Pesantren Mukhtariyyah As Syafiiyah sejak 1852 M

Jawa Timur.Santrionline - Pesantren Mukhtariyyah As Syafiiyah merupakan Pesantren yang didirikan Mbah Busyro Al Khafi yang waktu mudanya belajar selama 17 tahun di Mekah. Pendiri Pesantren ini merupakan ayahnya Mbah Soleh yang mempunyai istri yang bernasab dengan Mbah Maimoen di Pesantren Al Anwar Sarang Rembang. Pesantren ini sudah mempunyai sekolah Formal, tapi tetap menjaga tradisi baca kitab turost dengan membangun Pesantren Kidul di sebelah selatan pesantren.
Kiai Abdul Azis yang ditemui suarapesantren.net pada 29 Maret 2016 mengungkapkan bahwa dirinya meneruskan memimpin Pondok Kidul yang merupakan cabang dari Pesantren Mukhtariyyah As Syafiiyah di Beji Jenu Tuban Jawa Timur. Pesantren yang terletak di jalur Pantura Tuban ini disebelah Barat yang juga disebut sebagai Pondok Kidul atau sebelah Selatan, sedang pusatnya di sebelah Utara. Dalam bangunan klasik yang terbuat dari kayu berpilar empat itu, tertulis tahun 1852 Masehi di mana tempat itu merupakan tempat pengajian bagi para santri sejak zaman dahulu. Empat pilar tersebut menyimbolkan Khulafaur Rosidin, Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
kiai mukhtariyat assafiiyah
Kiai Abdul Azis menyusun Buku Majmu’ Busyro AlKhafi yang merupakan kitab kumpulan sholawat, rotibul khaddad, manaqib, doa, barzanji dan tercantum sanadnya yang tersambung sampai kepada Kiai Abdul Azis. Kitab ini dibuat untuk anak-anak pondok sebagai buku pegangan. Di pesantren ini yang terkenal salaf juga diajarkan Tafsir karangan Imam Nawawi Al Bantani.
Abdul Azis menyelesaikan kuliahnya di Saudi Arabia, namun walau demikian, tidak melupakan tradisi Salaf sebagai santri, yang tetap mengembangkan tradisi pesantren di Jawa. Ajaran leluhur yang mengembangkan Islam secara turun temurun dan sanadnya tersambung sampai saat ini menjadi kekuatan tersendiri dalam menjaga Tradisi Pesantren salaf yang baik. Menimba ilmu di Timur Tengah tidak melunturkan keyakinannya sebagai warga Indonesia menyebarkan Islam yang rohmatan lil alamin, Islam Nusantara. []

(SuaraPesantren/ Irma Andriyana)




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pesantren Mukhtariyyah As Syafiiyah sejak 1852 M"

Post a Comment