Pesantren yang Tidak Berjarak dengan Masyarakat

Rembang.Santrionline -Pesantren lahir sebagai tuntutan peran untuk berbagi ilmu dengan masyarakat. Di samping itu, pesantren juga menjadi solusi bagi masyarakat sekitarnya. Sejak dahulu, Pesantren hadir dalam masyarakat untuk membangun pranata kebudayaan. Di sinilah, pesantren saat ini harus kembali pada semangat awal pendirian pesantren sebagai lembaga yang terbuka bagi masyarakat.

“Pesantren lahir sebagai tuntutan peran, untuk mentrasfer ilmu ke masyarakat, tapi juga membangun pranata kebudayaan. Kita ingin menjadikan Pesantren tidak berjarak dengan masyarakat,” demikian disampaikan Direktur Pusat Studi Pesantren Achmad Ubaidillah Dalam acara Workshop dan Pelatihan Penulisan untuk Santri berjudul Islam dan Tradisi Damai di Rembang, 25-29 Maret 2016.

Ubaidillah mengatakan bahwa Pesantren yang awal berdiri di Indonesia pada abad 17 adalah pesantren Karang di Pandeglang dan itu termashur pada waktu itu. Pesantren memposisikan dirinya sebagai center of exelent. Kebanggaan ini penting untuk dirawat karena pesantren mempunyai peran strategis.  Sejarah panjang tersebut, mengharuskan pesantren tidak menutup diri, namun membuka diri dan tidak berjarak dengan masyarakat.

“Pesantren menjadi pemikiran utama yang selalu kami bincangkan dan kita bertemu NGO lain, bahwa pesantren sangat kental dengan nuansa Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren harusnya tidak membangun tembok pembatas dengan masyarakat sekitarnya. Kiai bisa membangun solusi bersama masyarakat.  Kiai dan pesantren bisa menjadi tempat bertumpu masyarakat, bukan hanya pada keilmuan, tapi secara ekonomi. Pesantren hadir menjadi solusi di dalam masyarakat,” jelas Ubaidillah.

Sesuai kaidah al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” yang artinya memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Menjadi kaidah perlunya inovasi di dunia pesantren.

“Pesantren perlu mengembangkan inovasi untuk merespon perkembangan teknologi. Ada dunia klasik yang perlu dipelihara dan ada dunia kekinian yang perlu kita masuk di dalamnya. Seperti perkembangan teknologi, khususnya media sosial,” papar Ubaidillah.

Momentum Kebangkitan Nasional selalu memiliki isu dan konteks yang spesifik di setiap zamannya. Dalam setiap babakan sejarah itu pula, pesantren (kiai dan para santrinya) memiliki peran yang signifikan untuk mempertahankan kedaulatan tumpah darah Indonesia. Catatan sejarah membuktikan.

Pondok, Masjid, Kitab Kuning, Santri dan Kiai, adalah elemen yang sangat kuat sebagai variabel dalam dunia Pesantren, merujuk pada Tradisi Pesantren menurut Zamaksari Dlofir.  Maka santri, menurut Ubaidillah, harus menulis. Pelatihan ini, adalah upaya dari PSP dan Suarapesantren.net menularkan sebuah tradisi baik bagi santri untuk terus menulis dan membangun peradaban.

(Suarapesantren/ Irma Andriyana)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pesantren yang Tidak Berjarak dengan Masyarakat"

Post a Comment