wali dan alim ulama mengikuti jejak Nabi sebagai pemersatu umat dengan landasan Rahmatan lil alamin :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِين

“Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil-’aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS Al Anbiya’ : 107).

Jangan karena perbedaan keyakinan, golongan, aliran suku bahkan etnis kemudian masyarakat di profokasi dan di pecah belah.

Karena yang demikian itu bukan Dakwah namun penyesatan...

#Santri sebagai pemersatu Negeri.

Oleh Isa Anshori

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TITIK ASIMILASI NILAI"

Post a Comment