Ta’dzim dan Ngalap Berkah


Berawal dari sebuah ketertarikan pada pesantren membuatku bermimpi untuk berganti status dari murid menjadi santri. Saat itu aku tengah duduk di bangku kelas 2 SMK Negeri 1 Banyumas. Sekolahku bersebelahan dengan pesantren Miftahussalam Banyumas. Saat jam istirahat seringkali ku mendengar senandung shalawat dari tembok pembatas sekolah yang bertepatan di sebelah kanan gedung kelasku.
Hari demi hari ku menyengaja mendekati suara tersebut, ku nikmati setiap alunan lagu dan iringan hadroh para santri. Semakin hari aku mulai suka dan aku merasa jatuh cinta. Ya ini pertama kalinya aku mengenal shalawat dan jatuh cinta padanya. Dan akhirnya setiap jam istirahat tiba, hal ini menjadi rutinitas wajib hingga ku duduk dibangku kelas 3.
Tidak ku kira ketertarikanku pada shalawat mengantarkanku pada ketertarikan yang lain. Aku menjadi tertarik pada agamaku menyadari bahwa selama ini ku merasa Islam hanya sebagai pakaian bagiku, yang seringakali ku mengenakan dan menanggalkanya sesuka hatiku. Ku merasa semakin tertarik pada Islam. Ku mulai rajin membaca buku-buku religi. Ku mengganti semua lagu di hand phone ku dengan lagu-lagu religi dan shalawat.
Setelah lulus SMK ku putuskan untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto. Karena pemahaman agama yang minim menjadikanku tidak lulus BTA (Baca Tulis Alquran) & PPI (Praktek Pengamalan Ibadah) dan mengharuskan mondok minimal 1 tahun. Teringat akan impian masa lalu, ternyata Tuhan mengijabah keinginan hati ini, meskipun selama ini tak terucap doa untuk mondok sama sekali.
Awal aku mengenal dunia pesantren, aku mengira di pesantren hanya mengaji kitab saja. Namun jauh dari yang ku fikirkan, disini aku menemukan dunia baru yang menggelitik keimananku. Ku mulai mengenal tradisi-tradisi santri dari ghozob, slorogan, setoran, ro’an, tadzim dan ngalap barokah. Dua hal yang terakhir inilah yang mengusik keimananku.
Tadzim dan ngalap berkah, kedua hal inilah yang selalu terngiang dibenakku ketika awal ku menginjakkan kaki di Pesantren Mahasiswa An Najah. Setiap Abah dan bu Nyai menyuruh sesuatu, kaka santri senior selalu bilang ngalap berkah. Apapun yang mereka lakukan selalu terkait kedua hal itu. Ta’dzim marang dawuhipun Kyai mugi angsal barakah.
Aku yang cenderung mempunyai pemikiran positivisme (menganggap segala sesuatu harus terlihat hasilnya dan nyata) merasa bingung mengartikan kedua hal tersebut. Aku semakin tertarik dan ingin mendalami makna keduanya. Dalam pikiranku selalu terlintas pertanyaan apa kaitanyya antara Ta’dzim dan ngalap berkah? Lantas apa manfaat adanya berkah dalam kehidupan? Ketiga hal itu terus berputar dalam pikiranku menggangguku setiap malam mengiringiku ke alam mimpi.
Sepertinya Tuhan Tahu kebingungan dan rasa penasaranku. Hingga akhirnya aku menemukan jawabanya dari penjelasan salah satu santri putra senior yang sedang membadali ustadz. Beliau menyampaikan bahwa,“sejatinya hidup adalah untuk mencari keberkahan. Apa gunanya hidup jika tidak berkah, tidak ada rasa bahagia ataupun ketenangan. Karena berkah adalah bertambahnya kebaikan dan kebaikan. Oleh karena itu setiap kita melakukan kebaikan niatkanlah dan berdoalah untuk mencari berkah. Agar bertambah nilai kebaikannya dan bertambah terus tanpa kau sadari. Sebagaimana ketika kalian diperintah oleh Abah Kyai, sekecil apapun perintahnya laksanakanlah dengan hati yang ridha niatkanlah untuk ta’dzim dan ngalap barokah. Tuhan kita tidaklah tidur, dia membalas setiap kebaikan kita meskipun itu seberat zahroh”.
Oleh : Reni

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Ta’dzim dan Ngalap Berkah"